Headline.co.id, Jakarta ~ Liga utama Inggris memasuki musim 2026/27 dengan antusiasme tinggi, aktivitas transfer besar, serta persiapan teknis yang semakin intensif dari klub-klub peserta. Namun, di balik statusnya sebagai kompetisi sepak bola terkaya, mayoritas klub di empat divisi teratas Inggris diperkirakan menghadapi kerugian finansial. Kondisi tersebut terungkap berdasarkan kajian perusahaan konsultan BDO yang dikutip Goal.com menjelang dimulainya kompetisi. Peningkatan pendapatan dari hak siar dan sektor komersial dinilai belum cukup menutup besarnya pengeluaran operasional serta belanja pemain.
Ancaman kerugian tersebut menjadi tantangan serius bagi pengelola klub liga utama Inggris ketika mereka tetap dituntut membangun skuad kompetitif. Bursa transfer menjelang musim 2026/27 masih menunjukkan aktivitas tinggi dengan sejumlah klub mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk memperkuat tim.
Di sisi lain, persiapan liga utama Inggris terus berjalan melalui pertandingan pramusim, penyusunan komposisi pemain, hingga meningkatnya aktivitas manajer Fantasy Premier League. Situasi ini memperlihatkan dua wajah sepak bola Inggris, yakni pertumbuhan nilai komersial yang sangat besar dan tekanan keuangan yang semakin berat.
Sebanyak 90 Persen Klub Diperkirakan Mengalami Kerugian
BDO memperkirakan sekitar 90 persen klub yang berkompetisi di Liga Primer, Championship, League One, dan League Two akan mencatatkan kerugian finansial. Perkiraan itu muncul meskipun klub-klub Inggris memperoleh pemasukan besar dari hak siar, sponsor, penjualan tiket, dan kegiatan komersial.
“Sekitar 90 persen klub di empat divisi teratas diperkirakan mengalami kerugian finansial,” demikian temuan BDO sebagaimana dikutip dalam laporan Goal.com.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa besarnya pendapatan belum secara otomatis menjamin kesehatan keuangan klub. Pengeluaran untuk gaji pemain, biaya transfer, operasional stadion, akademi, dan kebutuhan teknis lainnya tetap menjadi beban besar.
Aktivitas transfer bernilai ratusan juta euro juga terus berlangsung. Belanja besar memang dapat meningkatkan kualitas skuad dan nilai komersial klub, tetapi strategi tersebut berpotensi menimbulkan masalah apabila tidak disertai perencanaan keuangan jangka panjang.
Nilai sejumlah klub Inggris kini telah mencapai miliaran dolar. Meski demikian, tingginya valuasi tidak selalu menggambarkan kemampuan klub dalam menghasilkan keuntungan dari kegiatan operasionalnya.
Liverpool dan Leicester City Hadapi Situasi Berbeda
Liverpool dan Leicester City menjadi dua contoh yang menggambarkan dinamika finansial klub sepak bola Inggris. Keduanya menghadapi kebutuhan pendanaan, tetapi berada dalam posisi bisnis dan kompetitif yang berbeda.
Liverpool disebut sedang menegosiasikan penjualan 49 persen saham kepada konsorsium yang dipimpin Amit Bhatia. Rencana tersebut berpotensi menghasilkan dana hingga 6 miliar dolar bagi Fenway Sports Group tanpa membuat pemilik kehilangan kendali penuh atas klub.
Langkah itu menunjukkan bagaimana klub bernilai besar dapat memanfaatkan penjualan sebagian saham untuk memperoleh tambahan modal. Dana tersebut dapat digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis maupun memperkuat struktur keuangan klub.
Sementara itu, Leicester City menghadapi situasi yang lebih berat setelah mencatatkan kerugian sebesar 71,1 juta pound sterling. Klub tersebut disebut mencari investor baru setelah mengalami degradasi.
Perbedaan kondisi Liverpool dan Leicester City memperlihatkan bahwa posisi kompetitif sangat memengaruhi kemampuan klub menarik investasi. Degradasi dapat mengurangi pemasukan dari hak siar, sponsor, tiket pertandingan, dan aktivitas komersial lainnya.
Manchester United Mencari Stabilitas Melalui Mason Mount
Di tengah persoalan keuangan yang melingkupi sepak bola Inggris, klub-klub tetap mempersiapkan tim menghadapi kompetisi. Manchester United menjadi salah satu klub yang mulai menetapkan peran lebih jelas bagi Mason Mount selama pramusim.
