Mutiara Headline
banner 325x300
Kirim Berita Suara Pembaca
Wisata & Kuliner

Fenomena “Revenge Tourism” Mendongkrak Industri Pariwisata di Indonesia

1250
×

Fenomena “Revenge Tourism” Mendongkrak Industri Pariwisata di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Destinasi Wisata Bali
Destinasi Wisata Bali

Fenomena “Revenge Tourism” Mendongkrak Industri Pariwisata di Indonesia ~ Headline.co.id (Bali). “Revenge tourism”, yaitu trend di mana orang-orang berlomba-lomba untuk mengganti liburan yang terlewatkan akibat pembatasan pandemi, terus berkembang pesat di Indonesia. Lonjakan semangat berwisata ini membuka peluang bisnis baru bagi perusahaan dalam ekosistem pariwisata nasional, termasuk lembaga keuangan dan agen perjalanan.

Baca juga: Menteri Keuangan Sri Mulyani Perketat Pengawasan Impor Melalui Sosial Media

Di Indonesia tentu salah satu tujuan wisata yang terkenal akan keindahannya adalah Bali, namun perlu kamu tau jika kamu mengajak turis asing berlibur di Bali pastikan kamu telah mengurus Mengurus visa mereka apabila belum kamu bisa mengurusnya di Visa Agent Bali

Menurut Amir Widjaya, Executive Vice President Marketing & Lifestyle Business Division Bank OCBC NISP, sebanyak 35 persen penduduk Indonesia mengaku telah menghabiskan uang secara impulsif dalam hal gaya hidup dalam enam bulan terakhir. Pengeluaran ini mencakup tiket konser, perjalanan, dan belanja berlebihan.

“Kecenderungan ini sejalan dengan temuan dalam laporan Financial Fitness Index 2023 yang baru-baru ini dirilis oleh Bank OCBC NISP,” ujar Amir.

Baca juga: Kenapa Kamera Depan Instagram Blur? Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya

Bank OCBC NISP telah menghadirkan beragam produk untuk mengakomodasi tren ini, seperti layanan transaksi yang nyaman dan penarikan uang dalam mata uang asing saat bepergian ke luar negeri. Namun, Amir menekankan pentingnya memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang pengeluaran yang bijak untuk menghindari mengorbankan kebutuhan dasar dan investasi yang aman.

Doan Lingga, CEO PT Caturnusa Sejahtera Finance (Traveloka PayLater), mengamati bahwa “revenge tourism” mencerminkan minat kembali untuk berwisata setelah pelonggaran pembatasan COVID-19. Traveloka mencatat permintaan perjalanan yang stabil sepanjang tahun. Misalnya, pada Agustus 2023, terutama menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-78, Traveloka mencatat peningkatan 55,5 persen dalam pemesanan akomodasi dari 31 Juli hingga 6 Agustus, dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Terjadi juga peningkatan 20 persen dalam transaksi moda transportasi darat (bus dan kereta) selama periode yang sama, dengan Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang menjadi tujuan favorit.

Baca juga: Kapan Jogja Hujan? Ini Penjelasan dari BMKG

Pauline Suharno, Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo), mencatat bahwa semangat masyarakat untuk berwisata kembali mencapai tingkat sebelum pandemi. Setiap ada kesempatan liburan, orang-orang bersemangat untuk berangkat, meskipun biaya berbagai produk dan layanan perjalanan cenderung lebih tinggi.

Di paruh kedua tahun 2023, banyak pameran dan pasar wisata muncul, termasuk Kompas Travel Fair 2023, Astindo Travel Fair 2023, Korean Travel Expo 2023, dan Asita Travel Fair 2023. Novi Eastiyanto, Wakil Direktur Bisnis Harian Kompas, menyampaikan optimisme akan pemulihan industri pariwisata, dengan menekankan bahwa setelah masa stagnasi selama pandemi, sektor pariwisata mulai berkembang pada tahun 2022. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan Nusantara melampaui target pemerintah, dengan 5,5 juta wisatawan mancanegara dan 800 juta wisatawan domestik mengunjungi Indonesia pada tahun 2022. Didorong oleh kinerja kuat sektor pariwisata pada kuartal pertama 2023, pemerintah telah meningkatkan target kunjungan wisman menjadi 8,5 juta dan bertujuan mencapai devisa sebesar 6 miliar dolar AS. Untuk wisatawan domestik, pemerintah berharap dapat melampaui target pergerakan wisnus sebanyak 1,2-1,4 miliar perjalanan pada tahun 2023.

Sementara itu, Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menjelaskan bahwa fenomena “revenge tourism” disebabkan oleh dua tahun berturut-turut pembatasan perjalanan pada tahun 2020 dan 2021. Selama periode tersebut, tabungan di bank melonjak. Namun, dalam enam bulan terakhir, tabungan bank mengalami penurunan, menunjukkan peningkatan belanja konsumen.

Baca juga: Peningkatan Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi: BPPTKG Catat 30 Gempa Guguran

Bagi kelompok menengah dan atas, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan aktivitas yang sebelumnya tertunda, dengan perjalanan menjadi salah satunya. Para pelaku usaha dalam industri pariwisata tetap optimistis terhadap tren ini. Maskapai penerbangan dan agen perjalanan yang mengalami kerugian selama pandemi kini berupaya pulih.

“Paling tidak, tahun 2023 bisa digunakan untuk mengatasi kerugian mereka. Lembaga keuangan, seperti bank, juga senang dengan semangat tinggi masyarakat untuk berwisata, karena mereka dapat memberikan pinjaman konsumen dengan lebih agresif,” kata Ahmad.

Jika mungkin ada sahabat atau kenalan Anda yang merupakan turis mancanegara yang ingin memperpanjang visa mereka atau istilah lain Visa Extension Bali, maka temukan semua di fabiovisatravel.com! Mulailah petualangan baru Anda di pulau Bali dengan kelancaran dan kenyamanan!

Baca juga: Misteri Gumpalan Hitam di Pantai Gunungkidul? Ini Penjelasan DLH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tangkapan Layar video aksi WNA tanpa busana meditasi di depan tempat persembahyangan umat hindu di Bali
Berita

Kantongi Identitas,Pihak Imigrasi Buru WNA Meditasi Tanpa Busana ~ Headline.co.id (Bali). Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar telah memulai penyelidikan untuk mengidentifikasi dan menindaklanjuti peristiwa meditasi kontroversial seorang Warga Negara…