Headline.co.id, Jakarta ~ PT MRT Jakarta (Perseroda) membidik kawasan Kota Tua dan Glodok sebagai pengembangan berikutnya setelah Blok M dengan memanfaatkan konsep transit-oriented development (TOD) dan placemaking. Kawasan di sekitar stasiun MRT Jakarta nantinya tidak hanya difungsikan sebagai titik transit, tetapi juga diarahkan menjadi pusat aktivitas ekonomi, retail, komunitas, pariwisata, dan ruang publik. Pengembangan tersebut berjalan seiring pembangunan lintasan menuju kawasan tersebut yang ditargetkan rampung pada akhir 2029.
MRT Jakarta menilai Kota Tua dan Glodok memiliki karakter kuat yang dapat menjadi modal utama dalam membangun kawasan ekonomi baru. Identitas sejarah, kawasan pecinan, aktivitas perdagangan elektronik, hingga bangunan peninggalan kolonial akan dipertahankan dan dikombinasikan dengan aktivitas komersial serta komunitas.
Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta Pranowo, mengatakan pengembangan kawasan dilakukan agar area di sekitar stasiun MRT Jakarta tidak berhenti sebagai ruang fisik, tetapi terus hidup dan menghasilkan aktivitas ekonomi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Lalu kami juga mengembangkan bisnis TOD, area di sekitar stasiun, yang salah satunya Blok M tadi. Dan mudah-mudahan segera area Kota Tua, itu akan kami revitalisasi juga,” ujar Samuel dalam paparan bertajuk “Mengembangkan Kawasan sebagai Platform Kolaborasi dan Aktivasi” dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (9/9/2026).
Identitas Kota Tua Tetap Dipertahankan
Samuel mengatakan revitalisasi Kota Tua tidak akan menghilangkan identitas kawasan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Karakter heritage, pecinan, hingga nuansa bangunan peninggalan kolonial akan menjadi bagian penting dalam pengembangan placemaking di kawasan tersebut.
“Heritage Chinatown-nya, Little Amsterdam-nya itu tidak hilang, tapi tetap areanya akan dibuat hidup dengan kombinasi retail, komunitas, dan lain sebagainya,” katanya.
Menurut Samuel, konsep placemaking menekankan pentingnya sebuah kawasan memiliki identitas atau sense of place. Artinya, pembangunan tidak hanya berorientasi pada penataan fisik, tetapi juga pada penciptaan pengalaman yang membuat masyarakat memiliki alasan untuk datang dan kembali.
“Placemaking ini sebetulnya kata kuncinya a sense of place-nya. Jadi suatu tempat itu harus punya suatu makna atau suatu tema, dan harus inklusif, bisa untuk siapa pun,” kata Samuel.
Glodok Bisa Hidup dari Karakter Perdagangan Elektronik
Selain Kota Tua, MRT Jakarta melihat Glodok mempunyai karakter ekonomi yang dapat diperkuat dalam pengembangan kawasan.
Glodok selama ini dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan elektronik di Jakarta. Menurut Samuel, aktivitas tersebut masih memiliki daya tarik meski transaksi digital berkembang pesat.
Pengalaman konsumen dalam mencoba produk secara langsung dinilai tetap menjadi keunggulan perdagangan fisik.
“Kalau mau beli sound system, mau nyoba suaranya dulu, nah ini yang kembali ke humanity tadi,” ujarnya.
Karakter perdagangan tersebut berpotensi dikombinasikan dengan aktivitas komunitas, kuliner, pariwisata, serta retail sehingga kawasan tidak hanya ramai pada jam perdagangan, tetapi juga mempunyai daya tarik lebih luas.
TOD MRT Jakarta Mencakup Radius 800 Meter
MRT Jakarta telah memetakan karakteristik kawasan di sekitar stasiun yang akan dibangun.
Samuel mengatakan cakupan TOD MRT Jakarta berada dalam radius sekitar 800 meter dari stasiun. Masing-masing wilayah akan dikembangkan sesuai karakter lokal agar tidak mempunyai konsep yang seragam.
“Kita sudah memetakan karakteristik stasiun di saat membuat jalur baru. TOD kami, kan, cakupannya 800 meter, itu sebetulnya sudah terpetakan masing-masing daerah itu karakteristiknya apa,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut berarti pengembangan Kota Tua, Glodok, Blok M, maupun kawasan lain akan memiliki identitas berbeda.
Samuel mencontohkan kota-kota di Jepang. Kawasan Akihabara dikenal dengan budaya anime dan barang hobi, sementara Shinjuku identik dengan pusat perdagangan dan perbelanjaan modern.
“Banyak pelaku placemaking kini bergerak untuk menciptakan kawasan dengan suatu jiwa. Jadi tidak cuma membentuk kawasan, tapi di situ harus punya tema dan daya tarik uniknya,” imbuh Samuel.
Kawasan Stasiun Didorong Jadi Ruang Ketiga
Dalam pengembangan tersebut, MRT Jakarta menggunakan konsep “ruang ketiga”.
