Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menekankan pentingnya membangun kecerdasan ekologis dan budaya sekolah aman sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi muda Indonesia. Ia menyatakan bahwa kecerdasan ekologis harus diwujudkan melalui kebiasaan memilih produk yang ramah lingkungan serta perilaku yang mendukung pelestarian alam. “Kita harus memiliki kecerdasan di dalam memilih produk-produk yang kita pakai dan menghindari pemakaian produk yang merusak lingkungan,” ujar Mendikdasmen pada Kamis (7/5/2026).
Menurut Abdul Mu’ti, gerakan budaya hidup aman, sehat, resik, dan indah yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto memiliki dimensi luas. Gerakan ini tidak hanya menyangkut kebijakan penyelamatan lingkungan, tetapi juga pembangunan budaya masyarakat. Ia menilai bahwa faktor budaya menjadi unsur penting dalam pendidikan karena pendidikan pada hakikatnya adalah proses membangun karakter dan budaya bangsa.
Dalam konteks tersebut, Mendikdasmen menegaskan bahwa budaya sekolah aman harus diwujudkan dengan menghapus segala bentuk perundungan di lingkungan pendidikan. Ia menyebut bahwa perundungan tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga verbal maupun sikap intoleran terhadap orang lain. “Membangun budaya yang aman adalah budaya di mana kita menghormati sesama,” tambahnya.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa sikap menghormati tidak cukup hanya dimaknai sebagai toleransi, melainkan harus melampaui toleransi dengan kepedulian terhadap kondisi orang lain. Ia mengingatkan bahwa toleransi yang dimaknai secara sempit dapat memunculkan sikap apatis dan ketidakpedulian terhadap kesulitan yang dialami sesama. Mendikdasmen juga menyinggung kecenderungan manusia yang bersifat individualistis atau selfish serta kecenderungan mementingkan kelompok tertentu atau groupish yang berpotensi mengabaikan kepentingan yang lebih luas.
Oleh karena itu, menurutnya, pembangunan budaya aman di sekolah maupun masyarakat memerlukan sikap terbuka, lapang dada, dan kemampuan menerima perbedaan. Ia menilai Bali sebagai contoh daerah yang mampu menjaga toleransi dan rasa aman bagi masyarakat maupun pendatang.
Selain sekolah aman, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya membangun sekolah sehat yang sejalan dengan program Kementerian Kesehatan. Ia menilai bahwa konsep sehat tidak hanya berkaitan dengan kesehatan jasmani, tetapi juga kesehatan rohani dan sosial. Mendikdasmen mengutip definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut sehat sebagai kondisi sehat secara fisik dan mental. Ia mengatakan bahwa masalah kesehatan mental kini menjadi tantangan besar masyarakat modern sehingga isu kesejahteraan atau well-being menjadi perhatian dunia.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mewujudkan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan mendukung kesehatan mental peserta didik.






















