Headline.co.id, Belitung ~ Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa hingga Juni 2025, reklamasi lahan bekas tambang telah mencapai 5.739,39 hektare, atau sekitar 80,43% dari target 7.135 hektare untuk tahun tersebut. Sejak 2021, kepatuhan perusahaan tambang terhadap reklamasi terus meningkat, tidak hanya pada lahan bekas tambang tetapi juga di area lain seperti tempat penimbunan tanah penutup dan fasilitas pendukung operasional tambang. Namun, banyak lahan yang mengalami kerusakan parah, kehilangan kemampuan alaminya untuk mendukung kehidupan, sehingga memerlukan intervensi manusia untuk pemulihan.
Salah satu upaya pemulihan lahan bekas tambang dilakukan oleh Agus Affianto, S.Hut., M.Si., yang dikenal sebagai Picoez, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Picoez dan timnya terlibat dalam penyusunan model rehabilitasi untuk kawasan tailing di Desa Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Lahan bekas tambang timah ini, yang berdekatan dengan lokasi “SD Laskar Pelangi”, tergolong ekstrem dan sulit diolah kembali menjadi produktif. “Rumput saja membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk dapat tumbuh secara alami,” ungkap Picoez pada Rabu (8/4).
Dalam upaya rehabilitasi, tim Picoez memulai dengan membuat demplot sebagai media uji coba. Namun, mereka menghadapi tantangan besar, seperti suhu pasir yang mencapai 62,4 derajat Celcius pada pagi hari, yang membuat penanaman langsung hampir mustahil. “Karakteristik pasir yang tidak mampu menyerap air menyebabkan kondisi tanah menjadi asam saat hujan,” jelasnya. Setelah melalui berbagai diskusi, tim mengembangkan metode berbasis kompos blok pada area seluas 10 hektare, bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan dan pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Kompos ini dipadatkan untuk meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan kelembapan.
Beberapa jenis tanaman seperti buah naga, kelengkeng, cemara, dan jambu mulai ditanam dengan harapan dapat menghasilkan serasah dan bahan organik sebagai fondasi awal ekosistem. Picoez menekankan bahwa keberhasilan rehabilitasi lahan ekstrem tidak dapat dicapai dengan pendekatan konvensional. Upaya ini menunjukkan pentingnya inovasi dan kolaborasi dalam mengatasi tantangan lingkungan yang kompleks.



















