Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah Indonesia telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang dikenal sebagai PP Tunas. Regulasi ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, termasuk sektor bisnis, karena dianggap sebagai langkah strategis dalam melindungi anak-anak di era digital yang semakin kompleks.
Benyamin Wuisan, Indonesia Country Head iNova Pharmaceuticals, menyatakan bahwa PP Tunas memberikan panduan yang jelas bagi orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka menggunakan teknologi dengan cara yang aman dan sehat. “Kehadiran PP Tunas memberikan kepastian arah bagi orang tua dalam mendampingi anak memanfaatkan teknologi secara sehat dan aman,” ujar Benyamin dalam acara Festival Generasi Berani Exploring yang diadakan untuk memperingati Hari Anak Nasional 2026 di Cibis Park, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Benyamin menekankan pentingnya perlindungan anak di ruang digital yang harus diimbangi dengan menyediakan lebih banyak kesempatan bagi anak untuk bermain dan berinteraksi di dunia nyata. Ia menilai bahwa kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Kebudayaan, sektor medis, komunitas keluarga, dan sektor swasta adalah model yang tepat untuk memperkuat ekosistem perlindungan anak.
Menurut Benyamin, inisiatif ini tidak boleh berhenti pada penerbitan regulasi saja, tetapi harus dilanjutkan dengan edukasi kepada keluarga dan penyediaan alternatif aktivitas yang mendukung perkembangan anak. “Inisiatif ini harus dilanjutkan melalui edukasi kepada keluarga dan penyediaan alternatif aktivitas yang mendukung tumbuh kembang anak,” katanya.
Salah satu tantangan yang dihadapi orang tua adalah menentukan aktivitas anak setelah penggunaan gawai. Untuk menjawab tantangan ini, Buku Saku Generasi Berani Exploring diluncurkan, memuat sekitar 100 ide aktivitas yang dapat dilakukan bersama keluarga. Buku ini berisi permainan tradisional dan aktivitas yang dirancang oleh dokter spesialis anak, ahli tumbuh kembang, komunitas keluarga, serta komunitas permainan rakyat agar sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. “Buku ini memuat sekitar 100 ide aktivitas yang dapat dilakukan bersama keluarga,” jelasnya.
Benyamin juga mengenang masa kecilnya yang diisi dengan permainan tradisional seperti petak umpet, lompat tali, galasin, congklak, dan bersepeda bersama teman-teman. Permainan tersebut mengajarkan nilai kerja sama, keberanian, sportivitas, dan ketangguhan dalam menghadapi kegagalan. “Permainan tradisional mengajarkan nilai kerja sama, keberanian, sportivitas, dan ketangguhan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa permainan tradisional juga penting untuk memperkuat interaksi sosial anak dan mengurangi ketergantungan pada layar gawai. Benyamin berharap Festival Generasi Berani Exploring dapat menjadi awal dari gerakan yang lebih luas untuk mengembalikan ruang bermain anak-anak Indonesia. Ia mengajak semua pihak, termasuk orang tua, pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan media, untuk bersama-sama membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. “Mari kita bersama-sama membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal,” pungkasnya.














