Headline.co.id, Jogja ~ Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Glucowrap, sandal pintar untuk membantu mendeteksi lebih awal perubahan kondisi kaki pada penderita Diabetes Melitus (DM) tipe 2 dengan gangguan saraf. Inovasi dari tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) itu telah menjalani pengujian kelayakan dan keamanan pada pasien DM tipe 2 di Klinik Korpagama, Yogyakarta. Pengujian dilakukan pada Selasa (15/9) dengan memanfaatkan sensor yang memantau tekanan, suhu, dan kelembapan kaki saat sandal digunakan. Data pemantauan kemudian ditampilkan melalui aplikasi ponsel dan dikelompokkan dalam kategori normal, risiko ringan, serta risiko tinggi.
Glucowrap dikembangkan untuk membantu pengguna mengenali perubahan kondisi kaki yang berpotensi tidak disadari akibat neuropati perifer. Gangguan saraf tersebut dapat menurunkan sensitivitas kaki sehingga penderita diabetes tidak selalu merasakan tekanan, gesekan, atau perubahan kondisi pada kaki.
Sensor Pantau Tekanan, Suhu, dan Kelembapan
Berbentuk sandal terbuka, Glucowrap dilengkapi sejumlah sensor untuk merekam kondisi kaki ketika digunakan. Informasi yang diperoleh dari sensor diolah dan dapat dilihat secara langsung melalui aplikasi di ponsel.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ketua Tim Glucowrap, Rina Putri Cahyati, mengatakan inovasi tersebut dikembangkan karena adanya risiko luka kaki diabetik pada penyandang diabetes. Menurut dia, kondisi yang tidak dikenali dan tidak ditangani sejak dini dapat berkembang menjadi luka yang lebih serius.
“Neuropati perifer dapat menurunkan sensitivitas pada kaki sehingga penderita terkadang tidak menyadari adanya tekanan, gesekan, atau perubahan pada kondisi kaki. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi luka yang lebih serius,” ungkap Rina.
Selain pemantauan, tim juga memperhatikan kenyamanan pengguna. Glucowrap menggunakan biotekstil berbahan serat bambu yang diproses dengan kitosan pada bagian yang bersentuhan dengan kulit. Material itu dikembangkan sebagai lapisan antibakteri sekaligus untuk membantu menjaga kondisi kaki.
Sandal tersebut juga dilengkapi fitur stimulasi thermal dan mikrovibrasi berintensitas rendah sebagai fitur pendukung kenyamanan selama penggunaan.
Pengujian Melibatkan Pasien di Klinik Korpagama
Dalam proses pengujian, pasien terlebih dahulu menjalani skrining menggunakan monofilamen Semmes-Weinstein 10 gram untuk melihat tingkat sensitivitas kaki sesuai dengan kriteria penelitian. Setelah itu, pasien menggunakan Glucowrap dan melakukan uji berjalan selama 15 menit untuk merekam data dari sensor.
Tim turut menguji fitur thermal dan mikrovibrasi, memeriksa kondisi kulit kaki setelah perangkat digunakan, serta meminta pasien mengisi kuesioner terkait kenyamanan dan kemudahan penggunaan perangkat maupun aplikasi.
Pelaksanaan pengujian didukung Klinik Korpagama melalui penyediaan fasilitas dan penjaringan pasien yang sesuai dengan kriteria penelitian. Protokol penelitian yang digunakan telah memperoleh kelaikan etik dari Komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.
Masih dalam Tahap Pengembangan
Hasil pengujian akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menyempurnakan purwarupa Glucowrap. Penyempurnaan mencakup desain, kenyamanan, dan kinerja sensor sebelum perangkat memasuki tahap pengujian serta pengembangan lebih lanjut.
Rina menegaskan Glucowrap belum ditujukan untuk menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis. Perangkat tersebut masih berfungsi sebagai alat bantu pemantauan kondisi kaki.
“Glucowrap saat ini masih kami kembangkan dan belum dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis. Perangkat ini kami rancang hanya sebagai alat bantu untuk memantau kondisi kaki,” tuturnya.
Tim Glucowrap berharap inovasi itu dapat dikembangkan menjadi perangkat yang praktis, terjangkau, dan mudah digunakan. Dengan demikian, penyandang diabetes dapat memantau kondisi kaki secara lebih dini dan melakukan perawatan sejak awal.
“Kami berharap Glucowrap bisa terus dikembangkan agar nantinya dapat menjadi perangkat yang praktis dan mudah digunakan, sekaligus membantu penyandang diabetes lebih sadar terhadap kondisi kaki dan melakukan perawatan sejak dini,” pungkas Rina.
Dikembangkan Mahasiswa Lintas Disiplin
Glucowrap dikembangkan oleh lima mahasiswa UGM dari sejumlah bidang keilmuan. Mereka adalah Rina Putri Cahyati dari Ilmu Keperawatan sebagai ketua tim, Hanif Abinawa dari Elektronika dan Instrumentasi, Mohammad Latif Ananda dari Program Studi Teknologi Rekayasa Elektro, Dhimas Early Oceandy dari Ilmu Komputer, serta Ulfan Syarif dari Kehutanan.
Tim tersebut didampingi Ir. Ma’un Budiyanto, S.T., M.T., IPU. Pengembangan Glucowrap memperoleh pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) melalui skema PKM bidang Karsa Cipta.




















