Highlight Berita:
Headline.co.id, Austin ~ Seorang pria harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah ditembak satu kali pada bagian tubuh oleh petugas US Immigration and Customs Enforcement atau ICE di Austin, Texas, Amerika Serikat, pada Minggu sore, 20 September 2026. Kepala Polisi Austin Lisa Davis mengatakan korban berada dalam kondisi serius tetapi stabil setelah insiden yang terjadi di sisi utara kota seusai penghentian kendaraan. Polisi Austin tidak terlibat dalam operasi maupun penembakan tersebut, sementara pemerintah kota mendorong penyelidikan yang transparan untuk menjelaskan rangkaian kejadian.
Pengacara imigrasi yang mewakili keluarga korban, Kate Lincoln-Goldfinch, mengidentifikasi pria yang ditembak sebagai Wilber Rafael Garces Perez, warga Venezuela berusia 28 tahun. Lincoln-Goldfinch mengatakan keluarga korban masih berupaya memperoleh informasi mengenai kondisi dan lokasi perawatannya di rumah sakit.
Korban Dirawat dalam Kondisi Serius tetapi Stabil
Davis menjelaskan dalam konferensi pers bersama wali kota dan pejabat Austin lainnya bahwa korban terkena satu tembakan pada bagian tubuh. Meski mengalami luka serius, kondisi pria tersebut disebut stabil ketika menjalani perawatan di rumah sakit.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Lincoln-Goldfinch sebelumnya mengatakan melalui sebuah video di akun Instagram bahwa berdasarkan pemahamannya, Garces Perez tidak memiliki riwayat kriminal dan tidak mempunyai perintah akhir untuk dikeluarkan dari Amerika Serikat. Namun, ketika berbicara kepada Associated Press, pengacara tersebut mengatakan dirinya tidak mengetahui status imigrasi Garces Perez saat ini.
Menurut Davis, petugas Kepolisian Austin tidak mengambil bagian dalam operasi federal maupun penembakan yang terjadi setelah penghentian kendaraan. Kepala polisi itu juga mengatakan masih sedikit fakta yang dapat disampaikan segera setelah kejadian. Unit investigasi khusus kepolisian Austin telah berada di lokasi insiden.
Davis pada saat konferensi pers mengatakan dirinya juga belum mengetahui kewarganegaraan orang yang ditembak. Sementara itu, Department of Homeland Security yang membawahi ICE tidak berpartisipasi dalam konferensi pers tersebut dan belum segera memberikan rincian mengenai kejadian.
Wali Kota Austin Minta Polisi Kota Terlibat Investigasi
Wali Kota Austin Kirk Watson mengatakan dirinya ingin Departemen Kepolisian Austin terlibat dalam penyelidikan. Menurut Watson, keterlibatan polisi kota diperlukan agar terdapat pandangan pihak ketiga yang jelas selama proses pemeriksaan insiden tersebut.
'Warga Austin memiliki hak untuk merasa aman di kota mereka,' kata Watson. Ia menambahkan bahwa penyelidikan yang tepat akan meningkatkan kredibilitas proses pemeriksaan.
Watson mengatakan menurut pandangannya tidak tepat apabila ICE menyelidiki insiden tersebut sendiri. Ketika ditanya apakah pemerintah Austin mengetahui keberadaan agen federal yang terlibat dalam penembakan, Watson mengatakan pemerintah kota belum mengetahuinya.
'Kami tidak mengetahui itu. Namun harapan saya adalah seorang agen yang terlibat dalam penembakan yang melibatkan petugas tidak akan meninggalkan kota. Tentu saja tidak meninggalkan negara bagian,' ujar Watson.
Permintaan keterlibatan kepolisian kota muncul ketika informasi mengenai penembakan masih terbatas. Pemerintah Austin menekankan pentingnya penyelidikan yang dapat memberikan kejelasan mengenai kejadian sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap proses pemeriksaan.
Sekitar 100 Demonstran Berkumpul di Lokasi Penembakan
Penembakan tersebut juga memicu berkumpulnya demonstran di lokasi kejadian. Sekitar 100 orang berada di sekitar tempat penembakan bersamaan dengan kehadiran aparat penegak hukum dalam jumlah besar. Sejumlah petugas terlihat membawa perisai antikerusuhan ketika demonstrasi berlangsung.
Sebagian demonstran meneriakkan protes kepada petugas kepolisian, sementara kendaraan yang melintas membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan terhadap aksi. Seorang demonstran membawa papan bertuliskan 'Tidak ada yang aman' pada satu sisi dan tulisan yang menyamakan ICE dengan Nazi pada sisi lainnya.
Anggota DPR Amerika Serikat Greg Casar, politikus Partai Demokrat yang mewakili sebagian wilayah Austin, turut meminta transparansi selama penyelidikan. Ia juga menyerukan penghentian peningkatan operasi ICE di Austin.
'Sangat mengerikan bahwa kejadian ini telah sampai ke depan pintu kita. Agar Austin aman, ICE harus mengakhiri peningkatan operasinya di sini,' kata Casar kepada wartawan.
Insiden Terjadi di Tengah Peningkatan Operasi ICE
Penembakan di Austin terjadi ketika ICE meningkatkan penegakan aturan imigrasi di berbagai wilayah Amerika Serikat sepanjang musim panas. Pada Juli dan Agustus 2026, jumlah penangkapan oleh ICE melampaui 50.000 orang per bulan untuk pertama kalinya dalam sejarah lembaga tersebut.
Insiden Austin juga terjadi setelah penembakan lain yang melibatkan petugas ICE di Texas. Pada Juli 2026, seorang petugas ICE menembak mati Lorenzo Salgado Araujo, 52 tahun, asal Houston. Peristiwa itu terjadi setelah agen federal yang menggunakan kendaraan tanpa tanda mengejarnya ketika Araujo sedang membawa kru konstruksinya menuju lokasi pekerjaan.
Untuk kasus di Austin, sejumlah fakta mengenai proses operasi dan rangkaian penembakan masih belum dijelaskan secara rinci. Pemerintah kota dan anggota parlemen yang berbicara setelah kejadian sama-sama menekankan perlunya transparansi, sementara unit investigasi khusus Kepolisian Austin telah berada di lokasi untuk menangani perkembangan awal insiden.
Dukung beri centang Headline.co.id di icon G (Gratis) atau Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















