Headline.co.id, Jakarta ~ Ketidakpastian di pasar global berdampak pada fluktuasi nilai tukar Rupiah. Bank Indonesia (BI) mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar tersebut. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan pada Kamis (23/4/2026) di Jakarta bahwa kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah terus diperkuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Destry menjelaskan bahwa BI memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-pasar untuk menjaga daya tarik aset domestik. Langkah ini diambil terutama karena dampak berkelanjutan dari konflik di Timur Tengah terhadap pasar keuangan global. “Kami terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian ini,” jelas Destry.
Dari sisi fundamental, posisi cadangan devisa Indonesia tetap kuat, tercatat sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026. Angka ini dinilai cukup untuk mendukung stabilitas eksternal dan menjaga kepercayaan pasar. “Cadangan devisa yang kuat ini menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar,” katanya.
Destry menegaskan kembali bahwa Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Ke depan, Destry optimis bahwa nilai tukar Rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.





















