Headline.co.id, Jakarta ~ Fenomena langit bulan September 2026 akan menghadirkan rangkaian peristiwa astronomi yang dapat diamati masyarakat, mulai dari hujan meteor, konjungsi Bulan dengan sejumlah planet, ekuinoks hingga Bulan Purnama Harvest Moon. Sejumlah peristiwa tersebut berlangsung sejak awal hingga akhir September 2026 dengan waktu dan kondisi pengamatan yang berbeda-beda. Berdasarkan kalender astronomi In The Sky dan catatan NASA dalam bahan yang tersedia, beberapa fenomena bahkan berpeluang diamati dari Indonesia jika cuaca dan kondisi langit mendukung.
Fenomena langit bulan September 2026 diawali puncak hujan meteor Aurigid pada 1 September, kemudian dilanjutkan konjungsi Bulan dengan Mars dan Jupiter serta hujan meteor September ε-Perseid pada pekan pertama. Memasuki pertengahan bulan, masyarakat juga berkesempatan mengamati kedekatan Bulan dengan Venus.
Pada paruh kedua bulan, fenomena langit bulan September 2026 akan diwarnai ekuinoks September pada 23 September, Harvest Moon pada 26 September, serta puncak hujan meteor Sextantid pada 27 September. Selain fenomena pada tanggal tertentu, rasi Cassiopeia juga dapat menjadi salah satu objek pengamatan langit malam selama September.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Hujan Meteor Aurigid Buka September pada 1 September
Rangkaian fenomena astronomi September diawali hujan meteor Aurigid yang mencapai puncak pada 1 September 2026.
Hujan meteor tersebut aktif sejak 28 Agustus hingga 5 September. Dalam kondisi pengamatan ideal, tingkat aktivitas maksimumnya diperkirakan mencapai sekitar enam meteor per jam.
Aurigid memiliki titik radian atau titik asal kemunculan meteor di sekitar rasi Auriga. Meteor terjadi ketika serpihan material memasuki atmosfer Bumi dan terbakar sehingga menghasilkan jejak cahaya di langit.
Benda induk hujan meteor Aurigid diketahui berkaitan dengan komet C/1911 N1 atau Kiess.
Bulan dan Mars Tampak Berdekatan 6-7 September
Setelah Aurigid, perhatian dapat diarahkan pada konjungsi Bulan dan Mars. Peristiwa ini berlangsung pada 6 September pukul 18.24 UTC atau sekitar 7 September pukul 01.24 WIB.
Konjungsi membuat Bulan dan Mars tampak berada dalam posisi berdekatan apabila dilihat dari Bumi. Pengamatan tidak harus dilakukan persis ketika konjungsi mencapai waktu terdekatnya karena keduanya masih dapat terlihat relatif berdekatan di sekitar waktu tersebut.
Pada periode ini, Bulan berada dalam fase sabit tua atau waning crescent. Permukaan Bulan yang diterangi Matahari hanya tampak sebagian sehingga keberadaan Mars di dekatnya dapat menjadi objek pengamatan menarik.
Bulan Bertemu Jupiter pada 8-9 September
Dua hari setelah mendekati Mars, Bulan akan tampak berada dekat dengan Jupiter.
Konjungsi Bulan dan Jupiter tercatat berlangsung pada 8 September pukul 18.13 UTC atau sekitar 9 September pukul 01.13 WIB.
Dari Indonesia, kedua objek langit tersebut berpeluang terlihat menjelang Matahari terbit. Bulan saat itu sudah berada dalam fase sabit sangat tipis karena semakin mendekati fase Bulan Baru.
Jupiter merupakan salah satu objek terang di langit malam sehingga relatif mudah dikenali ketika cuaca cerah dan lokasi pengamatan tidak banyak terganggu polusi cahaya.
Pada periode tersebut juga terdapat peluang terjadinya okultasi Jupiter dari wilayah tertentu. Okultasi terjadi ketika Bulan tampak melintas di depan Jupiter apabila diamati dari Bumi.
Hujan Meteor September ε-Perseid Capai Puncak 9 September
Tanggal 9 September juga menjadi waktu puncak hujan meteor September ε-Perseid.
Fenomena tersebut aktif pada 5 hingga 21 September dengan perkiraan aktivitas maksimum sekitar lima meteor per jam pada kondisi langit ideal.
Titik radiannya berada di kawasan rasi Perseus. Kondisi pengamatan diperkirakan cukup menarik karena puncak hujan meteor berlangsung berdekatan dengan fase Bulan Baru sehingga gangguan cahaya Bulan relatif rendah.
Minimnya cahaya Bulan dapat membantu pengamat melihat meteor yang memiliki tingkat kecerlangan lebih rendah, meskipun hasil pengamatan tetap dipengaruhi cuaca dan polusi cahaya.
Konjungsi Bulan dan Venus Terjadi 14 September
Fenomena selanjutnya adalah konjungsi Bulan dan Venus pada 14 September 2026.
Catatan NASA dalam bahan menyebut konjungsi tersebut berlangsung pada pukul 11.10 UTC atau sekitar pukul 18.10 WIB.
Venus menjadi objek menarik karena termasuk benda langit yang tampak sangat terang jika dilihat dari Bumi. Pada kondisi pengamatan mendukung, Venus bahkan dapat dikenali ketika langit belum sepenuhnya gelap.
