Headline.co.id, Maros ~ Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mendorong penguatan kecakapan informasi masyarakat di tengah meluasnya akses internet dan perkembangan teknologi digital serta kecerdasan artifisial (AI). Pesan itu disampaikan saat berdiskusi dengan pegiat Sekolah Internet Komunitas (SIK) dalam kegiatan Rural ICT Camp 2026 di Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (13/9/2026). Menurut Nezar, konektivitas digital tidak cukup hanya ditandai tersedianya jaringan dan akses internet karena masyarakat juga perlu mampu memilah informasi. Kemampuan tersebut diperlukan agar masyarakat tidak mudah terpapar misinformasi dan disinformasi.
Kegiatan Rural ICT Camp 2026 diinisiasi Common Room dan didukung Relawan TIK Indonesia, Portkesmas, Combine Resource Institution (CRI), serta ICT Watch. Dalam forum itu, Nezar menilai perkembangan media sosial, algoritma, dan AI membuat kecakapan informasi masyarakat semakin penting.
Kecakapan Informasi Masyarakat Jadi Tantangan Era Digital
Nezar menjelaskan, kemudahan memperoleh informasi melalui telepon pintar berjalan beriringan dengan tantangan berupa arus informasi yang semakin besar dan cepat. Teknologi memungkinkan berbagai informasi dan narasi menyebar dalam waktu singkat, sehingga masyarakat dapat mengalami kesulitan membedakan fakta dari informasi yang tidak benar.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Teknologi mempercepat cerita-cerita itu menyebar sehingga kadang-kadang kita tidak bisa membedakan lagi mana yang benar, mana yang fakta,” ungkap Nezar Patria.
Ia mengatakan masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan berdasarkan fakta dari narasi yang menyesatkan. Peran komunitas, menurut Nezar, menjadi penting dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan tersebut.
“Penting sekali tugas kawan-kawan di komunitas untuk menangkal disinformasi dan misinformasi,” tegasnya.
Algoritma dan AI Membentuk Lingkungan Informasi
Nezar menyebut tantangan dalam memilah informasi semakin kompleks karena platform media sosial menggunakan algoritma yang membentuk lingkungan informasi berdasarkan kecenderungan dan perilaku pengguna. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih sering menerima informasi yang sesuai dengan pandangan atau kebiasaannya.
“Algoritma membentuk bilik gema, echo chamber, itu sekarang yang mengatur kita. Platform-platform membuat filter bubble,” jelasnya.
Menurut Nezar, situasi itu menunjukkan bahwa akses terhadap internet perlu disertai kapasitas masyarakat dalam menggunakan teknologi secara bijak dan produktif. Perluasan jaringan telekomunikasi tidak boleh berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi harus diikuti kemampuan pengguna dalam memahami serta menyaring informasi.
Komunitas Didorong Susun Kebijakan Lokal
Dalam kesempatan tersebut, Wamenkomdigi juga mendorong komunitas dan masyarakat adat memiliki strategi serta kebijakan lokal untuk menghadapi konten negatif. Strategi itu diperlukan untuk menyaring konten yang berpotensi bertentangan dengan nilai dan aturan yang berlaku di lingkungan masing-masing.
“Komunitas dan masyarakat adat perlu menyusun strategi dan kebijakan lokal untuk memfilter konten-konten negatif yang dilarang adat,” tutur Wamenkomdigi Nezar Patria.
Nezar mengaitkan perkembangan komunikasi manusia dengan perjalanan panjang kemampuan berbagi pengetahuan. Ia mencontohkan gambar dan simbol kuno di Taman Arkeologi Leang-Leang, Kabupaten Maros, yang menurutnya menunjukkan adanya aktivitas mengolah alam serta teknologi kapal yang digerakkan dengan dayung bersama.
“Di situ ada gambar seperti padi, berarti sudah ada tindakan mengolah alam, sudah ada teknologi kapal yang digerakkan dengan dayung bersama,” ujar Nezar.
Ia kemudian menyebut perkembangan komunikasi semakin pesat sejak manusia mengenal tulisan, penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada 1440, hingga hadirnya teknologi informasi dan konektivitas digital.
Konektivitas Harus Memberi Dampak Nyata
Nezar menegaskan pembangunan jaringan dan perluasan akses internet harus diarahkan agar memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Konektivitas digital, kata dia, tidak cukup hanya menghadirkan akses, tetapi harus menghasilkan dampak nyata.
“Konektivitas harus melahirkan meaningful connectivity, impactful connectivity, konektivitas yang bermakna, konektivitas yang berdampak. Itu yang semua kita inginkan,” tegasnya.
Dengan demikian, penguatan kecakapan informasi masyarakat menjadi bagian penting dari perluasan konektivitas digital. Masyarakat tidak hanya diharapkan dapat terhubung ke internet, tetapi juga mampu memanfaatkan akses tersebut untuk memperoleh dan berbagi informasi secara bijak serta produktif.

















