Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Agama mendorong tokoh agama, penyuluh, pengelola masjid, dan pegiat media memperkuat budaya tabayyun serta memperbanyak konten positif untuk menjaga kerukunan di ruang digital. Ajakan itu disampaikan Plt. Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah sekaligus Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis M. Hanafi, dalam webinar pada Jumat (6/11/2026). Webinar bertajuk “Mengelola Narasi, Merawat Kerukunan: Peran Media Sosial dalam Pencegahan dan Penanganan Konflik Keagamaan” tersebut digelar Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah melalui Zoom Meeting dan diikuti 846 peserta. Menurut Muchlis, langkah itu diperlukan karena konflik keagamaan kerap berawal dari narasi yang beredar sebelum berkembang menjadi tindakan.
“Di era digital, menjaga kerukunan bisa dilakukan dengan merawat narasi di ruang publik. Sebab, konflik hari ini sering dimulai dari kata-kata sebelum menjadi tindakan,” ujar Muchlis dalam keynote speech webinar tersebut.
Peserta webinar terdiri atas penyuluh agama, penghulu, pengawas madrasah, dan masyarakat umum. Hadir sebagai narasumber Savic Ali, pendiri Islami.co dan mantan Direktur NU Online. Diskusi dipandu Wahyu Qadri, penyuluh agama Islam dari Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa, Aceh.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ruang Digital dan Tantangan Pemahaman Keagamaan
Muchlis menjelaskan, ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan umat, termasuk sebagai tempat mencari rujukan dan memahami ajaran agama. Namun, penyampaian ajaran melalui potongan video singkat berisiko menghilangkan konteks sehingga melahirkan pemahaman yang sempit.
Tantangan tersebut semakin besar ketika pengguna media sosial hanya berjumpa dengan pandangan yang serupa. Kondisi itu dapat terus memperkuat keyakinan sekaligus prasangka yang telah dimiliki.
Muchlis mengapresiasi capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 yang berada di angka 77,89. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak pengukuran dimulai pada 2015. Meski demikian, dimensi kebersamaan masih menjadi yang terendah dengan nilai 65,49.
Karena itu, ia menilai kerukunan tidak cukup diwujudkan dengan sikap saling menahan diri. Kerukunan juga membutuhkan kesediaan untuk saling mendekat dan membangun kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita sudah pandai menahan diri untuk tidak saling mengganggu, tetapi belum cukup pandai saling mendekat,” katanya.
Muchlis menekankan agar tabayyun dijadikan kebiasaan dalam bermedia. Dengan merujuk Surah al-Hujurat ayat 6, ia menjelaskan kisah tentang kabar yang tidak diverifikasi dan nyaris memicu konflik bersenjata pada masa Rasulullah. Ia juga mengutip Surah an-Nur ayat 15 yang mengingatkan bahaya meneruskan kabar tanpa pengetahuan.
“Pesan sampai di layar lalu langsung diteruskan, dan akal tidak sempat bekerja. Ayat ini juga menyebut kita menganggapnya ringan, padahal di sisi Allah itu perkara besar,” jelasnya.
Literasi Digital dan Produksi Narasi Positif
Menurut Muchlis, literasi digital keagamaan perlu dimasukkan dalam pembinaan masyarakat melalui majelis taklim, khutbah, pembinaan remaja masjid, dan layanan keagamaan di Kantor Urusan Agama (KUA).
Tokoh agama dan penyuluh juga perlu memahami cara kerja media sosial. Dengan demikian, pesan keagamaan yang benar dapat dikemas secara menarik dan menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Langkah tersebut, lanjut Muchlis, perlu dibarengi dengan produksi narasi positif. Ia mendorong penyuluh membagikan kisah kebersamaan lintas iman, pengalaman mendamaikan masyarakat, serta kegiatan sosial masjid yang manfaatnya dirasakan semua kalangan.
Narasumber webinar, Savic Ali, menyoroti kebencian yang membayangi kehidupan bersama. “We are living under the dark cloud of hatred, kita hidup di bawah awan gelap kebencian,” kata Savic dalam materinya.
Ia juga membahas tantangan era post-truth, ketika emosi dan keyakinan pribadi lebih kuat memengaruhi opini publik dibandingkan fakta objektif. Situasi tersebut menuntut masyarakat lebih cakap menilai informasi dan mendorong hadirnya pesan yang mampu menjangkau serta menyentuh publik.
Savic menyebut salah satu jawaban atas tantangan itu adalah membanjiri internet dengan konten positif atau “flooding internet with positive contents”. Ia menggarisbawahi tiga langkah, yakni memperbanyak produksi konten, menjelajahi berbagai platform, serta mengorganisasi jejaring dan aksi bersama.
Klarifikasi Cepat dan Pemulihan Hubungan
Selain mencegah konflik dan memproduksi konten positif, Muchlis menilai diperlukan kesiapan merespons isu sensitif secara cepat, jelas, dan dapat dipercaya. Merujuk Surah an-Nisa ayat 83, ia mengingatkan agar informasi yang berkaitan dengan rasa aman dan keresahan masyarakat dikembalikan kepada pihak yang berwenang dan kompeten.
“Kalau klarifikasi kalah cepat dari hoaks, ruang itu akan diisi spekulasi,” tegasnya.
Jika gesekan telah terjadi, penanganan perlu diarahkan pada islah dan pemulihan hubungan, bukan memenangkan perdebatan.
“Ketika gesekan sudah terjadi, tugas kita adalah mendamaikan, bukan memenangkan perdebatan,” ujarnya.
Muchlis menilai KUA, masjid, dan penyuluh memiliki peran strategis karena dekat dengan kehidupan masyarakat. KUA dapat menjadi pusat informasi keagamaan yang tepercaya sekaligus “titik tabayyun” pertama ketika isu beredar di tingkat lokal. Takmir dan remaja masjid juga dapat berperan memproduksi konten yang memperkuat kebersamaan.
Ia mencontohkan perbedaan penetapan awal Ramadan dan hari raya, persoalan arah kiblat, serta tata kelola masjid dan rumah ibadah sebagai isu yang membutuhkan komunikasi sejak dini. Penjelasan yang mendidik dan menenangkan dinilai dapat membantu masyarakat menyikapi perbedaan secara lebih dewasa.
Untuk menjalankan upaya tersebut, diperlukan kerja sama Kementerian Agama dengan organisasi kemasyarakatan Islam, majelis-majelis agama, pegiat media, dan tokoh agama muda. Penyuluh di lapangan berperan mengenali gejala awal gesekan sekaligus membantu menyiapkan respons yang tepat.
Muchlis berharap webinar itu memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan literasi digital, membangun jejaring deteksi dini dan penanganan cepat, serta menjadikan moderasi beragama sebagai landasan merawat kerukunan.
“Di media sosial, berkata baik berarti memproduksi narasi yang menyejukkan, dan diam berarti menahan jempol dari membagikan yang belum jelas. Keduanya adalah bentuk iman,” pungkasnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















