Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa angka kematian bayi di Indonesia terus mengalami penurunan, mencapai 14,12 kematian per 1.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Namun, BPS menyoroti adanya kesenjangan yang signifikan dalam angka kematian balita wilayah Indonesia bagian barat dan timur.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan bahwa penurunan tidak hanya terjadi pada angka kematian bayi, tetapi juga pada seluruh indikator kematian penduduk usia dini, termasuk neonatal, bayi, anak, dan balita. “Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam indikator kesehatan penduduk usia dini,” ujar Amalia saat memaparkan hasil SUPAS 2025 dalam acara Peluncuran Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak Tahun 2026-2030 di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Amalia menjelaskan bahwa meskipun ada penurunan, sebagian besar kematian penduduk usia dini masih terjadi pada kelompok usia 0–28 hari atau masa neonatal, dengan penyebab utama adalah penyakit tidak menular. Selain itu, hasil SUPAS 2025 juga mengungkapkan bahwa disparitas angka kematian balita antarwilayah masih cukup lebar. Provinsi DKI Jakarta mencatat angka kematian balita terendah, yaitu 10,73 per 1.000 kelahiran hidup, sementara Papua Pegunungan mencatat angka tertinggi dengan 46,80 per 1.000 kelahiran hidup. “Perbedaan ini menunjukkan tantangan besar dalam upaya meningkatkan kesehatan anak di berbagai wilayah,” ungkap Amalia.
Secara keseluruhan, BPS menyimpulkan bahwa kesenjangan indikator kesehatan ibu dan anak Indonesia bagian timur dan barat masih menjadi tantangan utama. Di sisi lain, angka kematian ibu melahirkan telah menunjukkan perbaikan yang signifikan, meskipun masih diperlukan percepatan untuk mencapai target nasional pada 2029 dan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030. “Perlu adanya upaya lebih lanjut untuk mengatasi kesenjangan ini,” pungkas Amalia.




















