HEADLINE.CO.ID, YOGYAKARTA ~ Pasar Beringharjo menjadi salah satu ikon paling bersejarah di Kota Yogyakarta yang hingga kini tetap berfungsi sebagai pusat perdagangan sekaligus destinasi wisata favorit. Berlokasi di Jalan Margo Mulyo Nomor 16, Ngupasan, Gondomanan, pasar tradisional tertua di Yogyakarta ini memiliki perjalanan panjang sejak masa awal berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dari kawasan hutan beringin yang sederhana, Pasar Beringharjo berkembang menjadi pusat ekonomi rakyat yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Yogyakarta selama lebih dari dua abad.
Contents
- 0.1 You might also like
- 0.2 Wisata Jati Ombo Bogor Jadi Destinasi Favorit Keluarga, Tiket Rp15 Ribu Bisa Nikmati Beragam Wahana
- 0.3 Wisata Jati Sewu Gresik Tawarkan Liburan Keluarga Lengkap, Ada Flying Fox, ATV hingga Telaga di Tengah Hutan Jati
- 1 Pasar Beringharjo Berawal dari Hutan Beringin
- 2 Makna Filosofis Nama Pasar Beringharjo
- 3 Pembangunan Pasar Beringharjo pada Tahun 1925
- 4 Pasar Beringharjo dan Filosofi Catur Tunggal Yogyakarta
- 5 Keunikan Arsitektur Pasar Beringharjo
- 6 Pasar Beringharjo Surga Belanja Batik di Yogyakarta
- 7 Pusat Jamu Tradisional dan Rempah-rempah Nusantara
- 8 Berburu Barang Antik di Pasar Beringharjo
- 9 Menikmati Kuliner Tradisional Khas Yogyakarta
- 10 Pasar Beringharjo Tetap Menjadi Ikon Wisata Jogja
- 11 FAQ Seputar Pasar Beringharjo
Keberadaan Pasar Beringharjo tidak hanya mencerminkan aktivitas perdagangan, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, filosofi, budaya, dan arsitektur yang menjadi bagian penting dari identitas Kota Yogyakarta.
Pasar Beringharjo Berawal dari Hutan Beringin
Sebelum menjadi pasar tradisional terbesar di Yogyakarta, kawasan Pasar Beringharjo merupakan hutan beringin yang dikenal dengan nama Hutan Paberingan. Setelah berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1758 pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, wilayah tersebut mulai dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat melakukan transaksi jual beli.
Pada masa itu, pasar dikenal dengan nama Pasar Gedhe dan menjadi pusat kegiatan ekonomi rakyat Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keberadaan pasar memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas perdagangan masyarakat yang terus berkembang seiring pertumbuhan kota.
Pasar Gedhe juga menjadi salah satu unsur utama dalam konsep tata kota tradisional Jawa yang dikenal sebagai Catur Tunggal, yaitu perpaduan antara keraton sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai ruang publik, masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, dan pasar sebagai pusat perekonomian.
Letaknya yang berada di utara kompleks Keraton Yogyakarta serta dekat dengan Benteng Vredeburg menunjukkan posisi strategis Pasar Beringharjo dalam sistem tata kota Kesultanan Yogyakarta.
Makna Filosofis Nama Pasar Beringharjo

Nama Pasar Beringharjo baru digunakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Sebelumnya masyarakat lebih mengenalnya sebagai Pasar Gedhe.
Nama “Beringharjo” berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu “bering” yang merujuk pada pohon beringin dan “harjo” yang berarti sejahtera, aman, serta tenteram.
Pemberian nama tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam. Hutan beringin yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut diharapkan dapat berubah menjadi tempat yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat Yogyakarta.
Jejak sejarah kawasan ini masih dapat ditemukan hingga sekarang melalui nama Jalan Pabringan yang berada di sisi selatan pasar. Nama tersebut berasal dari kata “beringan” sebagai pengingat bahwa lokasi pasar dahulu merupakan kawasan hutan beringin.
Selain makna yang umum dikenal, terdapat pula penafsiran lain yang menyebutkan bahwa nama Beringharjo berasal dari kata “jember” yang berarti basah atau lembap, “ring” yang berarti kering, dan “harjo” yang berarti indah dan bersih. Filosofi ini menggambarkan perubahan kawasan yang awalnya berupa lahan rawa menjadi wilayah yang berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pembangunan Pasar Beringharjo pada Tahun 1925
Meski aktivitas perdagangan telah berlangsung sejak abad ke-18, bangunan permanen Pasar Beringharjo baru mulai dibangun pada tahun 1925.