Bagi pengamat di Indonesia, kedekatan Bulan dan Venus berpotensi diamati dengan mencari lokasi yang memiliki pandangan terbuka ke arah langit barat setelah Matahari terbenam.
Ekuinoks September Berlangsung 23 September 2026
Salah satu peristiwa astronomi penting bulan ini berlangsung pada 23 September 2026, yakni ekuinoks September.
Berdasarkan catatan yang terdapat dalam bahan, ekuinoks diperkirakan berlangsung sekitar pukul 00.05-00.06 UTC atau sekitar pukul 07.05-07.06 WIB.
Ekuinoks terjadi ketika pusat Matahari melintasi bidang ekuator Bumi. Pada periode tersebut, panjang waktu siang dan malam di berbagai wilayah Bumi berada dalam kondisi mendekati sama.
Secara astronomis, ekuinoks September menandai awal musim gugur di belahan Bumi utara dan awal musim semi di belahan Bumi selatan.
Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa tidak mengalami pergantian empat musim seperti sejumlah negara di wilayah lintang menengah.
Harvest Moon Muncul 26 September 2026
Salah satu fenomena yang menjadi perhatian pada akhir September adalah Bulan Purnama yang dikenal sebagai Harvest Moon atau Bulan Panen.
Fase purnama mencapai puncaknya pada 26 September 2026 sekitar pukul 16.48-16.49 UTC atau sekitar pukul 23.48-23.49 WIB.
Bulan Purnama September tahun ini disebut Harvest Moon karena merupakan Bulan Purnama yang posisinya dalam kalender paling dekat dengan ekuinoks September.
Sebutan Harvest Moon berasal dari tradisi di belahan Bumi utara dan berkaitan dengan periode panen.
Bagi masyarakat Indonesia, Bulan Purnama dapat diamati dengan mata telanjang sepanjang kondisi langit cerah. Pengamatan juga tidak harus dilakukan tepat ketika fase purnama mencapai puncaknya karena Bulan tetap akan terlihat hampir penuh sebelum dan setelah waktu tersebut.
Hujan Meteor Sextantid Mencapai Puncak 27 September
Sehari setelah Harvest Moon, hujan meteor Sextantid mencapai puncaknya pada 27 September 2026.
Fenomena ini aktif dalam rentang cukup panjang, yakni sejak 9 September hingga 9 Oktober, dengan perkiraan aktivitas sekitar lima meteor per jam dalam kondisi ideal.
Sextantid memiliki titik radian di sekitar rasi Sextans. Fenomena tersebut dikenal sebagai hujan meteor siang hari karena posisi titik radiannya berada tinggi setelah Matahari terbit.
Kondisi tersebut menyebabkan pengamatan Sextantid lebih sulit dilakukan karena cahaya Matahari dapat mendominasi langit dan mengurangi keterlihatan meteor.
Rasi Cassiopeia Juga Bisa Diamati Selama September
Selain fenomena yang memiliki tanggal puncak tertentu, September dapat dimanfaatkan untuk mengenali rasi Cassiopeia.
Cassiopeia dikenal dengan lima bintang utamanya yang membentuk pola menyerupai huruf W atau M, bergantung pada orientasinya ketika diamati.
Rasi tersebut berada di bagian utara langit. Bagi pengamat yang berada di wilayah lintang utara, Cassiopeia dapat bersifat sirkumpolar sehingga tidak sepenuhnya tenggelam di bawah horizon.
Kondisi berbeda berlaku bagi pengamat di Indonesia yang berada lebih dekat dengan khatulistiwa. Cassiopeia akan terlihat lebih rendah di arah utara dan tidak selalu dapat diamati sepanjang malam dari semua wilayah Indonesia.
Meski demikian, rasi tersebut masih dapat menjadi objek pengamatan ketika posisinya berada cukup tinggi di atas horizon utara.
Daftar Fenomena Langit September 2026
Berikut rangkaian utama fenomena astronomi September 2026 berdasarkan bahan yang tersedia:
- 1 September 2026: puncak hujan meteor Aurigid.
- 6-7 September 2026: konjungsi Bulan dan Mars.
- 8-9 September 2026: konjungsi Bulan dan Jupiter.
- 9 September 2026: puncak hujan meteor September ε-Perseid.
- 14 September 2026: konjungsi Bulan dan Venus.
- 23 September 2026: ekuinoks September.
- 26 September 2026: Harvest Moon atau Bulan Purnama.
- 27 September 2026: puncak hujan meteor Sextantid.
- Sepanjang September 2026: peluang mengamati rasi Cassiopeia.
Tingkat keterlihatan setiap fenomena tidak selalu sama dari seluruh wilayah Indonesia. Kondisi cuaca, awan, polusi cahaya, lokasi pengamat, posisi benda langit terhadap horizon, serta waktu terbit dan terbenamnya objek menjadi faktor yang menentukan keberhasilan pengamatan.
Untuk hujan meteor dan rasi bintang, lokasi yang jauh dari sumber cahaya perkotaan akan memberikan kondisi langit yang lebih mendukung. Sementara fenomena seperti Bulan Purnama, konjungsi Bulan dengan planet terang, dan Harvest Moon relatif lebih mudah diamati dengan mata telanjang selama langit tidak tertutup awan.





















