Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Perubahan bentang alam kembali terjadi di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare muncul di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Selat Sunda. Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Suwarno menjelaskan daratan tersebut terbentuk dari akumulasi material vulkanik yang dikeluarkan selama aktivitas erupsi dan menumpuk secara bertahap. Kemunculan daratan itu menjadi bagian dari dinamika Krakatau yang terus berubah, tetapi belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan terbentuknya gunung api baru.
“Ya, hasil dari letusan kemarin itu. Kurang lebih 30,3 hektare,” kata Suwarno, Rabu (23/9/2026).
Daratan baru tersebut tidak terbentuk sekaligus. Material vulkanik yang keluar selama periode aktivitas Anak Krakatau terakumulasi sedikit demi sedikit hingga membentuk area daratan di kawasan sekitar gunung api.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Daratan 30,3 Hektare Terbentuk dari Material Erupsi
Menurut Suwarno, kemunculan daratan di sekitar Krakatau merupakan hasil penumpukan material yang dikeluarkan selama aktivitas erupsi. Proses itu berlangsung dalam suatu periode dan tidak terjadi hanya dalam satu kejadian.
Akumulasi material tersebut kemudian membentuk daratan sekitar 30,3 hektare di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Perubahan ini menambah gambaran mengenai bagaimana aktivitas vulkanik dapat mengubah morfologi kawasan Anak Krakatau secara bertahap.
Fenomena perubahan bentuk tubuh Anak Krakatau juga menjadi perhatian para peneliti. Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dini Nurfiani, menjelaskan Anak Krakatau merupakan sistem gunung api yang dinamis dan terus mengalami perubahan setelah keruntuhan besar pada 2018.
Penelitian yang melibatkan BRIN, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, University of Birmingham, ITB, Penn State University, British Geological Survey, serta University of Oxford masih berlangsung untuk memahami perkembangan gunung api tersebut.
Narasi Cucu Krakatau Belum Dapat Dipastikan
Kemunculan daratan baru kemudian memunculkan narasi yang menyebut area tersebut sebagai ‘cucu Krakatau’. Namun, Suwarno belum memastikan penyebutan itu dan menekankan bahwa terbentuknya endapan material erupsi tidak serta-merta berarti muncul gunung api baru.
Menurut dia, pergerakan magma di bawah permukaan bumi memiliki jalur yang tidak dapat diketahui hanya berdasarkan perubahan yang terlihat di permukaan.
“Ya, namanya magma gitu kan, dia mencari celah-celah yang lebih ringan akan keluar,” ujar Suwarno.
Pernyataan tersebut menegaskan perlunya membedakan perubahan bentang alam akibat penumpukan material vulkanik dengan proses pembentukan sistem gunung api baru. Dalam bahan yang tersedia, belum terdapat kepastian ilmiah bahwa daratan seluas 30,3 hektare itu merupakan gunung api baru.
Anak Krakatau Memasuki Fase Pertumbuhan Kembali
Perubahan di sekitar Krakatau sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan Anak Krakatau telah mengalami fase rekonstruksi dan pertumbuhan kembali setelah sebagian tubuh gunung runtuh pada 2018.
Dini menjelaskan sektor barat daya Anak Krakatau ketika itu runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik. Keruntuhan tersebut menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut dan menurunkan ketinggian puncak dari sekitar 330 meter menjadi 120 meter. Peristiwa tersebut juga memicu tsunami di Selat Sunda.
“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru,” kata Dini dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitasnya berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava.
Material yang dihasilkan dari rangkaian aktivitas tersebut kemudian membangun kerucut baru di dalam kawah pascakeruntuhan. Salah satu proses pertumbuhan terlihat pada pembentukan lava pada 2020 yang menumpuk di atas material hasil aktivitas setelah keruntuhan.
Status Krakatau Kini Level II Waspada
Di tengah perubahan morfologi tersebut, Badan Geologi telah menurunkan tingkat aktivitas Anak Krakatau dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada. Perubahan status berlaku sejak 21 September 2026 pukul 18.30 WIB setelah hasil evaluasi menunjukkan aktivitas kegempaan cenderung menurun hingga 20 September 2026 dan data deformasi menunjukkan penurunan atau deflasi.
Masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung diperbolehkan menjalankan aktivitas seperti biasa dengan tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan BPBD setempat. Badan Geologi juga mempertahankan larangan bagi masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki untuk memasuki atau beraktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.
Perubahan status tersebut tidak menghapus fakta bahwa morfologi Krakatau terus berkembang dari waktu ke waktu. Dini menekankan bahwa perilaku gunung api dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, material penyusun, dan kondisi lingkungannya.
“Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya,” tutur Dini Nurfiani.
Daratan baru seluas 30,3 hektare menjadi salah satu perubahan terbaru yang terlihat di sekitar Anak Krakatau. Namun, otoritas pemantauan belum memastikan narasi mengenai ‘cucu Krakatau’, sehingga perkembangan tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan hasil pemantauan dan kajian ilmiah.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