Pada 24 Maret 1925, Keraton Yogyakarta menunjuk Nederlansch Indisch Beton Maatschappij atau Perusahaan Beton Hindia Belanda untuk membangun los-los pasar secara permanen.
Pembangunan dilakukan secara bertahap dan pada akhir Agustus 1925 sebanyak 11 kios telah selesai dibangun. Seiring waktu, kompleks pasar terus berkembang hingga menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bangunan yang berdiri saat ini masih mempertahankan karakter arsitektur kolonial yang berpadu harmonis dengan unsur tradisional Jawa. Nilai sejarah dan keaslian bangunan tersebut membuat Pasar Beringharjo ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya.
Pasar Beringharjo dan Filosofi Catur Tunggal Yogyakarta
Pasar Beringharjo memiliki hubungan yang sangat erat dengan sejarah Keraton Yogyakarta. Pasar ini merupakan salah satu bagian dari konsep tata kota Kesultanan Yogyakarta yang disebut Catur Tunggal.
Dalam konsep tersebut, keraton berfungsi sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai ruang interaksi masyarakat, masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, dan pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi.
Keempat unsur tersebut dirancang untuk saling mendukung kehidupan masyarakat secara seimbang. Karena itulah, Pasar Beringharjo tidak hanya dipandang sebagai tempat perdagangan, tetapi juga sebagai simbol kehidupan ekonomi rakyat yang menjadi bagian dari filosofi kota Yogyakarta.
Baca juga: Cuma Jalan Kaki dari Stasiun, Ini Deretan Wisata Madiun yang Wajib Dikunjungi Tahun 2026
Keunikan Arsitektur Pasar Beringharjo
Salah satu daya tarik utama Pasar Beringharjo adalah arsitekturnya yang khas. Bangunan pasar merupakan perpaduan antara gaya kolonial Belanda dan arsitektur tradisional Jawa.
Secara umum, Pasar Beringharjo terbagi menjadi dua area utama, yaitu bangunan barat dan bangunan timur yang dipisahkan oleh jalan penghubung antara Jalan Lor Pasar dan Jalan Pabringan.
Pintu masuk utama pasar berada di bagian barat dan langsung menghadap kawasan Malioboro. Gerbang utama tersebut menjadi salah satu ikon yang paling mudah dikenali karena menampilkan tulisan “Pasar Beringharjo” dalam aksara Latin dan aksara Jawa.
Di sisi kanan dan kiri gerbang terdapat deretan kios yang digunakan pedagang untuk menjual berbagai macam produk. Sementara area los pasar didesain menggunakan konstruksi beton bertulang dengan atap berbentuk pelana bertingkat yang menjadi ciri khas bangunan pasar sejak era kolonial.
Pasar Beringharjo Surga Belanja Batik di Yogyakarta

Bagi wisatawan yang ingin berburu batik, Pasar Beringharjo menjadi salah satu tujuan utama di Yogyakarta.
Beragam jenis batik tersedia di pasar ini, mulai dari kain batik tradisional, batik tulis, batik cap, hingga pakaian jadi berbahan katun dan sutra. Pilihan motif dan harga yang beragam membuat Pasar Beringharjo menjadi destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara.
Koleksi kain batik banyak ditemukan di los bagian barat sebelah utara, sedangkan pakaian batik tersebar hampir di seluruh area pasar bagian barat.
Selain batik, pengunjung juga dapat menemukan produk budaya Jawa lainnya seperti blangkon, surjan, sarung tenun, sandal, tas, hingga berbagai aksesori tradisional.
Pusat Jamu Tradisional dan Rempah-rempah Nusantara
Tidak hanya terkenal sebagai pusat batik, Pasar Beringharjo juga dikenal sebagai pusat perdagangan bahan jamu tradisional dan rempah-rempah.
Di lantai dua bangunan timur, pengunjung dapat menemukan berbagai bahan jamu seperti kunyit, temulawak, jahe, kayu manis, serta aneka rempah yang biasa digunakan untuk minuman tradisional maupun kebutuhan kuliner.
Aroma khas rempah-rempah yang memenuhi area tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Pasar Beringharjo.
Baca juga: 8 Destinasi Wisata Yogyakarta yang Wajib Dikunjungi, Lengkap dengan Tips Liburan Praktis dan Efisien
Berburu Barang Antik di Pasar Beringharjo
Bagi pencinta barang koleksi, Pasar Beringharjo menawarkan pengalaman berbeda melalui pusat penjualan barang antik yang berada di lantai tiga bangunan timur.
Berbagai koleksi unik seperti mesin ketik tua, helm lawas, uang kuno, perlengkapan rumah tangga vintage, hingga barang bekas impor dapat ditemukan di area ini.
