Headline.co.id, Jakarta ~ BMKG memprediksi musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat dari kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia. Pada saat yang sama, jarak awal musim hujan dan periode puncaknya diperkirakan berdekatan sehingga pemerintah daerah dan masyarakat diminta memperkuat kesiapsiagaan. Puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember, Januari, hingga Februari. Prediksi tersebut disampaikan Direktur Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab dalam konferensi pers secara daring bersama Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).
Musim hujan 2026/2027 menjadi perhatian karena periode hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. BMKG menyampaikan prediksi itu berdasarkan analisis kondisi atmosfer dan lautan hingga September 2026, ketika fenomena El Nino masih aktif dengan intensitas sangat kuat dan diprediksi bertahan hingga awal 2027.
El Nino Bertahan, Kemarau Tetap Beralih ke Musim Hujan
Fachri menjelaskan, keberlanjutan El Nino hingga awal 2027 tidak berarti musim kemarau akan berlangsung sampai periode tersebut. Musim kemarau tetap akan berangsur berakhir dan beralih menuju musim hujan secara bertahap.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Yang bertahan sampai awal 2027 adalah El Ninonya. Sementara musim kemarau sendiri akan berangsur-angsur berakhir, beralih ke musim penghujan,” ujar Fachri.
Menurut dia, secara umum musim hujan tahun ini diperkirakan tiba lebih lambat dibandingkan kondisi normal. Adapun puncak musim hujan diprediksi terjadi selama tiga bulan, yakni Desember, Januari, dan Februari.
“Artinya apa? awal musim hujan dengan puncak ini sangat berdekatan. Dan periode puncak musim hujan ada tiga bulan itu, sehingga kita perlu antisipasi intensitas hujan yang tinggi, tapi dalam periode yang pendek,” kata Fachri.
BMKG Gunakan 699 Zona Musim untuk Perincian Prediksi
Untuk memberikan gambaran yang lebih spesifik, BMKG membagi wilayah Indonesia berdasarkan karakteristik iklim yang relatif serupa ke dalam zona musim atau ZOM. Saat ini terdapat 699 ZOM di Indonesia.
Pembagian tersebut memungkinkan perkembangan musim dianalisis dan disampaikan berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah. Informasi berbasis zona musim dinilai penting karena kondisi musim tidak selalu berlangsung seragam di seluruh Indonesia.
Dengan prediksi berdasarkan ZOM, pemerintah daerah dan masyarakat dapat menyesuaikan langkah kesiapsiagaan serta perencanaan kegiatan dengan kondisi wilayah masing-masing. Langkah tersebut diperlukan untuk menghadapi kemungkinan hujan berintensitas tinggi sekaligus mengelola dampaknya dalam periode puncak musim hujan.
Informasi Musim Dimanfaatkan Berbagai Sektor
Fachri menegaskan, informasi cuaca dan iklim BMKG tidak hanya digunakan untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi. Data tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh sektor-sektor yang aktivitasnya dipengaruhi kondisi cuaca dan iklim.
Sejumlah sektor yang dapat menggunakan informasi BMKG lain pertanian, perkebunan, peternakan, pariwisata, kesehatan, pertahanan dan keamanan, serta pengelolaan air. Informasi cuaca dan iklim dapat menjadi dasar dalam perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan sehingga keputusan dapat disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan iklim.
“Kita sangat meyakini dengan sinergi, koordinasi, dan kesiapsiagaan sejak dini, kita dapat mengoptimalkan manfaat musim hujan ini dan dapat mengurangi risiko bencana yang bisa terjadi,” tambah Fachri.
Menurutnya, musim hujan juga membawa manfaat bagi pertanian, pengelolaan air, dan pembangunan. Karena itu, informasi musim tidak semata-mata perlu dipandang dari sisi risiko, tetapi juga dapat digunakan untuk mengoptimalkan berbagai kegiatan yang membutuhkan dukungan kondisi hujan.
BMKG Perkuat Koordinasi dan Penyampaian Informasi
BMKG menyatakan akan terus meningkatkan kualitas informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika agar semakin akurat, tepat waktu, serta mudah dipahami oleh masyarakat dan pengguna jasa.
Fachri mengatakan, kualitas informasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan BMKG dalam menghasilkan data dan prediksi. Informasi tersebut baru memberikan manfaat apabila diterima dan dipahami pengguna secara tepat waktu.
“Informasi kami itu tidak akan berdampak kalau pengguna jasa tidak menerima dengan baik informasi, tidak menerima secara tepat waktu,” jelasnya.
Karena itu, BMKG akan memperkuat koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah serta berbagai pemangku kepentingan. Langkah tersebut diharapkan memastikan informasi cuaca, iklim, dan peringatan dini tidak berhenti sebagai informasi, tetapi diterjemahkan menjadi kesiapsiagaan, perencanaan, dan pengambilan keputusan di berbagai sektor.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















