Headline.co.id, Halmahera Barat ~
Abu vulkanik Gunung Semeru dan Gunung Lewotolo masih terdeteksi pada Jumat (11/9/2026) pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau sebaran tersebut melalui analisis citra RGB Himawari-9 pada pukul 07.00 WIB. Abu vulkanik Gunung Semeru bergerak ke arah tenggara dan mencakup sebagian Kabupaten Lumajang, sedangkan abu dari Gunung Lewotolo bergerak ke arah barat hingga mencakup sebagian Kabupaten Lembata.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan, keselamatan, dan aktivitas transportasi. Masyarakat juga diminta mengikuti perkembangan informasi resmi untuk mengurangi risiko akibat sebaran abu.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Abu Vulkanik Semeru dan Lewotolo Masih Terpantau
Berdasarkan pemantauan BMKG, debu vulkanik Gunung Semeru terdeteksi mulai dari permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,5 kilometer. Sebaran abu tersebut bergerak ke arah tenggara dan mencakup sebagian wilayah Kabupaten Lumajang.
Sementara itu, debu vulkanik Gunung Lewotolo terdeteksi hingga ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,1 kilometer. Abu bergerak ke arah barat dan mencakup sebagian wilayah Kabupaten Lembata.
BMKG tidak mendeteksi sebaran debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau, Gunung Dukono, dan Gunung Ibu berdasarkan pemantauan satelit tersebut. Namun, kondisi itu tidak serta-merta menunjukkan tidak adanya debu vulkanik karena analisis citra satelit dapat terhalang tutupan awan.
Cuaca Berpotensi Memengaruhi Jarak Pandang
Selain memantau sebaran abu, BMKG memperkirakan kondisi cuaca di sekitar sejumlah gunung api. Wilayah Gunung Anak Krakatau dan Gunung Dukono diprakirakan mengalami cuaca cerah berawan hingga berawan tebal sepanjang hari.
Di Gunung Ibu, hujan ringan berpotensi terjadi pada pagi hari. Kondisi kemudian berubah menjadi berawan tebal hingga dini hari.
Wilayah Gunung Lewotolo diprediksi berawan tebal pada pagi hingga siang hari dan berangsur cerah berawan pada malam hari. Adapun kawasan Gunung Semeru diprakirakan berawan tebal pada pagi hari serta berpotensi mengalami kabut mulai siang hingga dini hari.
BMKG menyebut kondisi cuaca tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi jarak pandang dan aktivitas masyarakat maupun transportasi di wilayah terdampak.
Dampak Abu Vulkanik terhadap Kesehatan dan Transportasi
Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan, seperti iritasi mata dan kulit serta batuk. Abu vulkanik juga dapat memperburuk kondisi orang yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak diminta membatasi paparan langsung dan mengikuti informasi mengenai perkembangan sebaran abu. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan debu vulkanik.
Dari sisi transportasi, debu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko keselamatan berkendara. Sebaran abu juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan dan pelayaran.
Imbauan BMKG kepada Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di sekitar Selat Sunda Barat Pandeglang, sebagian Kabupaten Lembata, Selat Flores–Lamakera, sebagian Kabupaten Halmahera Barat, Halmahera Utara, Kabupaten Pulau Morotai, serta Perairan Barat Daya dan Barat Laut Morotai, agar tidak panik dan tetap mengikuti perkembangan informasi resmi.
Masyarakat diminta memantau informasi yang telah terverifikasi serta mematuhi arahan BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)/Badan Geologi, dan pemerintah setempat. Informasi resmi tersebut menjadi rujukan untuk mengurangi risiko kesehatan, keselamatan, maupun gangguan aktivitas akibat sebaran debu vulkanik.
