Kawasan Lor Pasar yang dahulu dikenal sebagai Kampung Pecinan juga menjadi lokasi favorit bagi para kolektor yang mencari barang-barang bersejarah dan benda antik bernilai tinggi.
Menikmati Kuliner Tradisional Khas Yogyakarta
Pasar Beringharjo juga menjadi surga kuliner tradisional Yogyakarta. Berbagai jajanan pasar khas dapat ditemukan di bagian depan maupun belakang pasar.
Pengunjung dapat menikmati kue kipo khas Kotagede, pecel urap yang disajikan menggunakan pincuk daun pisang, legomoro, mendut, mega mendhung, hingga berbagai makanan tradisional lainnya yang masih dipertahankan secara turun-temurun.
Di sekitar kawasan pasar juga tersedia berbagai minuman tradisional seperti jamu kunyit asam, beras kencur, hingga es cendol khas Yogyakarta.
Menariknya, aktivitas kuliner di sekitar Pasar Beringharjo tetap berlangsung hingga malam hari. Setelah pasar resmi tutup sekitar pukul 17.00 WIB, kawasan depan pasar masih ramai oleh pedagang gudeg, martabak, terang bulan, dan berbagai jajanan malam khas Yogyakarta.
Baca juga: Forbes Rilis Daftar 10 Negara Terindah di Dunia, Indonesia Duduki Peringkat Pertama
Pasar Beringharjo Tetap Menjadi Ikon Wisata Jogja
Di tengah perkembangan pusat perbelanjaan modern, Pasar Beringharjo tetap mempertahankan eksistensinya sebagai pusat ekonomi rakyat sekaligus destinasi wisata budaya.
Keberadaannya yang menyatu dengan kawasan Malioboro menjadikan Pasar Beringharjo sebagai salah satu tujuan yang hampir selalu masuk dalam daftar kunjungan wisatawan saat berada di Yogyakarta.
Sebagai pasar tradisional tertua di kota ini, Pasar Beringharjo bukan sekadar tempat berbelanja. Pasar ini merupakan saksi perjalanan panjang sejarah Yogyakarta, mulai dari kawasan hutan beringin, pusat perdagangan rakyat Kesultanan, hingga menjadi ikon wisata yang terus hidup dan berkembang hingga saat ini.
FAQ Seputar Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo adalah pasar tradisional tertua dan terbesar di Kota Yogyakarta yang terletak di Jalan Margo Mulyo Nomor 16, Gondomanan. Pasar ini menjadi pusat perdagangan sekaligus salah satu ikon wisata budaya di Yogyakarta.
Cikal bakal Pasar Beringharjo sudah ada sejak tahun 1758, tidak lama setelah berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Namun, bangunan permanennya mulai dibangun pada tahun 1925.
Pasar Beringharjo merupakan bagian dari konsep tata kota Kesultanan Yogyakarta yang dikenal sebagai Catur Tunggal, bersama Keraton, Alun-Alun, dan Masjid Gedhe. Pasar ini menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat sejak masa kerajaan hingga sekarang.
Nama Beringharjo berasal dari kata “bering” yang berarti pohon beringin dan “harjo” yang berarti sejahtera. Nama tersebut menggambarkan harapan agar kawasan yang dahulu berupa hutan beringin dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
Pasar Beringharjo beralamat di Jalan Margo Mulyo No. 16, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya berada di kawasan Malioboro dan dekat dengan Benteng Vredeburg.
Pengunjung dapat membeli berbagai produk seperti batik, surjan, blangkon, sarung tenun, kerajinan tangan, jamu tradisional, rempah-rempah, barang antik, jajanan pasar, hingga oleh-oleh khas Yogyakarta.
Pasar Beringharjo memiliki koleksi batik yang sangat lengkap, mulai dari kain batik, batik tulis, batik cap, hingga pakaian jadi dengan berbagai pilihan motif, bahan, dan harga yang beragam.
Bangunan Pasar Beringharjo memadukan arsitektur kolonial Belanda dengan unsur tradisional Jawa. Ciri khasnya terlihat pada gerbang utama yang menghadap Malioboro serta bangunan los dengan konstruksi beton bergaya Arsitektur Indis.
Ya. Pasar Beringharjo telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya karena memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan budaya yang penting bagi Yogyakarta.
Daya tarik utama Pasar Beringharjo adalah sejarahnya yang panjang, koleksi batik yang lengkap, pusat rempah dan jamu tradisional, sentra barang antik, beragam kuliner khas Yogyakarta, serta lokasinya yang berada di jantung kawasan wisata Malioboro.





















