Highlight Berita:
- BEM SI Jawa Tengah memberikan ultimatum 18 hari kepada pemerintah untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah.
- Mahasiswa mengancam akan menggelar aksi besar bertajuk Reformasi Jilid II apabila tuntutan penguatan rupiah tidak dipenuhi dalam tenggat waktu yang ditetapkan.
- Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah menerima aspirasi mahasiswa sebagai masukan dan terus bekerja keras menangani persoalan ekonomi.
- Pemerintah optimistis berbagai kebijakan yang dijalankan melalui koordinasi lintas sektor dapat membantu mengatasi tantangan ekonomi nasional.
- Prasetyo menegaskan bahwa perbaikan ekonomi tidak dapat selalu dicapai dalam batas waktu tertentu karena dipengaruhi banyak faktor.
- Menurut pemerintah, semangat yang dibawa mahasiswa dalam isu Reformasi Jilid II menjadi pengingat bagi semua pihak untuk terus bekerja keras memperkuat sektor ekonomi.
- Pemerintah juga menilai stabilitas ekonomi memerlukan koordinasi yang intens dan kebijakan yang saling memperkuat guna memberikan kepastian kepada pelaku usaha.
- Hingga saat ini, pemerintah menyatakan tetap terbuka terhadap berbagai aspirasi masyarakat sambil melanjutkan upaya menjaga kondisi perekonomian nasional.
Headline.co.id, Jakarta ~ Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi dinamika ekonomi yang terjadi. Berbagai kementerian dan lembaga disebut terus melakukan koordinasi untuk memastikan kebijakan yang diambil mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.
“Beberapa hari ini kan saudara saksikan bahwa kita juga betul-betul bekerja sama dan bekerja sangat keras untuk mengatasi masalah-masalah perekonomian kita,” kata Prasetyo kepada wartawan, Senin (8/6).
Ia menjelaskan bahwa kondisi ekonomi tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga berbagai faktor lain yang saling berkaitan. Karena itu, pemerintah terus memperkuat koordinasi dan sinkronisasi kebijakan agar mampu menciptakan kepastian bagi pelaku usaha serta menjaga stabilitas ekonomi.
“Dengan koordinasi yang erat, dengan koordinasi yang intens, dengan kebijakan yang saling memperkuat satu sama lain, juga yang hari ini memberi kepastian juga kepada para pelaku usaha, kami yakin kita akan dapat mengatasi permasalahan ini,” ujarnya.
Perbaikan Ekonomi Tidak Bisa Ditentukan Tenggat Waktu
Meski menghargai aspirasi mahasiswa, Prasetyo menilai tidak semua persoalan ekonomi dapat diselesaikan dalam batas waktu tertentu. Ia menegaskan bahwa upaya memperbaiki kondisi ekonomi memerlukan proses dan berbagai langkah yang berkelanjutan.
“Mohon maaf ya, apa namanya tidak semua atau tidak segala sesuatu itu bisa apa namanya dicapai dengan sebuah tenggat waktu yang, yang sudah ditetapkan. Tapi yakinlah bahwa yang dimaksud juga oleh adik-adik ini kan adalah apa namanya, semangatnya itu,” katanya.
Menurut dia, substansi dari tuntutan mahasiswa bukan semata soal batas waktu, melainkan dorongan agar seluruh pihak bekerja lebih keras dalam memperkuat sektor ekonomi nasional.
“Semangatnya untuk kita semua bagaimana untuk memang bekerja keras terutama di sektor ekonomi,” lanjut Prasetyo.
BEM SI Jateng Ancam Gelar Reformasi Jilid II
Sebelumnya, mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI Jawa Tengah menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah. Dalam aksi tersebut, mereka menyuarakan kekhawatiran terhadap pelemahan nilai tukar rupiah dan mendesak pemerintah segera mengambil langkah efektif untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Mahasiswa memberikan tenggat waktu selama 18 hari kepada pemerintah untuk menunjukkan hasil nyata dalam upaya penguatan rupiah. Apabila tuntutan tersebut tidak terpenuhi, mereka menyatakan akan menggelar aksi lanjutan yang diberi tajuk Reformasi Jilid II.
Hingga saat ini, pemerintah menyatakan tetap membuka ruang terhadap berbagai aspirasi masyarakat dan mahasiswa, sembari terus menjalankan langkah-langkah koordinatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan yang ada.





















