Mutiara Headline
banner 325x300
Kirim Berita Suara Pembaca
EkonomiHumanioraReligi

Pemprov Jateng Akan Bangun Masjid Agung Jawa Tengah di Magelang, Desain Masjid Di Sayembarakan

385
×

Pemprov Jateng Akan Bangun Masjid Agung Jawa Tengah di Magelang, Desain Masjid Di Sayembarakan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Bedug Masjid Agung
Ilustrasi Bedug Masjid Agung. (Ist)

Headline.co.id (Semarang) ~ Untuk mendukung program Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KPSN) Borobudur, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Magelang, berencana membangun Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Renananya lokasi pembangunan masjid agung akan dibangun di Kabupaten Magelang.

Baca juga: Peringatan Dini, Bendung Katulampa Siaga III

Rencana pembangunan MAJT tersebut sedang dimatangkan. Mengenai teknis dari rencana tersebut tengah disiapkan. Rencananya tahun depan akan mulai dilakukan pembangunan fisiknya. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Cipta Karya Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono Rabu (19/2/2020).

Hanung mengungkapkan, MAJT untuk menunjang salah satunya kawasan super prioritas Borobudur (KSPN Borobudur) . Pihaknya melihat itu sebagai scope. Scope, yang memang satu kesatuan.

Diketahui, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Magelang memang berniat membangun Masjid Agung Jawa Tengah di Kabupaten Magelang. Hal itu bertujuan pula untuk memberikan wadah untuk tempat ibadah sekaligus jadi pusat kajian atau Islamic Center.

Baca juga: Menteri KKP Manfaatkan Teknologi Untuk Dorong Penguatan Pelayanan Perikanan 

Ia menambahkan, Islamic Center itu merupakan gagasan yang muncul dari para ulama Magelang, yang melihat bahwa belum ada tempat yang memadai untuk kegiatan ibadah dan pusat kajian Islam.

Selain menjadi tempat peribadatan seperti salat, pengajian tafsir, dan lainnya, juga jadi pusat non peribadatan seperti wisuda, musda, pernikahan, seminar, pameran, wisata, dan UMKM. Termasuk juga, tujuan pembangunan juga untuk mendorong wisata halal, serta wisata religi.

Menurutnya, nantinya akan didirikan bangunan pendukung seperti untuk pejalan kaki di sebelah Sungai Elo, dan lainnya. Masyarakat nantinya juga bisa menikmati pemandangan desa, yang akan menjadi satu kesatuan dengan desa wisata. Bahkan nantinya pula, pintu masuk kawasan itu akan dibangun sedemikian rupa. Yang muaranya untuk membangun pariwisata nasional.

Baca juga: Kepala Bappenas Pastikan Ibu Kota Negara Bebas Banjir

Rencana pembangunan MAJT di Magelang juga tak lepas pula dari visi menuju Jateng yang sejahtera dan berdikari. Dengan misinya membangun masyarakat Jateng yang religius, toleran, dan guyub, untuk menjaga negara kesatuan Republik Indonesia.

“Pengungkit untuk meningkatkan kesejahteraan, meningkatan persaudaraan dan lain-lain. Inilah yang harus kita pupuk,” ungkapnya.

Menurutnya, rencana MAJT di Magelang juga sebagai konektivitas Borobudur, Gereja Ayam, Puthuk Setumbu, dan Mendut. Luas lahannya mencapai 5 hektare (Ha) . Itu untuk mengembangkan bangunan masjid yang sudah ada. Dalam hal ini, Masjid An-Nuur yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Sawitan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

‘’Ada masjid lama 1,5 Ha, aset kabupaten. 3,5 Ha sudah dibebaskan dan hampir selesai. Lahan belakangnya akan kita pakai. Pembebasan lahan sudah selesai sebagian besar. Tinggal sedikit,’’ jelasnya.

Baca juga: Menteri Keuangan Berencana Kenakan Tarif Pada ‘Asap Knalpot’

Ia menambahkan, pembangunan masjid fisiknya kita rencanakan tahun depan. Tahun ini DED (Detail Engineering Design) final, termasuk sayembara hingga studi banding, dari pakar, profesional, pakar lingkungan, akademisi, biar bisa menjadi lebih baik.

Hanung menjelaskan kaitan sayembara desain MAJT, saat ini sudah ada 30 peserta yang berniat mengikutinya. Dengan peserta berasal dari seluruh dunia. Yang jelas, kata dia, desainnya nanti yang diharapkan akan bernuansa islami dan Jawa Tengah. Tujuan sayembara tersebut agar masyarakat umum juga dilibatkan. Sehingga ide mereka bisa ditampung dan dipilih yang terbaik.

Dengan juri sayembara mulai dari budayawan, legislatif, yudikatif, kalangan arsitektur baik nasional atau daerah, sampai akademisi. ‘’Akan dipilih enam besar dari sayembara,’’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *