Headline.co.id, Sumatera Selatan ~ Sebanyak 131 calon Bintara Polri dari Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sumatera Selatan mengikuti sosialisasi pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim Cegah Satgaswil Densus 88 AT Polda Sumatera Selatan pada Jumat, 24 Juli 2026, dari pukul 08.00 hingga 10.00 WIB di Gedung Bhayangkara SPN Polda Sumsel.
Briptu Muhammad Alfarezi, S.H., bertindak sebagai pemateri dalam acara tersebut. Sosialisasi ini juga dihadiri oleh PLT Ka SPN Polda Sumsel Kombes Pol. Yusantiyo Sandhy, S.H., M.Si, Kabag Jarlat AKBP Henry Ambaruan, S.H., M.H., dan Paur Korsis AKP Dedi Hariyanto, S.H. Dalam pemaparannya, Tim Cegah Satgaswil Sumsel menekankan pentingnya menanamkan pemahaman tentang bahaya IRET sejak masa pendidikan. Calon anggota Polri diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan, persatuan, dan kebhinekaan bangsa.
Briptu Muhammad Alfarezi menyatakan, “Polri tidak hanya bertugas menegakkan hukum, tetapi juga menjadi teladan dalam menjaga toleransi. Pemahaman yang keliru terhadap agama, ideologi, maupun kondisi sosial bisa menjadi pintu masuk paham radikal.” Pernyataan ini dilansir dari TBN Sumsel pada Sabtu, 25 Juli 2026.
Para peserta sosialisasi juga dibekali pengetahuan mengenai sarana penyebaran radikalisme, cara mengenali situs web dan akun yang bermuatan radikal, tren modus baru aksi teror, serta contoh kasus keterlibatan anggota Polri dan anak muda dalam jaringan terorisme. Data mengenai keterlibatan generasi muda dalam terorisme dan fenomena WAG PCS di lingkungan Polri turut menjadi sorotan.
“Bahaya terbesar adalah ketika anggota Polri terpapar paham radikal. Itu bisa merusak kepercayaan publik dan melemahkan institusi dari dalam,” tegas Briptu Muhammad Alfarezi. Kegiatan sosialisasi ini berjalan lancar dan merupakan bagian dari komitmen Polri untuk mencegah radikalisme sejak di lingkungan pendidikan.



















