Headline.co.id, Jakarta ~ Headline.co.id, Jakarta (Kemenag) — Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama, Helmi Nasaruddin Umar, memperkenalkan Sakinah Care sebagai layanan digital untuk mendampingi pasangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Inovasi KUA Tanah Abang itu diluncurkan dalam kegiatan Marriage Refresh bertema “Bahagia Memilihmu” di Jakarta, Sabtu (31/10/2026). Sakinah Care dirancang untuk membantu pasangan mengenali kebutuhan relasi, memahami persoalan rumah tangga, serta memperoleh pendampingan setelah menikah melalui teknologi digital.
Peluncuran Sakinah Care menjadi bagian dari kegiatan yang mengusung subtema “Kuatkan Cinta, Menjaga Berkah, Merawat Bahagia”. Melalui layanan tersebut, pasangan tidak hanya memperoleh pembekalan sebelum menikah, tetapi juga memiliki ruang untuk bertanya dan mencari pendampingan ketika menghadapi persoalan dalam kehidupan keluarga.
“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, Sakinah Care saya nyatakan resmi hadir sebagai inovasi layanan program pendampingan dan penguatan keluarga,” ujar Helmi saat meluncurkan aplikasi tersebut.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Memahami karakter dan kebutuhan pasangan
Helmi menjelaskan, Sakinah Care dikembangkan dengan fitur bernama Affection Blue Print. Inovasi berbasis kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) itu dirancang untuk membantu pasangan mengenali karakter dan kebutuhan masing-masing.
Fitur tersebut juga mencakup pemahaman mengenai bahasa cinta, pola komunikasi, serta berbagai hal yang memengaruhi kualitas hubungan. Dengan pendekatan itu, pasangan diharapkan dapat mengenali persoalan relasi sejak dini dan memahami masalah secara lebih terarah.
Materi pendampingan dalam Sakinah Care meliputi komunikasi suami istri, pengelolaan emosi, kesehatan mental, pengasuhan anak, dan cara menghadapi konflik. Materi tersebut diharapkan dapat membantu pasangan memperoleh bekal sebelum persoalan berkembang menjadi pertengkaran berkepanjangan.
Menurut Helmi, kebutuhan pendampingan keluarga tidak berhenti pada pencatatan perkawinan atau bimbingan sebelum akad. Pasangan juga memerlukan ruang untuk menyampaikan kesulitan dan mencari jalan keluar ketika menghadapi perubahan dalam kehidupan rumah tangga.
Teknologi perlu terhubung dengan tenaga profesional
Helmi menilai teknologi dapat memperluas akses pasangan terhadap informasi dan pendampingan keluarga. Namun, ia mengingatkan agar Sakinah Care tidak hanya berfungsi sebagai sarana digital.
“Tapi kami perlu mengingatkan aplikasi tidak boleh berhenti sebagai sarana digital. Layanan tersebut perlu terhubung dengan tenaga pendamping dan pihak profesional agar pengguna dapat memperoleh bantuan sesuai kebutuhan, terutama ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut,” imbuhnya.
Karena itu, ia berharap Sakinah Care dapat terhubung dengan Kantor Urusan Agama (KUA), Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP4), konselor, serta tenaga profesional terkait. Keterhubungan tersebut dinilai penting agar layanan tidak berhenti pada pemberian informasi awal, tetapi juga dapat membuka akses konsultasi dan bantuan sesuai persoalan yang dihadapi pasangan.
Helmi juga menaruh perhatian pada kerahasiaan dan keamanan data pengguna. Menurut dia, pasangan harus merasa aman ketika menyampaikan persoalan rumah tangga melalui layanan tersebut.
Kepercayaan pengguna menjadi bagian penting dalam mutu pendampingan. Karena itu, pengelola perlu memastikan privasi tetap terjaga dan mekanisme rujukan berjalan dengan baik.
Keberhasilan diukur dari manfaat bagi keluarga
Helmi mengingatkan, keberhasilan Sakinah Care tidak cukup diukur dari peluncuran aplikasi atau banyaknya pengguna yang mengunduhnya. Evaluasi juga perlu melihat kemudahan akses, kualitas layanan, kepuasan pengguna, serta manfaat nyata yang dirasakan pasangan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan ukuran tersebut, Sakinah Care diharapkan dapat berkembang menjadi layanan yang membantu memperkuat ketahanan keluarga. Inovasi itu juga diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas layanan pendampingan keluarga di lingkungan Kementerian Agama.
Selain Sakinah Care, Helmi menyampaikan gagasan membangun “Klinik Sakinah” sebagai ruang konsultasi bagi pasangan. Layanan tersebut dibayangkan melibatkan mediator, konselor, psikiater, dan tenaga profesional lain sesuai kebutuhan.
“Klinik Sakinah” masih berupa gagasan yang diharapkan dapat dikembangkan untuk menghadirkan pendampingan keluarga yang lebih mudah dijangkau. Helmi juga mengapresiasi inisiatif yang tumbuh dari KUA Kecamatan Tanah Abang.
Ia berharap praktik baik tersebut dapat dikembangkan di wilayah lain sehingga pasangan memiliki akses terhadap pendampingan yang berkelanjutan dalam merawat kehidupan rumah tangga.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















