Headline.co.id, Taman Nasional Tanjung Puting ~ yang terletak di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, menawarkan pengalaman wisata yang unik dan edukatif. Perjalanan dimulai dari Pangkalan Bun, dilanjutkan dengan perjalanan darat selama setengah jam menuju Kumai. Dari pelabuhan Kumai, wisatawan menaiki klotok untuk menyusuri Sungai Sekonyer dan anak-anak sungainya menuju kawasan taman nasional. Jalur air ini menjadi rute utama karena banyak bagian hutan yang tidak terhubung dengan jalan darat. Sepanjang perjalanan, wisatawan dapat menyaksikan perubahan warna air dan aktivitas satwa liar, terutama pada pagi atau sore hari ketika suhu lebih sejuk.
Tujuan utama dari perjalanan ini adalah untuk melihat orangutan Kalimantan, namun pengalaman yang didapat jauh lebih luas. Wisatawan dapat melakukan trekking ringan dan menyaksikan perubahan warna air sungai dari coklat menjadi merah kecoklatan, yang disebabkan oleh pembusukan sisa-sisa tumbuhan di lahan gambut selama ribuan tahun. Perjalanan semakin menantang saat klotok menembus ekosistem gambut yang rapat, memberikan sensasi petualangan yang berbeda.
Setelah sekitar dua jam perjalanan, wisatawan akan tiba di Pondok Tanggui, pusat rehabilitasi orangutan yang pernah didomestikasi. Di sini, kegiatan konservasi dilakukan dengan sesi pemberian pakan terjadwal, memungkinkan pengunjung mengamati orangutan dari jarak aman. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan ke Camp Leakey, pusat penelitian orangutan yang didirikan oleh Dr. Biruté Mary Galdikas pada tahun 1971. Camp ini dinamai untuk menghormati Dr. Louis Leakey, mentor Galdikas, dan menjadi simbol semangat penelitian serta konservasi. Camp Leakey tidak hanya penting dalam studi perilaku orangutan, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata edukatif yang bermakna.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Tanjung Puting juga menjadi rumah bagi berbagai satwa liar lainnya seperti monyet ekor panjang, rusa, babi hutan, buaya, dan bekantan. Perjalanan dengan klotok bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga membawa wisatawan ke dalam pengalaman nyata yang menyerupai halaman ensiklopedia. Saat malam tiba, suasana hutan dan lahan gambut menjadi lebih syahdu dengan irama alam dan hamparan bintang di langit. Wisata ke Tanjung Puting bukanlah untuk mereka yang mencari kemewahan, tetapi bagi yang ingin merasakan petualangan dan belajar menjadi wisatawan yang bertanggung jawab. Pengalaman ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan satwa liar.





















