Headline.co.id, Bandung ~ Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengadakan dua pertemuan bilateral penting dengan Ministry of the Interior and Safety (MOIS) dari Korea Selatan dan Ministry of Emergency Management dari Tiongkok. Pertemuan ini berlangsung pada Jumat (31/7) di Bandung, bertujuan untuk memperkuat kerja sama dalam manajemen kebencanaan di tingkat bilateral dan kawasan ASEAN.
Dalam pertemuan dengan Korea Selatan, Indonesia mengapresiasi komitmen jangka panjang negara tersebut dalam memperkuat ketangguhan bencana di ASEAN. Diskusi berfokus pada dua agenda utama. Pertama, mengenai nota kesepahaman (MoU) BNPB dan MOIS, di mana kedua pihak mencatat kemajuan dalam pertukaran draf dokumen. Indonesia berharap MoU ini dapat ditandatangani pada Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN untuk Penanggulangan Bencana (AMMDM) di Bali, November 2026. Agenda kedua membahas partisipasi BNPB dalam K-Safety Expo, di mana Indonesia berkomitmen mendukung acara tersebut dan mendorong partisipasi aktif negara-negara ASEAN.
Pertemuan dengan delegasi Korea Selatan dipimpin oleh Beomsoon Hwang, Director General of Disaster Management Policy Bureau MOIS, dan berlangsung selama 30 menit. Diskusi ini juga menekankan pentingnya kolaborasi K-Safety Expo dan ADEXCO untuk meningkatkan kesadaran akan industrialisasi manajemen bencana.
Selanjutnya, pertemuan dengan Tiongkok dilaksanakan pada pukul 17.00 – 17.30 WIB, dipimpin oleh Liu Shunzhang, Deputy Director-General of the Department of International Cooperation and Rescue. Indonesia mengapresiasi dukungan Tiongkok terhadap penanggulangan bencana di ASEAN dan memaparkan perkembangan kebijakan manajemen bencana di Indonesia. BNPB menekankan pentingnya pendekatan pentaheliks dalam penanggulangan bencana, serta pemanfaatan teknologi seperti platform InaRISK dan InaWARE untuk penguatan sistem informasi dan pemantauan bencana.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati, yang memimpin delegasi Indonesia, menegaskan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat dan peringatan dini. Program Desa Tangguh Bencana (Destana) menjadi contoh pembelajaran dari Indonesia dalam meningkatkan kemandirian masyarakat untuk mencapai resiliensi berkelanjutan. Pertemuan ini juga membahas peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan latihan gabungan, serta penguatan koordinasi pada forum regional dan multilateral.
Sebagai penutup, Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama dengan Korea Selatan dan Tiongkok, baik melalui kerangka ASEAN maupun mekanisme bilateral, guna mencapai hasil konkret dalam pengurangan risiko bencana global. Pertemuan bilateral ini diadakan di sela-sela Pertemuan ke-48 ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) di Bandung, yang berlangsung dari 28 Juli hingga 1 Agustus 2026, dengan kehadiran negara-negara Asia Tenggara termasuk Timor Leste sebagai anggota baru ASEAN.


















