Headline.co.id, Gorontalo ~ Pengamatan burung di kawasan Danau Limboto, Kabupaten Gorontalo, melibatkan 69 mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Minggu (18/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Festival Bulalo Limutu yang digelar Limutu Ecolodge dan Biodiversitas Gorontalo (Biota). Para mahasiswa melakukan pengamatan, identifikasi, serta pendataan burung air di habitat alaminya untuk mengenali keanekaragaman hayati dan memahami keterkaitannya dengan perencanaan tata ruang.
Pengamatan burung Danau Limboto itu dilakukan karena mahasiswa PWK dinilai perlu memahami aspek ekologi dalam merancang tata wilayah kota. Kegiatan berlangsung melalui pengamatan lapangan menggunakan monokuler, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi mengenai burung air dan burung migrasi di Bandayo Farid Gaban, Limutu Ecolodge.
Mahasiswa Kenali Jenis Burung Air
Sekretaris Biodiversitas Gorontalo (Biota), Rosyid Azhar, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan keanekaragaman burung air sekaligus meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya mempertimbangkan aspek ekologi dalam perencanaan tata ruang.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Kami mengajak mahasiswa PWK mengenal habitat burung air karena pada masa depan mereka adalah para perencana tata wilayah kota yang harus mempertimbangkan kepentingan ekologi selain kebutuhan manusia,” kata Rosyid Azhar, Minggu (18/10/2026).
Dalam pengamatan itu, peserta menemukan sejumlah jenis burung, lain kuntul besar (Ardea alba), kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), dan blekok sawah (Ardeola speciosa).
Peserta juga mendata dara laut (Sternidae), cangak merah (Ardea purpurea), serta gagang bayam timur (Himantopus leucocephalus). Selain itu, terdapat delapan ekor burung migran yang belum teridentifikasi.
Jenis burung lainnya yang terdata ialah raptor berupa elang bondol (Haliastur indus) dan burung layang-layang (Hirundinidae). Berbagai temuan tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa untuk membedakan jenis burung berdasarkan ciri fisiknya.
Penyusutan Air Memengaruhi Persebaran Burung
Rosyid menjelaskan, kondisi Danau Limboto yang mengalami penyusutan air pada puncak musim kemarau turut memengaruhi persebaran burung air. Burung-burung tersebut cenderung berkumpul di bagian danau yang masih memiliki genangan air dan hamparan lumpur.
Perubahan kondisi habitat juga memengaruhi cara burung mencari makan. Kuntul kecil mencari makan di perairan dangkal. Sementara itu, kuntul kerbau mencari makan di area danau yang mengering dengan mengikuti sapi atau kawanan ternak.
Melalui pengamatan langsung, mahasiswa mempelajari karakteristik burung dengan bantuan monokuler. Alat tersebut digunakan untuk melihat perbedaan bentuk paruh, warna bulu, dan panjang leher yang menjadi ciri sejumlah burung yang diamati.
Pengamatan tersebut juga memperkenalkan mahasiswa pada karakteristik habitat burung air serta keterkaitannya dengan kondisi lingkungan Danau Limboto. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya berfokus pada pengenalan nama dan jenis burung, tetapi juga pada hubungan keberadaan satwa dan perubahan habitatnya.
Diskusi Burung Migrasi
Setelah pengamatan lapangan, Rosyid mengenalkan burung-burung migrasi di Danau Limboto dalam sesi diskusi di Bandayo Farid Gaban yang berada di Limutu Ecolodge. Rosyid juga merupakan anggota Communication Education Participation and Awareness (CEPA) Kemitraan Nasional Konservasi Burung Bermigrasi dan habitatnya (KNKBBH).
Mahasiswa PWK UNG, Rizkyah Wahyuni Saputri, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru karena ia dapat mengenali berbagai jenis burung yang sebelumnya belum diketahuinya. Ia menilai pengamatan langsung membantunya memahami keragaman burung yang hidup di kawasan Danau Limboto.
Hal serupa disampaikan mahasiswa PWK UNG lainnya, Moh Fauzan Syamil Lumbengi. Penggunaan monokuler membantunya mengidentifikasi perbedaan karakteristik burung yang sekilas terlihat serupa.
Festival Bulalo Limutu melalui kegiatan ini menghadirkan ruang pembelajaran langsung bagi generasi muda untuk memahami keanekaragaman hayati serta pentingnya menjaga ekosistem Danau Limboto.
Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah kolaborator, yakni Kelompok Studi Lingkungan Archipelago, Himpunan Mahasiswa PWK Schediasi, dan LPM Akurat Fakultas Teknik UNG.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















