Headline.co.id, Jakarta ~ Resting heart rate (RHR) atau detak jantung istirahat menjadi angka yang ramai dipamerkan karena dianggap menunjukkan kondisi jantung yang lebih sehat. Padahal, RHR rendah tidak selalu berarti tubuh dalam kondisi lebih baik, terutama jika disertai gejala tertentu. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A Damay, menjelaskan bahwa RHR berkaitan dengan risiko penyakit jantung dan kardiovaskular serta kondisi metabolisme seseorang. Penjelasan itu disampaikan dalam artikel kesehatan yang dipublikasikan pada Jumat (16/10/2026) di Jakarta.
RHR merupakan jumlah detak jantung per menit ketika tubuh berada dalam kondisi rileks atau beristirahat. Angka ini bukan detak jantung saat seseorang sedang beraktivitas atau berolahraga.
RHR ideal berada di sekitar 60 bpm
Menurut Vito, angka RHR yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko penyakit jantung dan kardiovaskular yang juga lebih tinggi. Hubungan tersebut, kata dia, berkaitan dengan metabolisme tubuh.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Karena kalau dia [angka RHR] lebih tinggi, artinya sebenarnya risikonya [penyakit jantung dan kardiovaskular] lebih tinggi juga. Karena itu berkaitan dengan metabolisme,” ujar Vito dikutip dari Detik, Rabu (14/10/2026).
Ia menjelaskan, angka RHR ideal saat seseorang beristirahat berada di sekitar 60 denyut per menit atau beats per minute (bpm). Kondisi yang dimaksud ialah ketika seseorang sedang tidur atau tidak melakukan aktivitas.
“Ketika lagi tidur, lagi diam aja maksudnya, ya,” tuturnya.
Meski demikian, angka RHR dapat berada di bawah angka tersebut. Kondisi ini umumnya ditemukan pada atlet atau orang yang rutin melakukan olahraga, khususnya olahraga aerobik.
Vito menyebut RHR atlet dapat mencapai 40 atau 50 bpm ketika tidur. Menurut dia, angka tersebut tidak perlu dikhawatirkan apabila terjadi pada orang yang sangat rajin berolahraga.
“Kalau orang sangat rajin olahraga, marathon, atau rajin olahraga aerobik malah bisa 40 atau 50 bpm waktu tidur. Sangat rendah dan itu tidak apa-apa,” jelasnya.
Detak jantung istirahat bisa turun saat tidur
Secara umum, detak jantung dalam kondisi rileks atau beristirahat berada pada kisaran 60-100 bpm. Namun, angka tersebut dapat turun hingga 40 bpm ketika seseorang berada dalam kondisi tidur nyenyak.
Detak jantung yang stabil dikendalikan oleh sekelompok kecil sel di bilik kanan atas jantung. Mengutip laman Siloam Hospital, kelompok sel tersebut disebut nodus sinoatrial.
Nodus sinoatrial menghasilkan impuls listrik kecil yang membuat jantung berkontraksi. Kontraksi itu memungkinkan jantung memompa darah ke seluruh tubuh.
Secara umum, semakin rendah detak jantung istirahat seseorang, semakin sehat otot jantungnya. Jantung atlet atau orang yang sering berolahraga dapat memompa darah secara lebih efisien dibandingkan jantung orang lain, sehingga detak jantung istirahatnya dapat lebih rendah.
RHR rendah perlu diperhatikan jika disertai gejala
Meski RHR rendah dapat menjadi kondisi normal, detak jantung lambat tetap perlu mendapat perhatian dalam keadaan tertentu. Detak jantung lambat yang tidak disertai gejala pada dasarnya tidak perlu dikhawatirkan.
Kondisi tersebut sering ditemukan pada atlet dengan RHR serendah 40 bpm. Angka itu dapat dianggap normal karena jantung atlet atau orang yang rutin berolahraga bekerja lebih efisien dalam memompa darah.
Namun, penilaian berbeda diperlukan apabila detak jantung lambat disertai keluhan. Gejala yang perlu diperhatikan lain pusing, kepala terasa ringan, kelelahan, sesak napas, tekanan darah rendah, kebingungan, dan nyeri dada.
Tanda-tanda syok juga menjadi alasan untuk segera mendapatkan perhatian medis. Apabila detak jantung lambat disertai gejala-gejala tersebut, seseorang disarankan segera berkonsultasi dengan dokter.
Dengan demikian, angka RHR tidak dapat dinilai hanya dari rendah atau tingginya. Kondisi kesehatan, kebiasaan berolahraga, waktu pengukuran, serta ada atau tidaknya gejala menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam memahami angka detak jantung istirahat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.





















