Headline.co.id, Jogja ~ Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan dengan berkolaborasi lintas sektor. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bersama dengan jajaran kementerian, menggandeng UGM dalam kegiatan penanaman pohon di green corridor Jalan Ruas Tol Prambanan-Purwomartani pada Sabtu (25/4).
Kegiatan ini merupakan upaya nyata untuk menghadirkan ruang terbuka hijau di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur. Selain berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem, green corridor diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan mendukung mitigasi perubahan iklim. Dalam kegiatan tersebut, sejumlah civitas akademika UGM turut hadir, termasuk Dekan Fakultas Kehutanan beserta mahasiswa yang meninjau langsung lokasi penanaman.
Dalam sambutannya, AHY menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam merancang dan mengimplementasikan kebijakan pembangunan. Ia menyatakan bahwa pemerintah tidak hanya mengedepankan konsep, tetapi juga mendorong aksi nyata melalui pendekatan pentahelix. “Saya mengatakan kepada Bu Rektor kalau kami selalu ingin menggunakan pendekatan pentaheliks, tidak sekadar menjadi teori tetapi langsung action,” ujarnya.
AHY menambahkan bahwa keterlibatan perguruan tinggi seperti UGM sangat penting untuk memastikan kebijakan berbasis riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ia juga menekankan bahwa pembangunan infrastruktur harus berorientasi pada manusia (people first), dengan tujuan akhir meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat.
Ia juga menggarisbawahi bahwa tantangan pembangunan saat ini semakin kompleks, terutama dengan munculnya ancaman ekologis. Menurutnya, konsep survival interest tidak lagi hanya terkait ancaman militer, tetapi juga mencakup kemampuan suatu bangsa dalam menghadapi krisis lingkungan seperti deforestasi, polusi, dan emisi gas rumah kaca. “Kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan ring of fire turut memperbesar risiko bencana, sehingga dibutuhkan kebijakan yang responsif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, pengembangan ruang terbuka hijau menjadi salah satu solusi strategis. AHY menyebut bahwa kebutuhan ruang terbuka hijau sebesar 30 persen di setiap kota masih menjadi tantangan, terutama di tengah keterbatasan lahan akibat pembangunan. Oleh karena itu, pemanfaatan green corridor di sepanjang jalan tol dinilai sebagai inovasi yang relevan untuk menjawab kebutuhan tersebut. “Ketika kita sulit untuk mendapatkan ruang terbuka hijau di tengah pembangunan ini, di sinilah kita memanfaatkan green corridors jalan tol. Ini semua adalah aksi bersama-sama,” ungkapnya.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Ph.D., menyampaikan kesiapan UGM untuk terus berkolaborasi dalam mendukung pengembangan ruang terbuka hijau berbasis keilmuan. Ia menekankan pentingnya peran Fakultas Kehutanan dalam menentukan jenis tanaman yang tepat, termasuk tanaman endemik yang memiliki kemampuan optimal dalam menyerap karbon. “Saya kira disini yang memiliki potensi kerja sama adalah dengan fakultas kehutanan,” katanya.
Ova menambahkan bahwa pemanfaatan kawasan jalan tol sebagai ruang terbuka hijau memiliki potensi yang sangat besar. Ia menyebut ketersediaan lahan yang luas di sepanjang jalan tol membuka peluang strategis untuk pengembangan vegetasi yang tidak hanya memperindah kawasan, tetapi juga berkontribusi terhadap penyerapan karbon. Ia menyampaikan kesiapan UGM untuk berkolaborasi dalam mendukung inisiatif tersebut. “Saya kira kami siap untuk berkolaborasi untuk itu,” pungkasnya.




















