Headline.co.id, Kulon Progo ~ Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Intoco (Integrated Tempering Operation with Cooling Heating Control) untuk membantu Kelompok Wanita Tani (KWT) Pawon Gendis mengatasi kendala tempering cokelat. Inovasi tersebut dikembangkan bagi KWT Pawon Gendis di Dusun Salakmalang, Kalurahan Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Intoco dirancang untuk mengintegrasikan pemanasan dan pendinginan dalam satu perangkat serta memantau suhu secara real-time. Pengembangan alat ini dilakukan karena proses tempering manual membutuhkan waktu hingga 60 menit dan berisiko menyebabkan kegagalan produksi hingga 40 persen.
KWT Pawon Gendis memanfaatkan potensi komoditas kakao di Kulon Progo untuk diolah menjadi produk cokelat bernilai jual. Namun, proses produksi masih menghadapi persoalan pada tahap tempering atau pemanasan cokelat.
Selama ini, pemanasan dan pendinginan dilakukan secara manual serta terpisah. Kondisi tersebut membuat kestabilan suhu sulit dikendalikan. Di sisi lain, alat tempering yang tersedia di pasaran dibanderol sekitar Rp30 juta sehingga belum mudah dijangkau pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Intoco Integrasikan Pemanasan dan Pendinginan
Tim PKM-PI UGM mengembangkan Intoco sebagai alternatif teknologi yang lebih aplikatif bagi pelaku UMKM. Alat tersebut menggabungkan sistem pemanasan dan pendinginan dalam satu perangkat, dilengkapi pemantauan suhu secara langsung.
Ketua Tim PKM-PI, Muhammad Fajar, mengatakan pengembangan Intoco berangkat dari kebutuhan mitra terhadap proses tempering yang lebih efisien dan mudah dikendalikan. Integrasi sistem pemanasan dan pendinginan memungkinkan proses tempering dilakukan dengan pemantauan suhu secara langsung.
“Melalui Intoco, proses tempering dapat dilakukan dengan suhu yang lebih terkontrol dan waktu yang lebih efisien, sehingga membantu mitra meningkatkan konsistensi kualitas serta hasil produksi cokelat,” ujarnya, Senin (14/9).
Intoco dikembangkan melalui kolaborasi mahasiswa lintas disiplin UGM. Tim tersebut terdiri atas Muhammad Fajar, Aziz Dafa Fadillah, dan Samuel Panji Sri Wijaya dari Teknologi Rekayasa Mesin; Hanum Rahma Nurfadila dari Ilmu Tanah; serta Nagita Selviana dari Ekonomi Pertanian dan Agribisnis.
Tim mahasiswa itu berada di bawah pendampingan Ir. Irfan Bahiuddin, S.T., M.Phil., Ph.D., IPM, ASEAN Eng., dosen Sekolah Vokasi UGM.
Gunakan Peltier, Mixer Otomatis, dan Monitor Suhu
Anggota Tim PKM-PI, Aziz Dafa Fadillah, menjelaskan Intoco menggunakan sistem pendingin dan pemanas berbasis Peltier yang didukung radiator. Alat tersebut juga dilengkapi mixer otomatis yang digerakkan motor serta layar monitor untuk memantau suhu secara real-time.
“Mekanisme tersebut dirancang untuk membantu menjaga kestabilan suhu sekaligus menghasilkan proses pencampuran yang lebih merata, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada proses manual dan meningkatkan efisiensi waktu pengolahan cokelat,” katanya.
Pengoperasian Intoco diawali dengan memasukkan pasta nibs ke dalam wadah. Setelah itu, mixer dipasang pada dudukan pengaduk. Pengguna kemudian menyalakan mesin melalui saklar utama dan memilih menu “Temper” pada layar monitor.
Selanjutnya, pengguna memilih jenis cokelat yang akan diproses, yakni milk atau dark, lalu menekan tombol “Konfirmasi”. Sistem akan menjalankan tahapan tempering secara otomatis berdasarkan pembacaan suhu dari sensor secara real-time hingga proses selesai.
Dengan mekanisme tersebut, pengguna tidak perlu melakukan pemanasan dan pendinginan secara terpisah. “Pemantauan suhu yang dilakukan secara langsung juga membantu proses tempering berjalan lebih terukur sesuai tahapan yang telah dirancang oleh tim,” kata Aziz.
Diharapkan Kurangi Kegagalan Produksi
Dosen pendamping PKM-PI, Ir. Irfan Bahiuddin, menyampaikan pengembangan Intoco memadukan aspek rekayasa mesin, pengolahan pangan, dan pengelolaan usaha. Kolaborasi itu diarahkan untuk menjawab kebutuhan mitra sekaligus meningkatkan efisiensi dan konsistensi proses tempering cokelat.
“Melalui inovasi ini, kami berharap Intoco dapat membantu mitra mengoptimalkan proses produksi, mengurangi tingkat kegagalan, serta mendorong pemanfaatan teknologi dalam pengembangan usaha cokelat,” tuturnya.
Pengembangan Intoco memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia serta UGM. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan teknologi tepat guna untuk menjawab kebutuhan pelaku usaha di tingkat lokal.
Tim UGM berharap Intoco tidak hanya bermanfaat bagi KWT Pawon Gendis, tetapi juga dapat menjadi alternatif teknologi bagi pelaku usaha cokelat lainnya. Integrasi pemanasan, pendinginan, pengadukan, dan pemantauan suhu dalam satu sistem diharapkan membantu UMKM mengoptimalkan produksi serta menghasilkan cokelat dengan kualitas yang lebih konsisten.


















