Headline.co.id, Sleman ~ Desa Wisata Pulesari di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus menjadi salah satu destinasi wisata berbasis masyarakat yang banyak dikunjungi wisatawan. Berlokasi di lereng Gunung Merapi, desa wisata ini menawarkan beragam aktivitas mulai dari wisata alam, budaya, sejarah hingga agrowisata salak yang dapat dinikmati keluarga, rombongan, maupun pelajar. Keberadaan desa wisata yang dikelola masyarakat setempat ini juga menjadi upaya pelestarian potensi lokal sekaligus penggerak ekonomi warga sejak resmi dibentuk pada 2012.
Desa Wisata Pulesari berada di Dusun Pulesari, Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman. Lokasinya hanya sekitar 21 kilometer dari kawasan Malioboro dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 40 hingga 45 menit melalui jalur Jalan Magelang–Yogyakarta.
Desa Wisata Pulesari Lahir dari Semangat Kebangkitan Warga
Desa Wisata Pulesari terbentuk berkat komitmen masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi alam dan budaya yang dimiliki wilayah tersebut. Desa wisata ini diprakarsai oleh Sarjana bersama tim pengelola dan resmi berdiri pada 26 Mei 2012.
Keberadaannya menjadi bagian dari upaya masyarakat menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, tenteram, dinamis, dan memiliki nilai ekonomi melalui sektor pariwisata berbasis masyarakat.
Selain menjadi destinasi wisata, Desa Wisata Pulesari juga berperan dalam menjaga tradisi lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu ikon budaya yang berkembang di kawasan ini adalah Tari Salak yang terinspirasi dari komoditas unggulan desa, yakni salak pondoh.
Berada di Kawasan Subur Lereng Gunung Merapi
Secara geografis, Desa Wisata Pulesari berada di kaki Gunung Merapi dengan ketinggian antara 400 hingga 900 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini memiliki kondisi tanah yang subur dengan karakteristik berpasir dan berbatu cadas.
Dusun Pulesari juga dikenal sebagai wilayah pertanian yang memiliki puluhan sumber mata air yang mengalir ke Sungai Krasak dan Sungai Bedog serta mendukung kebutuhan irigasi warga. Curah hujan rata-rata mencapai 3.908 milimeter per tahun dengan suhu udara berkisar antara 24 hingga 28 derajat Celsius.
Lingkungan alam yang masih asri menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pedesaan khas lereng Merapi.
Outbound dan Trekking Sungai Jadi Aktivitas Favorit

Salah satu aktivitas yang paling diminati wisatawan saat berkunjung ke Desa Wisata Pulesari adalah outbound dan trekking sungai.
Pengunjung dapat menyusuri aliran sungai sambil mencoba berbagai wahana outbound yang telah disiapkan pengelola, seperti titian bambu, tangga air, vertical web, jembatan goyang, jaring laba-laba, hingga titian tali.
Aktivitas ini banyak dipilih oleh rombongan pelajar, instansi, maupun keluarga karena menghadirkan pengalaman wisata alam yang menantang sekaligus menyenangkan.
Pihak pengelola menyediakan berbagai paket wisata yang dapat dipilih wisatawan, dengan harga mulai dari Rp55.000 per orang untuk rombongan minimal 20 peserta.
Agrowisata Salak Jadi Daya Tarik Unggulan
Selain wisata alam, Desa Wisata Pulesari juga dikenal sebagai salah satu sentra penghasil salak di Kabupaten Sleman.
Wisatawan dapat mengunjungi kebun salak, memetik buah langsung dari pohonnya, hingga belajar mengenai proses budidaya dan pemeliharaan tanaman salak.
Tidak hanya itu, buah salak hasil panen juga diolah menjadi berbagai produk makanan khas seperti bakpia salak, wingko salak, nastar salak, dodol salak, kerupuk salak, hingga kolak salak.
Berbagai produk olahan tersebut menjadi salah satu oleh-oleh favorit wisatawan yang datang ke Desa Wisata Pulesari.
Menjelajahi Delapan Gua Bersejarah
Bagi wisatawan yang tertarik dengan wisata sejarah, Desa Wisata Pulesari memiliki delapan gua yang menyimpan cerita masa lalu, khususnya pada era penjajahan Jepang.
Delapan gua tersebut meliputi Gua Dampar, Gua Canguk, Gua Wayang, Gua Grenjeng, Gua Gedhe, Gua Gular, Gua Bedhog, dan Gua Leri.
Masing-masing gua memiliki nilai sejarah tersendiri. Salah satunya adalah Gua Dampar yang dikenal sebagai lokasi pertahanan masyarakat pada masa penjajahan.
Keberadaan gua-gua tersebut kini menjadi bagian dari paket trekking sejarah yang dapat diikuti wisatawan saat berkunjung ke kawasan desa wisata.
Wisatawan Bisa Belajar Budaya Jawa Secara Langsung

Desa Wisata Pulesari tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman budaya yang autentik.
Wisatawan dapat mengikuti berbagai kegiatan edukatif seperti belajar membatik, memainkan gamelan, membuat kerajinan janur, hingga mempelajari Tari Salak yang menjadi identitas budaya setempat.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan budaya Jawa kepada generasi muda sekaligus memberikan pengalaman interaktif bagi wisatawan yang berkunjung.
Tiket Masuk Terjangkau dan Tersedia Homestay Warga
Desa Wisata Pulesari buka setiap hari. Pada hari kerja, kawasan wisata beroperasi mulai pukul 07.00 hingga 18.00 WIB, sedangkan pada akhir pekan tersedia layanan selama 24 jam.
Wisatawan hanya dikenakan tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Biaya parkir juga relatif terjangkau, yakni Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil.
Untuk wisatawan yang ingin menginap, tersedia puluhan homestay yang dikelola langsung oleh warga setempat. Fasilitas pendukung lainnya meliputi area parkir, mushola, masjid, toilet, kamar mandi, gardu ronda, gardu bambu, penyewaan proyektor, hingga sepeda onthel.
Desa Wisata Pulesari Jadi Contoh Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat
Keberhasilan Desa Wisata Pulesari menunjukkan bagaimana potensi alam, budaya, dan sejarah dapat dikembangkan secara berkelanjutan oleh masyarakat lokal.
Dengan konsep wisata berbasis komunitas, pengunjung tidak hanya menikmati berbagai atraksi wisata, tetapi juga berinteraksi langsung dengan warga dan mengenal kehidupan pedesaan khas lereng Merapi.
Kombinasi wisata alam, agrowisata salak, kegiatan budaya, serta jejak sejarah menjadikan Desa Wisata Pulesari sebagai salah satu destinasi unggulan di Sleman yang layak masuk daftar kunjungan wisata saat berada di Yogyakarta.























