Headline.co.id, Jakarta ~ Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU) Ubaidillah Amin menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Penilaian itu disampaikan Ubaidillah di Jakarta, Selasa (20/10/2026). Menurut dia, MBG penting untuk mendukung pemenuhan gizi anak sekaligus menyiapkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Manfaat tersebut juga diperluas melalui keterlibatan petani dan peternak dalam penyediaan bahan pangan bagi program itu.
Ubaidillah mengatakan, MBG tidak hanya dirasakan penerima makanan, tetapi juga masyarakat yang berada dalam rantai pasok pangan. Ia secara khusus menyoroti manfaat program tersebut bagi santri yang sebelumnya belum tentu memperoleh pemenuhan gizi secara optimal.
“MBG sangat dirasakan manfaatnya oleh para santri. Sebelumnya, mungkin banyak santri di pesantren yang belum optimal dalam pemenuhan gizi. Hal ini teratasi dengan adanya program MBG yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto,” kata Ubaidillah Amin.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
MBG Buka Peluang Ekonomi di Desa
Menurut Ubaidillah, kebutuhan bahan pangan untuk mendukung MBG menciptakan peluang bagi petani dan peternak di berbagai daerah untuk memasarkan hasil produksi mereka. Kondisi itu dinilai dapat menghubungkan pemenuhan gizi masyarakat dengan penguatan ekonomi produktif di tingkat desa.
Ia menyebut keterlibatan produsen lokal berpotensi menciptakan efek berganda atau multiplier effect. Kebutuhan pangan dalam pelaksanaan MBG dapat mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi baru sekaligus memperluas kesempatan kerja di perdesaan.
Ubaidillah juga menilai peningkatan kebutuhan pasokan pangan dapat menjadi momentum bagi generasi muda untuk mengambil bagian dalam sektor pertanian dan peternakan. Kedua sektor tersebut, katanya, di sejumlah daerah masih banyak bergantung pada tenaga kerja berusia lanjut.
“Kami mengajak anak-anak muda di perkotaan yang selama ini harus melakukan urbanisasi untuk mempertimbangkan kembali ke desa. Dengan adanya MBG, lapangan kerja terbuka karena desa juga membutuhkan orang-orang yang mengelola pertanian dan peternakan, yang saat ini masih didominasi orang tua,” ujarnya.
Terbukanya peluang pasar melalui MBG, lanjut dia, dapat mendorong investasi di sektor pertanian dan peternakan. Jika dikelola secara berkelanjutan, kebutuhan pangan program itu dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi baru di perdesaan.
Pemerataan MBG Perlu Dibarengi Pembenahan
Meski menilai MBG memberi manfaat, Ubaidillah mengingatkan bahwa program berskala nasional tersebut membutuhkan evaluasi dan pembenahan secara berkelanjutan. Kekurangan dalam tahap implementasi, menurut dia, perlu dijadikan bahan perbaikan agar manfaat program semakin optimal dan dirasakan secara merata.
“Kalaupun ada kekurangan, itu wajar. Pembenahan pun ada, dan pembenahan harus terus dilakukan,” katanya.
Pemerintah juga menekankan pentingnya pemerataan pelaksanaan MBG, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta daerah dengan prevalensi stunting tinggi.
Memasuki dua tahun pemerintahan, arahan Presiden Prabowo Subianto adalah memastikan MBG diimplementasikan secara merata. Pelaksanaan program itu juga diarahkan untuk disertai perbaikan tata kelola dan penindakan tegas terhadap penyimpangan.
Data Penerima dan Pengawasan Jadi Perhatian
Salah satu pembenahan yang diperlukan adalah penertiban data penerima manfaat agar penyaluran MBG lebih akurat dan tepat sasaran. Data tersebut perlu divalidasi berdasarkan nama dan alamat atau by name by address (BNBA), kemudian diintegrasikan dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Data penerima manfaat mencakup siswa, santri, serta kelompok 3B, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Validasi dan integrasi data menjadi landasan untuk menentukan sasaran penerima sekaligus mengevaluasi dampak program secara terukur.
Selain pembenahan administrasi, pengawasan pelaksanaan MBG juga perlu diperkuat untuk mencegah penyimpangan. Upaya itu mencakup penindakan terhadap perantara maupun kerja sama oknum yang mengarah pada praktik korupsi.
Bagi Ubaidillah, keberlanjutan MBG harus ditopang pelaksanaan yang tepat sasaran, tata kelola transparan, dan keterlibatan masyarakat. Dengan perbaikan yang konsisten, program tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kualitas gizi generasi muda, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi desa yang lebih produktif.
“Melalui keterhubungan kebutuhan gizi, produksi pangan lokal, dan penciptaan lapangan kerja, MBG berpeluang menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia sekaligus mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Ubaidillah.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















