Headline.co.id, Demak ~ Kelebihan berat badan atau obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) pada perempuan. Meskipun demikian, obesitas bukanlah satu-satunya penyebab, sehingga tidak semua perempuan dengan berat badan berlebih pasti mengalami PCOS. Hal ini disampaikan oleh dr. Aina Fasnilda Putri, seorang dokter umum di PMB Zulfa Wedung Demak, dalam program GASPOL (Gali Seputar Kesehatan Reproduksi) yang disiarkan melalui Radio Suara Kota Wali (RSKW) 104,8 FM pada Kamis (30/7/2026).
Dr. Aina menjelaskan bahwa penumpukan lemak dalam tubuh dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi, terutama estrogen dan progesteron. Kondisi ini dapat menghambat proses ovulasi, memengaruhi kesuburan, dan menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur. “Penumpukan lemak dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa diagnosis PCOS tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan berat badan. Diagnosis harus melalui pemeriksaan medis dan mempertimbangkan sejumlah gejala. Beberapa tanda yang sering ditemukan pada penderita PCOS lain kelebihan berat badan, pertumbuhan rambut berlebih di beberapa bagian tubuh, serta munculnya jerawat akibat pengaruh hormon. “Diagnosis harus melalui pemeriksaan medis,” katanya.
Selain itu, dr. Aina menjelaskan bahwa siklus menstruasi normal umumnya berlangsung setiap 21 hingga 35 hari. Perubahan beberapa hari lebih cepat atau lebih lambat masih tergolong normal selama berada dalam rentang tersebut. “Siklus menstruasi normal berlangsung setiap 21 hingga 35 hari,” imbuhnya.
Ia juga mengingatkan bahwa faktor psikologis, seperti stres akibat ujian atau tekanan aktivitas, dapat memengaruhi keteraturan menstruasi, terutama pada remaja. Menanggapi anggapan bahwa menikah dapat membuat siklus menstruasi lebih teratur, dr. Aina menjelaskan hal itu dapat terjadi pada sebagian perempuan karena munculnya rasa nyaman, aman, dan bahagia yang memicu peningkatan hormon endorfin. Hormon tersebut dapat membantu menekan produksi prostaglandin yang menjadi penyebab nyeri menstruasi. Namun, efeknya tidak selalu sama pada setiap orang.
Pada kesempatan yang sama, praktisi kesehatan Sukardjo menjelaskan bahwa tidak menstruasi pada perempuan usia subur dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan hormonal, kondisi psikologis, hingga penggunaan alat kontrasepsi hormonal, seperti suntik KB. Menurutnya, suntik KB yang mengandung hormon progesteron dapat menyebabkan menstruasi berhenti untuk sementara dan kondisi tersebut masih tergolong normal selama dipengaruhi kontrasepsi hormonal.
Apabila remaja perempuan berusia sekitar 15 hingga 17 tahun belum pernah mengalami menstruasi sama sekali, ia menyarankan agar segera memeriksakan diri ke tenaga kesehatan. Kondisi tersebut dapat disebabkan gangguan hormonal maupun kelainan pada saluran reproduksi yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Sukardjo juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan menstruasi yang berlangsung terlalu lama atau disertai perdarahan berlebihan karena dapat meningkatkan risiko anemia akibat penurunan kadar hemoglobin. “Jangan abaikan menstruasi yang berlangsung terlalu lama,” tambahnya.
Pemerintah terus berupaya mencegah anemia pada remaja putri melalui program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) di sekolah. Oleh karena itu, ia berharap para orang tua mengingatkan anak-anaknya agar rutin mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran. (Mc.Demak/Eyv)














