Headline.co.id, Rasha Putra Permata ~ seorang penyandang disabilitas berusia 18 tahun, berhasil mewujudkan impiannya untuk melanjutkan studi di Program Studi Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM). Meskipun harus menggunakan kursi roda akibat spinal muscular atrophy (SMA) tipe 2, Rasha tidak menjadikan hal tersebut sebagai penghalang. Dengan dukungan penuh dari kedua orang tuanya, Harsa Permata dan Triani Priliastuti, Rasha diterima di UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Sejak lama, Rasha telah tertarik untuk berkuliah di UGM. Ia sering mengunjungi kampus tersebut dan merasa nyaman dengan suasana akademiknya. “Saya memang sudah lama ingin kuliah di UGM. Saya sering ke UGM dan menurut saya suasana kampusnya nyaman,” ungkap Rasha pada Jumat (10/7). Ketertarikannya pada bidang robotika dan pemrograman yang dipelajarinya sejak SMA menjadi alasan utama memilih Teknik Fisika.
Selama masa persiapan SNBT, Rasha harus belajar secara mandiri karena keterbatasan aksesibilitas di lembaga bimbingan belajar. Ia mengumpulkan soal-soal latihan dari teman-temannya dan belajar hingga larut malam. “Rasha tidak bisa ikut bimbel karena banyak tempat les yang belum aksesibel,” jelas Triani, ibunya. Materi Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi Rasha.
Aktivitas Organisasi dan Dukungan Keluarga
Di SMA Negeri 3 Yogyakarta, Rasha aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai pengurus bidang internal multimedia. Ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan pentas seni. “Selama di SMA saya aktif di OSIS sebagai pengurus internal multimedia,” katanya. Dukungan dari kedua orang tuanya sangat berperan dalam keberhasilannya. Mereka selalu percaya bahwa Rasha memiliki potensi besar untuk bersinar.
Harapan untuk Kampus Inklusif
Kedua orang tua Rasha berharap UGM dapat terus meningkatkan fasilitas yang ramah bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Mereka yakin bahwa aksesibilitas yang baik akan membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa disabilitas untuk mengembangkan potensi mereka. “Harapan kami, UGM terus meningkatkan aksesibilitas agar mahasiswa disabilitas bisa belajar dengan nyaman,” ujar Harsa, ayah Rasha.
Dengan semangat dan kerja kerasnya, Rasha membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk meraih impian. Dukungan keluarga dan lingkungan yang inklusif menjadi kunci penting dalam perjalanan pendidikannya.




















