Headline.co.id, Palangka Raya ~ Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat pelindungan kesehatan warga terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Penguatan dilakukan melalui penyaluran tambahan 137 ribu masker N95, peningkatan layanan di puskesmas dan rumah sakit, serta pemenuhan alat kesehatan untuk menangani gangguan pernapasan akibat kabut asap. Langkah tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat kunjungan kerja di Palangka Raya, Jumat (23/10/2026), karena paparan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk hingga ke paru-paru.
Penyaluran tambahan masker itu merupakan bagian dari rencana pemerintah mendistribusikan hingga 500 ribu masker tambahan untuk setiap provinsi yang terdampak karhutla. Hingga saat ini, pemerintah pusat telah menyalurkan 1.210.230 masker ke berbagai daerah terdampak.
Jumlah tersebut terdiri atas 1.001.680 masker medis 3-ply dan 208.550 masker KN95/N95. Distribusi pemerintah pusat itu belum termasuk ketersediaan serta penyaluran masker yang dilakukan pemerintah daerah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu mengurangi paparan asap, khususnya bagi kelompok masyarakat yang rentan mengalami gangguan kesehatan. Kemenkes juga mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih buruk akibat kabut asap.
Warga Diimbau Kurangi Paparan Asap Karhutla
Budi secara khusus mengingatkan ibu hamil, lanjut usia, bayi, balita, dan masyarakat yang rentan mengalami gangguan kesehatan akibat pencemaran udara agar mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker N95 dengan benar. Masker perlu dipastikan terpasang rapat sehingga tidak terdapat celah pada bagian atas, bawah, maupun samping.
“Kalau tidak perlu, jangan keluar rumah, terutama balita, ibu hamil, dan orang tua. Kalau memang harus keluar, gunakan masker N95 dan pastikan dipakai dengan benar agar tidak ada celah dari sisi atas, bawah, maupun samping,” ujar Budi saat melakukan kunjungan kerja di Palangka Raya, Jumat (23/10/2026), seperti disampaikan dalam rilis Kemenkes.
Menurut Budi, asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan partikel tersebut berisiko memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.
Masyarakat diminta membatasi paparan asap, memantau kondisi kesehatan, dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala gangguan pernapasan yang memburuk.
Puskesmas Diperkuat untuk Tangani ISPA
Kemenkes mendorong tenaga kesehatan di puskesmas meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya kabut asap, penggunaan masker yang benar, dan gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang perlu diwaspadai.
Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, puskesmas dapat diakses masyarakat untuk pemeriksaan dan penanganan awal akibat paparan asap karhutla. Budi menjelaskan, sebagian besar kasus ISPA dapat ditangani di rumah dengan istirahat yang cukup dan menjaga asupan cairan.
Namun, masyarakat perlu segera menjalani pemeriksaan apabila mengalami sesak napas atau gejala lain yang semakin berat.
“Sebagian besar ISPA bisa dirawat di rumah dengan istirahat dan minum air yang cukup. Namun, kalau mulai mengalami sesak napas, segera datang ke puskesmas. Jika kondisinya lebih berat, seperti pneumonia atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang memburuk, pasien harus dirujuk ke rumah sakit,” jelas Budi.
Selain memperkuat layanan puskesmas, Kemenkes berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan ketersediaan oksigen. Koordinasi itu mencakup pemenuhan kebutuhan tabung oksigen bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang memerlukannya.
Jumlah Pasien RSUD Doris Sylvanus Meningkat Tiga Kali Lipat
Kesiapan rumah sakit menghadapi dampak kesehatan kabut asap juga menjadi perhatian Kemenkes. Saat meninjau RSUD dr. Doris Sylvanus di Palangka Raya, Budi menerima laporan bahwa jumlah pasien meningkat hingga tiga kali lipat.
Meskipun kapasitas pelayanan rumah sakit masih tersedia, lonjakan pasien perlu diantisipasi agar pelayanan medis tetap berjalan optimal. Pasien juga perlu memperoleh penanganan sesuai tingkat keparahan penyakitnya.
Untuk menangani pasien dengan gangguan pernapasan berat, Kemenkes akan mempercepat pemenuhan ventilator dan alat kesehatan lainnya. Dukungan tersebut terutama ditujukan bagi rumah sakit kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah yang menangani pasien terdampak, termasuk anak-anak.
Ketersediaan peralatan medis diharapkan memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan dalam menghadapi peningkatan kebutuhan pelayanan selama kabut asap masih berlangsung.
Penanganan Kesehatan Berjalan Bersama Pemadaman
Budi menegaskan, pelindungan kesehatan masyarakat harus terus diperkuat selama kabut asap masih mengancam. Penanganan dampak kesehatan perlu berjalan beriringan dengan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan.
Perhatian khusus diperlukan pada lahan gambut karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit. Kondisi cuaca yang mendukung, termasuk hujan berkelanjutan, dapat membantu penanganan kebakaran.
“Kami bersama Dinas Kesehatan, puskesmas, dan rumah sakit berupaya memastikan dampak kesehatannya seminimal mungkin. Masyarakat perlu mengurangi paparan asap, menggunakan masker dengan benar, dan segera mencari pertolongan jika mengalami gangguan pernapasan,” tutup Budi.
Melalui penyaluran masker N95, penguatan puskesmas dan rumah sakit, serta pemenuhan kebutuhan alat kesehatan, Kemenkes berupaya menjaga akses pelayanan medis bagi masyarakat terdampak karhutla di Kalimantan Tengah. Upaya tersebut juga disertai imbauan kepada masyarakat untuk mengurangi paparan asap dan mengenali gejala gangguan pernapasan selama kabut asap berlangsung.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















