Headline.co.id, Jakarta ~ Nilai tukar rupiah menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu, 9 September 2026, didukung pelemahan dolar AS di pasar global serta derasnya arus modal masuk ke pasar obligasi pemerintah. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,71 persen ke level Rp17.500 per dolar AS, menjadi posisi penutupan terkuat dalam hampir 17 pekan terakhir. Penguatan juga terjadi ketika sentimen domestik membaik, terutama setelah keyakinan konsumen Indonesia meningkat pada Agustus 2026.
Nilai tukar rupiah telah bergerak positif sejak pembukaan perdagangan dengan penguatan 0,31 persen ke Rp17.570 per dolar AS. Mata uang Garuda kemudian melanjutkan apresiasi dan sempat menyentuh posisi Rp17.490 per dolar AS sebelum akhirnya menutup perdagangan di sekitar level terkuatnya sejak pertengahan Mei 2026.
Penguatan nilai tukar rupiah juga tercermin pada sejumlah indikator pasar lainnya. Di pasar spot, rupiah tercatat menguat Rp121 atau 0,69 persen menjadi Rp17.511 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.632 per dolar AS, sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menguat menjadi Rp17.552 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.618 per dolar AS.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Arus Modal Masuk Dorong Penguatan Rupiah
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan faktor domestik menjadi salah satu pendorong utama penguatan rupiah, terutama setelah terjadi peningkatan aliran dana ke pasar surat utang pemerintah.
“Rupiah pada perdagangan hari ini menguat dipengaruhi oleh faktor domestik arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi pemerintah,” kata Rully di Jakarta, Rabu.
Arus modal yang masuk ke pasar obligasi tercatat meningkat sekitar 90,5 juta dolar AS. Aliran dana tersebut dipengaruhi membaiknya defisit anggaran dan penerimaan pajak, serta selisih imbal hasil atau spread yield obligasi pemerintah Indonesia yang masih lebar dibandingkan obligasi pemerintah negara lain.
Kondisi tersebut membuat aset berdenominasi rupiah tetap memiliki daya tarik bagi investor. Pada saat yang sama, kenaikan inflasi AS yang berlanjut dinilai mengurangi daya tarik obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Penguatan rupiah di pasar spot bahkan menjadi yang paling tajam sejak 11 Agustus 2026. Rupiah juga telah mencatatkan penguatan selama lima hari perdagangan berturut-turut dan mencapai posisi terkuatnya dalam hampir empat bulan terakhir.
Dolar AS Melemah di Pasar Global
Faktor eksternal turut memberikan ruang bagi penguatan rupiah. Indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat melemah.
Pada pukul 15.00 WIB, DXY berada di posisi 98,642 atau turun sekitar 0,15 persen. Indeks tersebut bahkan sempat menyentuh level 98,630, yang menjadi posisi terendahnya dalam hampir tiga pekan.
Tekanan terhadap dolar AS berasal dari penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat serta berlanjutnya penguatan yen Jepang. Penurunan imbal hasil obligasi mengurangi daya tarik aset berbasis dolar sehingga membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Yen Jepang juga menguat menjelang keputusan kebijakan suku bunga Bank of Japan (BOJ) dan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, pada pekan berikutnya.
Pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga BOJ. Ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Jepang tersebut mendorong penguatan yen dan pada saat yang sama memberi tekanan tambahan terhadap indeks dolar AS.
Investor Menanti Data Inflasi Amerika Serikat
Pelaku pasar selanjutnya menanti rilis data inflasi Amerika Serikat pada Kamis, 10 September 2026. Pergerakan inflasi menjadi perhatian karena harga minyak masih bertahan pada level tinggi.
Inflasi AS secara bulanan dan tahunan masing-masing diperkirakan sebesar 0,4 persen dan 0,2 persen, sedangkan inflasi inti tahunan diproyeksikan berada di kisaran 2,4 persen.
Menurut Rully, angka inflasi tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
“Dengan angka-angka inflasi tersebut di atas membuat tidak nyaman bagi The Fed, dan berakibat ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga minggu depan menjadi 60 persen lebih tinggi dari sebelumnya 35 persen,” ujar Rully.
Perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS menjadi salah satu faktor yang terus dicermati pasar karena dapat memengaruhi pergerakan dolar dan arus modal global.
Keyakinan Konsumen Indonesia Meningkat
Dari dalam negeri, penguatan rupiah turut mendapat dukungan dari meningkatnya optimisme konsumen. Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik menjadi 118,5 pada Agustus 2026 dari 116,8 pada Juli.
Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebesar 117 dan menunjukkan keyakinan konsumen Indonesia tetap berada dalam zona optimistis.
Peningkatan keyakinan konsumen ditopang oleh penilaian yang lebih baik terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek perekonomian dalam enam bulan mendatang.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) meningkat menjadi 109,4 dari sebelumnya 107,9. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) naik menjadi 127,6 dari 125,7.
Porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi juga meningkat. Rasio konsumsi terhadap pendapatan mencapai 74,2 persen pada Agustus 2026, naik dari 72,7 persen pada bulan sebelumnya.
Membaiknya kepercayaan konsumen berpotensi menopang konsumsi rumah tangga dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Sentimen tersebut juga ikut meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.
Rupiah Pimpin Penguatan Mata Uang Asia
Rupiah menjadi salah satu mata uang Asia dengan penguatan terbesar terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu.
Selain rupiah, yen Jepang menguat 0,33 persen, won Korea 0,20 persen, peso Filipina 0,19 persen, dolar Taiwan 0,16 persen, baht Thailand 0,09 persen, dolar Singapura 0,03 persen, serta yuan China 0,02 persen.
Sebaliknya, rupee India melemah 0,25 persen, ringgit Malaysia turun 0,18 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen terhadap dolar AS.
Tekanan terhadap dolar juga berlangsung ketika harga komoditas mengalami kenaikan. Harga minyak Brent kontrak November 2026 naik 2,74 persen menjadi 100,60 dolar AS per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Oktober 2026 menguat 2,24 persen menjadi 95,11 dolar AS per barel.
Pergerakan nilai tukar rupiah selanjutnya akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik, terutama data inflasi Amerika Serikat, arah kebijakan The Fed dan BOJ, pergerakan imbal hasil obligasi, serta kelanjutan arus modal ke pasar keuangan Indonesia.


















