Headline.co.id, Jakarta ~ Inflasi di Provinsi DKI Jakarta pada April 2026 tercatat sebesar 0,21 persen (mtm), mengalami penurunan signifikan dari 0,51 persen (mtm) pada bulan sebelumnya. Meskipun demikian, angka ini masih sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 0,13 persen (mtm). Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (6/5/2026), menyatakan bahwa penurunan ini sesuai dengan pola historis di mana tekanan harga cenderung mereda setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, seiring dengan normalisasi permintaan, khususnya pada komoditas pangan.
Iwan Setiawan menjelaskan bahwa meskipun ada penurunan, penyesuaian harga komoditas yang diatur pemerintah, terutama bahan bakar minyak (BBM), serta kenaikan biaya energi seperti avtur, turut menahan penurunan inflasi lebih lanjut. Secara tahunan, inflasi DKI Jakarta pada April 2026 tercatat sebesar 2,12 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,37 persen (yoy) dan juga lebih rendah dari inflasi nasional yang berada di angka 2,42 persen (yoy).
Faktor eksternal seperti eskalasi geopolitik Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah mendorong kenaikan harga minyak dan energi global. Hal ini berdampak pada kenaikan harga avtur yang kemudian mempengaruhi penyesuaian biaya tambahan bahan bakar pada tarif angkutan udara di awal April 2026. Selain itu, penyesuaian harga juga terjadi pada BBM nonsubsidi per 18 April 2026. Untuk meredam tekanan harga, pemerintah menetapkan insentif PPN Ditanggung Pemerintah atas tiket pesawat kelas ekonomi dalam negeri yang mulai berlaku pada 25 April 2026.
Lebih lanjut, Iwan menyebutkan bahwa penurunan tarif angkutan antarkota seiring normalisasi permintaan pasca-HBKN turut menahan tekanan inflasi lebih lanjut. Secara keseluruhan, dinamika ini mendorong inflasi kelompok transportasi sebesar 1,46 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,41 persen (mtm). Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran juga mencatat inflasi sebesar 0,88 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,23 persen (mtm), terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga ayam goreng akibat naiknya biaya bahan baku seperti minyak goreng, gas elpiji, dan kemasan plastik.
Namun, normalisasi permintaan bahan pangan pasca-HBKN Idulfitri berhasil menahan inflasi lebih lanjut dan mendorong deflasi pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Kelompok ini mencatat deflasi sebesar 0,36 persen (mtm), setelah inflasi 1,46 persen (mtm) pada bulan sebelumnya. Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas daging ayam ras, cabai rawit, dan telur ayam ras, didukung oleh pasokan yang terjaga dari sentra produksi.
Meski demikian, kenaikan harga beras di tingkat distributor serta kenaikan harga minyak sawit global masing-masing mendorong peningkatan harga beras dan minyak goreng. Tekanan pada kedua komoditas tersebut diperkuat oleh meningkatnya biaya kemasan plastik akibat gangguan rantai pasok global. Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat deflasi sebesar 0,66 persen (mtm), setelah inflasi 0,56 persen (mtm) pada bulan sebelumnya, terutama disebabkan oleh penurunan harga emas perhiasan yang sejalan dengan koreksi harga emas global.
Selama April 2026, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta terus memperkuat stabilisasi harga melalui pelaksanaan pasar murah dan program Pangan Bersubsidi, penguatan pasokan melalui kegiatan urban farming, serta kerja sama BUMD pangan dengan daerah surplus. Kelancaran distribusi juga dijaga melalui optimalisasi truk keliling BUMD. Selain itu, TPID memperkuat koordinasi untuk menjaga ketahanan pangan dan energi dalam menghadapi musim kemarau 2026. Upaya tersebut didukung melalui penjajakan kerja sama dengan sentra produksi di Jawa Tengah, khususnya untuk komoditas beras, cabai, dan bawang merah.
Ke depan, strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) terus diperkuat untuk memitigasi dampak risiko global, khususnya akibat konflik geopolitik terhadap harga energi dan nilai tukar, serta risiko domestik, termasuk potensi fenomena El Nino yang dapat memengaruhi pola musim dan kondisi cuaca. “Dengan sinergi TPID Provinsi DKI Jakarta yang semakin solid, inflasi DKI Jakarta diharapkan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen sepanjang 2026,” pungkas Iwan Setiawan.




















