Headline.co.id, Jakarta ~ Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengajak para jawara dan perguruan silat di Banten menjadi bagian dari sabuk kamtibmas dengan bersinergi bersama Polri. Ajakan itu disampaikan saat Kapolri meresmikan Balai Latihan Seni Silat sekaligus memperingati Milad ke-3 Pesanggrahan Tjimande Banten Indonesia (PTBI) di Banten, Jumat (18/9/2026). Para jawara diminta ikut menjaga keamanan, memberantas penyakit masyarakat, dan melindungi warga dengan memanfaatkan kemampuan bela diri untuk membela kebenaran. Menurut Kapolri, sinergi tersebut diperlukan untuk menjaga wilayah Banten tetap aman dan kondusif.
Kapolri minta jawara Banten jaga keamanan
Kapolri menegaskan, jawara dan pendekar memiliki peran penting di tengah masyarakat. Kemampuan bela diri yang dimiliki para pendekar, kata dia, harus digunakan untuk menghadirkan rasa aman, membela kelompok yang lemah, serta menjaga kepentingan masyarakat.
“Yang namanya pendekar, yang namanya jawara selalu membela kebenaran, membela yang lemah, dan tentunya bersama-sama dengan Polri kita titip untuk sama-sama menjaga kamtibmas, sama-sama memberantas penyakit masyarakat, dan sama-sama kita jaga wilayah Banten,” ujar Kapolri.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ia menyebut sinergi Polri dan para jawara menjadi kekuatan penting dalam menjaga keamanan Banten. Namun, kerja sama tersebut perlu ditopang kekompakan dan soliditas seluruh perguruan silat.
Kapolri juga mengingatkan agar kemampuan serta pengaruh para jawara di tengah masyarakat diarahkan untuk kepentingan bersama. Dengan demikian, keberadaan perguruan silat tidak hanya menjadi tempat pembinaan bela diri, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap keamanan lingkungan.
Balai latihan silat diminta hadir di setiap kabupaten
Dalam kesempatan itu, Kapolri mendorong agar padepokan dan balai latihan seni silat tidak hanya terpusat di satu tempat. Ia meminta setiap kabupaten di Banten memiliki tempat pembinaan serupa untuk menjaga, melatih, dan melestarikan seni budaya serta kearifan lokal.
“Jadi saya minta nanti di setiap kabupaten didirikan hal seperti ini sehingga kemudian semua budaya yang ada di Banten bisa dijaga, dilatih, dan dilestarikan,” kata Kapolri.
Menurut Kapolri, pencak silat Tjimande dan seni budaya debus merupakan kekhasan Banten yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan. Tanggung jawab pelestarian itu berada di tangan para pimpinan perguruan dan seluruh pesilat agar nilai-nilai budaya tersebut tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Kapolri berharap pengembangan seni bela diri dan budaya Banten dilakukan dengan menjaga semangat persatuan. Pencak silat Tjimande dan debus juga didorong untuk terus diperkenalkan hingga tingkat nasional.
Pesanggrahan menjadi ruang pembinaan dan kebersamaan
Kapolri menjelaskan, pesanggrahan tidak hanya berfungsi sebagai tempat latihan bela diri. Tempat tersebut diharapkan menjadi ruang untuk belajar, berdiskusi, mempererat silaturahmi, serta menyelesaikan persoalan bersama dengan semangat kebersamaan.
Balai Latihan Seni Silat PTBI pun diharapkan terbuka bagi seluruh perguruan silat dan masyarakat, bukan hanya anggota PTBI. Selain digunakan untuk pembinaan pencak silat, balai tersebut dapat dimanfaatkan bagi kegiatan seni budaya dan pelestarian berbagai kearifan lokal Banten.
Keterbukaan balai latihan itu diharapkan dapat memperkuat hubungan antarpPerguruan silat dan masyarakat. Dengan ruang bersama tersebut, berbagai unsur budaya Banten dapat terus dipelajari dan dikembangkan melalui kegiatan pembinaan.
Silat dan debus berpotensi memberi manfaat ekonomi
Kapolri menilai kekayaan budaya Banten tidak hanya penting bagi penguatan identitas daerah. Jika dikelola dengan baik, pencak silat Tjimande dan seni budaya debus juga dapat dikembangkan serta diperkenalkan lebih luas sehingga memberi manfaat bagi masyarakat.
“Ini menjadi sumber kekuatan yang tentunya apabila kita kelola dengan baik, tidak hanya sekadar budaya saja, tetapi juga bisa kita kembangkan dan perkenalkan,” pungkas Kapolri.
Melalui sinergi Polri, jawara, perguruan silat, dan masyarakat, pelestarian budaya Banten diharapkan berjalan beriringan dengan upaya menjaga keamanan. Para jawara dan pendekar pun didorong untuk menjalankan peran sosialnya dengan membela kebenaran, melindungi kelompok yang lemah, serta ikut menjaga kamtibmas.

















