Headline.co.id, Empat Mahasiswa Dari Program Studi Penyuluhan Dan Komunikasi Pertanian ~ Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, berpartisipasi dalam kegiatan inventarisasi dan monitoring keanekaragaman hayati di Taman Hutan Raya (Tahura) KGPAA Mangkunagoro I, Gunung Lawu, Jawa Tengah. Kegiatan yang berlangsung pada 4-6 Mei ini bertujuan mendukung pelestarian lingkungan dan pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan. Program ini merupakan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media, serta didukung oleh PT Pertamina Patra Niaga AFT Adi Sumarno, Ailesh sebagai fasilitator teknis, dan Kelompok Tani Hutan Green Lawu.
Mahasiswa yang terlibat adalah Azarine Malika Zayyan, Aisya Alifarizki, Salma Darajatun, dan Muhammad Rafi Gunadi. Mereka aktif dalam proses inventarisasi dan monitoring keanekaragaman hayati bersama para pemangku kepentingan lainnya. Azarine menyatakan harapannya agar data hasil inventarisasi dapat digunakan sebagai referensi pengelolaan kawasan dalam jangka panjang. “Kami berharap data hasil inventarisasi yang kami buat bisa digunakan sebagai referensi pengelolaan kawasan dalam jangka panjang,” ujarnya pada Senin (11/5).
Azarine juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan ekosistem dan biodiversitas Indonesia. Partisipasi dari berbagai pihak diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi konservasi lingkungan. Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa UGM menunjukkan peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan. “Semoga ke depannya, program ini dapat menjadi model kolaborasi pengelolaan kawasan konservasi berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi multipihak,” tambahnya.
Kawasan Gunung Lawu dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang kaya, termasuk flora endemik, satwa liar, dan ekosistem hutan yang penting bagi kehidupan masyarakat sekitar. Namun, aktivitas manusia yang meningkat di kawasan tersebut memerlukan pemantauan berkala untuk menjaga kelestarian ekosistem. Oleh karena itu, inventarisasi dilakukan dengan mendata dan mendokumentasikan berbagai jenis flora dan satwa di Tahura KGPAA Mangkunagoro I.
Selain memetakan kondisi ekosistem, kegiatan ini juga bertujuan memantau perubahan populasi spesies sebagai dasar pengambilan kebijakan konservasi di masa depan. Nova Dewi Soraya dari Ailesh menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam konservasi keanekaragaman hayati agar pelestarian ekosistem dapat berkelanjutan. “Keterlibatan mahasiswa di event ini, saya rasa penting untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dan riset akademik dengan pengelolaan kawasan konservasi di lapangan,” ujarnya.






