Samuel menjelaskan ruang ketiga merupakan tempat masyarakat menjalankan aktivitas setelah rumah dan tempat tujuan utama seperti kantor.
“Ruang ketiga ini sebetulnya tempat kita sehari-hari setelah rumah dan tempat tujuan kita. Jadi setelah kita dari rumah ke kantor, apa nih ruang ketiga supaya kita bisa mengekspresikan diri,” jelasnya.
Konsep tersebut diarahkan agar masyarakat tidak hanya menggunakan kawasan stasiun untuk berpindah moda transportasi.
Kawasan diharapkan menjadi tempat untuk bertemu, makan, berbelanja, menikmati event, mengikuti aktivitas komunitas, atau sekadar menghabiskan waktu.
MRT Jakarta telah menerapkan konsep serupa di Blok M. Kawasan tersebut dikembangkan sebagai urban youth hub dan kembali menjadi salah satu pusat aktivitas anak muda perkotaan.
Aktivitas Kawasan Berpotensi Gerakkan Ekonomi
Pengembangan Kota Tua dan Glodok juga berkaitan dengan strategi MRT Jakarta memperluas aktivitas ekonomi di sekitar stasiun.
Berdasarkan studi Stanford University yang dirujuk MRT Jakarta, kegiatan ekonomi kreatif dan MICE dalam kawasan placemaking diperkirakan dapat menghasilkan multiplier effect sekitar empat hingga lima kali dari nilai transaksi utama.
Sebagai ilustrasi, kegiatan dengan nilai transaksi Rp10 miliar berpotensi menghasilkan dampak ekonomi kawasan sekitar Rp40 miliar hingga Rp50 miliar.
“Pemprov DKI yang menilai dampak dari placemaking ini sebetulnya tidak hanya di kegiatannya, kawasannya, tapi dalam satu kawasan itu transaksinya meningkat seberapa besar,” ujar Samuel.
Dampak ekonomi dapat muncul dari belanja makanan, transportasi, penginapan, retail, hingga kegiatan lain yang dilakukan pengunjung sebelum maupun setelah acara.
Samuel juga menyebut salah satu festival yang mencakup satu kawasan diperkirakan memberikan dampak ekonomi sekitar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar.
“Salah satu event festival yang mencakup satu kawasan, kami sudah interpolasi sehingga kurang lebih dampaknya itu sekitar Rp20 miliar sampai Rp30 miliar saat festival itu terjadi,” katanya.
UMKM Dilibatkan dalam Ekosistem Kawasan
Pengembangan kawasan juga diarahkan tetap inklusif bagi pelaku usaha skala kecil.
MRT Jakarta mencatat jumlah UMKM yang menjadi tenant di berbagai ruang yang dikelolanya telah mendekati 500.
Samuel menekankan bahwa placemaking tidak boleh hanya menjadi ruang bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke atas.
“Jadi suatu tempat itu harus punya suatu makna atau suatu tema dan harus inklusif, bisa untuk siapapun tidak cuma untuk kaum segmen menengah ke atas, namun menengah ke bawah juga. Dia harus inklusif untuk semua masyarakat,” tegasnya.
Prinsip tersebut akan tetap digunakan dalam pengembangan kawasan baru.
“Itu memang akan selalu dijaga oleh MRT, bahwa kami adalah placemaking yang inklusif. Prinsip utamanya di MRT juga bahwa semua segmen harus diakomodasi, no one left behind,” tandas Samuel.
Pengembangan Kawasan Jadi Bagian Bisnis Non-Tiket
Transformasi kawasan di sekitar stasiun juga menjadi bagian dari strategi Business Beyond Normal MRT Jakarta.
Perusahaan tidak hanya mengandalkan pendapatan dari perjalanan penumpang, tetapi mengembangkan sejumlah bisnis lain seperti TOD, retail, layanan digital, pembayaran, pariwisata, event, komunitas, hingga konsultasi perkeretaapian.
PT MRT Jakarta membukukan pendapatan Rp1,5 triliun sepanjang 2025 atau meningkat sekitar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan itu didorong peningkatan jumlah pengguna serta kontribusi bisnis non-farebox.
Sepanjang 2021-2025, pendapatan tiket MRT Jakarta mencatat rata-rata pertumbuhan 50,4 persen per tahun. Sementara itu, pendapatan keseluruhan perusahaan tumbuh rata-rata 2,3 persen per tahun.
Pengembangan kawasan seperti Kota Tua dan Glodok menjadi salah satu cara MRT Jakarta memperluas basis ekonomi di luar layanan transportasi.
Dengan pendekatan tersebut, stasiun tidak lagi diposisikan hanya sebagai tempat penumpang naik dan turun kereta. Kawasan di sekitarnya disiapkan menjadi pintu masuk menuju pusat aktivitas ekonomi baru yang menggabungkan transportasi, perdagangan, wisata, komunitas, dan identitas lokal.

















