Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaksanakan survei Selat Sunda pada 14–25 September 2026 untuk memperkuat akurasi informasi cuaca dan kondisi laut. Kegiatan yang dipimpin Direktorat Meteorologi Maritim BMKG itu dilakukan di kawasan perairan Selat Sunda dengan mengumpulkan data meteorologi dan oseanografi secara langsung atau in-situ. Data tersebut digunakan untuk memverifikasi dan memvalidasi sistem observasi serta prakiraan BMKG. Penguatan observasi diperlukan karena Selat Sunda merupakan perairan strategis dengan dinamika atmosfer dan oseanografi yang kompleks serta menjadi jalur pelayaran penting.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan hasil survei diharapkan memberikan manfaat nyata bagi penguatan layanan operasional BMKG. Manfaat itu mencakup peningkatan kualitas observasi, prediksi, dan layanan meteorologi maritim bagi masyarakat serta aktivitas pelayaran.
“Selat Sunda adalah kawasan perairan yang sangat kompleks dan strategis. Informasi cuaca dan kondisi laut yang disampaikan BMKG memiliki peran penting dalam mendukung keselamatan pelayaran dan aktivitas masyarakat,” ujar Faisal saat melepas sekaligus memberikan pembekalan kepada Tim Survei Meteo-Oseanografi Terpadu Selat Sunda di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Data Survei Selat Sunda Jadi Pembanding Sistem BMKG
Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra menjelaskan, pengukuran langsung di lapangan akan menjadi pembanding bagi berbagai sistem observasi dan prakiraan yang dioperasikan BMKG. Data tersebut digunakan untuk mengevaluasi akurasi sistem sekaligus meningkatkan kualitas informasi yang dihasilkan.
“Salah satu aspek penting dalam verifikasi tersebut adalah pengukuran data secara in-situ. Data hasil survei akan digunakan sebagai pembanding sekaligus alat validasi terhadap sistem observasi dan prakiraan yang kami operasikan,” jelas Agie.
Salah satu sistem yang menjadi fokus verifikasi dalam survei Selat Sunda ialah High Frequency Radar (HF Radar). Sistem tersebut digunakan untuk memantau kondisi permukaan laut di kawasan perairan Selat Sunda.
Survei itu juga mendukung validasi sistem coupled ocean-atmosphere BMKG, INAWIS. Proses validasi dilakukan dengan membandingkan hasil pemodelan dengan pengamatan langsung di lapangan.
Menurut Agie, Direktorat Meteorologi Maritim sedang menyiapkan pengembangan generasi terbaru INAWIS secara mandiri atau in-house. Data yang diperoleh dari survei akan menjadi salah satu komponen penting dalam proses pengujian dan penyempurnaan sistem tersebut.
BMKG Gunakan Beragam Instrumen Pengamatan
Untuk memperoleh data lapangan, tim survei menggunakan sejumlah instrumen. Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) digunakan untuk mengukur profil arus laut berdasarkan kedalaman.
Tim juga memakai Spotter Buoy untuk memantau gelombang dan parameter permukaan laut. Selain itu, Current Meter digunakan untuk mengukur arus pada titik tertentu, sedangkan Portable Automatic Weather Station (PAWS) digunakan untuk mengamati parameter cuaca.
Dalam kegiatan tersebut, tim turut menguji prototipe Smart Autonomous Marine Sensing System atau Smart Buoy. Pengujian dilakukan melalui kolaborasi dengan Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG).
Prototipe Smart Buoy merupakan hasil kolaborasi riset Direktorat Meteorologi Maritim dan STMKG dalam pengembangan sistem observasi kelautan. Pengujian ini menjadi bagian dari pemanfaatan teknologi untuk memperkuat pengumpulan data kondisi laut dan cuaca.
Sebelum survei utama dilaksanakan, BMKG bersama STMKG dan Stasiun Meteorologi Maritim Merak telah melakukan survei pendahuluan pada 9–11 September 2026. Kegiatan pendahuluan tersebut meliputi pemetaan kondisi keamanan dan perairan, kesiapan teknis, serta koordinasi dengan pemangku kepentingan setempat.
Data Selat Sunda Diharapkan Dukung Sistem Peringatan Dini
Penguatan data di Selat Sunda dinilai strategis karena kawasan tersebut berada di sekitar Gunung Anak Krakatau. Data meteorologi dan oseanografi yang lebih akurat dapat melengkapi informasi mengenai kondisi atmosfer, laut, dan aktivitas vulkanik di kawasan itu.
Agie berharap hasil survei dapat mendukung integrasi data meteorologi, oseanografi, geofisika, dan vulkanologi dalam kerangka Multi-Hazard Early Warning System (MHEWS).
“Selat Sunda memiliki karakteristik oseanografi yang unik dan berada dekat dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Karena itu, penguatan observasi terpadu sangat penting untuk mendukung keselamatan maritim dan peningkatan kualitas layanan informasi BMKG,” ungkapnya.
Melalui survei tersebut, BMKG memperkuat keterpaduan observasi lapangan, pemodelan, dan teknologi. Langkah ini diarahkan untuk menghasilkan informasi meteorologi dan oseanografi yang semakin akurat dan andal bagi masyarakat serta aktivitas pelayaran.



















