Headline.co.id, Di Tengah Situasi Ekonomi Yang Menantang ~ tingkat kedermawanan masyarakat Indonesia justru menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan laporan World Giving Report (WGR) 2026, rata-rata donasi masyarakat Indonesia mencapai 1,55 persen dari pendapatan, menjadikannya yang tertinggi di Asia Tenggara. Hal ini terjadi meskipun kelas menengah, yang menjadi tulang punggung filantropi, juga menghadapi tekanan ekonomi.
Menanggapi fenomena ini, Prof. Dr. Mudrajad Kuncoro, Guru Besar Ilmu Ekonomi di Sekolah Vokasi UGM, menyebutkan bahwa tingginya donasi keagamaan di tengah tekanan ekonomi merupakan sebuah paradoks. Menurutnya, faktor keagamaan tetap menjadi pendorong utama dalam praktik infak, zakat, dan sedekah di Indonesia. “Sebagai bentuk filantropi keagamaan yang sudah jadi bagian dari budaya maupun kebiasaan sosial masyarakat Indonesia,” ujarnya pada Senin (13/7). Ia menambahkan bahwa dalam Islam, terdapat keyakinan bahwa infak dan sedekah tidak akan membuat seseorang jatuh miskin.
Selain faktor agama, Mudrajad juga menyoroti peran faktor ekonomi dan sosial. Ia menjelaskan bahwa ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, solidaritas sosial masyarakat justru semakin menguat. Sebagai contoh, ia menyebutkan fenomena Jumat Berkah yang dilakukan mahasiswa Indonesia di London, di mana mereka membagikan makanan gratis kepada yang membutuhkan. Kegiatan ini mendapat perhatian karena menghidupkan kembali nilai-nilai kepedulian sosial yang mulai jarang ditemukan di negara-negara maju.
Perkembangan teknologi digital juga berperan penting dalam peningkatan donasi. Mudrajad menilai bahwa teknologi telah menurunkan biaya transaksi donasi dan memudahkan penyaluran bantuan ke berbagai wilayah. “Akumulasi jutaan donasi mikro via digital tadi itu meningkatkan penghimpunan dana filantropis di Indonesia. Ini harus kita catat sebagai hal menarik dari teknologi digital industri 4.0,” ujarnya. Selain itu, meningkatnya kesadaran publik terhadap isu kemiskinan, bencana, pendidikan, dan kesehatan turut mendorong masyarakat untuk terlibat dalam membantu sesama.
Fenomena ini menunjukkan kuatnya modal sosial masyarakat Indonesia. Ketika negara dan pasar menghadapi keterbatasan, masyarakat memiliki kemampuan untuk saling membantu melalui mekanisme budaya gotong royong. Mudrajad menyoroti bahwa peningkatan donasi di tengah kondisi ekonomi yang sulit menunjukkan bahwa kebutuhan bantuan sosial di tingkat akar rumput semakin meningkat. Menurutnya, donasi keagamaan dan sosial ini menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia memiliki solidaritas yang kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi.