Michael Carrick menempatkan Mount sebagai gelandang nomor delapan dalam tiga pertandingan uji coba. Peran tersebut dinilai dapat memaksimalkan kemampuan Mount dalam membaca permainan, menghubungkan lini belakang dan lini depan, serta membantu proses transisi.
Mount juga mampu menyediakan jalur progresi bola dari lini tengah. Etos kerjanya terlihat melalui tekanan terhadap pemain lawan, pergerakan tanpa bola, serta kemampuannya menjangkau area permainan yang luas.
Penempatan tersebut menghadirkan optimisme baru setelah Mount beberapa kali berganti posisi dalam tiga tahun terakhir. Erik ten Hag pernah memainkannya di sisi sayap, sedangkan Ruben Amorim menempatkannya sebagai false nine maupun gelandang serang.
Pergantian posisi yang berulang membuat Mount kesulitan memperoleh ritme permainan yang stabil. Cedera juga menjadi hambatan utama sejak pemain asal Inggris itu bergabung dari Chelsea pada musim panas 2023 dengan nilai transfer 55 juta pound sterling atau sekitar Rp1,32 triliun.
Konsistensi peran sebagai gelandang nomor delapan kini menjadi salah satu upaya Manchester United mengoptimalkan investasi besar tersebut. Namun, Mount tetap harus menjaga kebugaran agar dapat memberikan kontribusi sepanjang musim.
Kembalinya Manchester United ke Liga Champions juga membuat kedalaman skuad semakin dibutuhkan. Kemampuan Mount menjalankan beberapa peran dapat membantu proses rotasi ketika tim menghadapi jadwal pertandingan yang padat.
Haaland Menjadi Pilihan Terpopuler di Fantasy Premier League
Antusiasme publik menjelang musim 2026/27 juga terlihat melalui Fantasy Premier League atau FPL. Para manajer FPL dapat melakukan perubahan pemain tanpa batas sebelum tenggat Gameweek 1 pada Sabtu, 22 Agustus 2026, pukul 00.30 WIB.
Erling Haaland menjadi salah satu pemain yang paling banyak dipilih. Penyerang Manchester City itu mengumpulkan 239 poin FPL pada musim sebelumnya, lebih tinggi daripada pemain lain dalam permainan tersebut.
Haaland juga mengoleksi 35 poin kontribusi serangan. Performa itu membuatnya dihargai £15,5 juta dan menjadi pemain termahal sepanjang sejarah FPL.
Harga tinggi tersebut tidak mengurangi minat pengguna. Haaland telah dipilih oleh 75,2 persen manajer FPL dalam susunan awal mereka.
Marc Guehi menjadi pilihan populer di posisi pemain bertahan dengan kepemilikan mencapai 24,7 persen. Ia mengumpulkan 179 poin pada musim sebelumnya melalui 14 clean sheet, tiga gol, lima assist, 22 poin kontribusi defensif, dan 14 poin bonus.
Nico O’Reilly juga mulai menarik perhatian setelah menjalani musim terobosan. Ia mencatatkan lima gol, empat assist, dan 14 clean sheet untuk menghasilkan 160 poin FPL.
Perolehan tersebut meningkat 129 poin dibandingkan musim 2024/25. Harga O’Reilly kemudian naik menjadi £6,5 juta dan sejauh ini telah dipilih oleh sekitar 24 persen manajer.
Musim Baru Menjadi Ujian Pengelolaan Klub
Persiapan pemain, antusiasme pendukung, dan tingginya aktivitas komersial menunjukkan daya tarik sepak bola Inggris belum berkurang. Namun, ancaman kerugian terhadap mayoritas klub memperlihatkan adanya persoalan mendasar dalam pengelolaan anggaran.
Klub-klub dituntut menyeimbangkan kebutuhan membangun skuad dengan kemampuan finansial. Pengeluaran transfer yang besar tanpa perencanaan berkelanjutan berisiko memberikan konsekuensi jangka panjang.
Musim 2026/27 tidak hanya menjadi arena persaingan untuk memperoleh gelar dan bertahan di kompetisi. Musim baru juga menjadi ujian bagi manajemen klub dalam menjaga kesinambungan bisnis di tengah kenaikan biaya operasional.
Pendapatan hak siar dan komersial tetap menjadi kekuatan utama liga utama Inggris. Namun, kemampuan mengendalikan gaji, transfer, serta pengeluaran operasional akan menentukan apakah klub mampu mempertahankan stabilitas finansial di tengah persaingan yang semakin ketat.













