Headline.co.id, Lumajang ~ Kabupaten Lumajang terus berupaya mewujudkan masyarakat inklusif melalui kolaborasi lintas sektor yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai bagian aktif dalam pembangunan. Hal ini disampaikan dalam Dialog Inklusi yang diadakan oleh Forum Lumajang Inklusi (FORMASI) melalui program Rubrik Jelajah Informasi dan Berita (JELITA) di LPPL Radio Suara Lumajang, Jawa Timur, pada Kamis (7/5/2026). Dialog ini mengangkat tema “Atensi Ketenagakerjaan, Usaha dan Infrastruktur Inklusif bagi Penyandang Disabilitas” dan melibatkan pemerintah, DPRD, dunia usaha, koperasi, serta organisasi disabilitas.
Koordinator FORMASI, Hadi Wasito, menekankan bahwa inklusi disabilitas harus lebih dari sekadar menyediakan fasilitas fisik. Menurutnya, penting untuk memastikan penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan berkontribusi dalam kehidupan sosial dan ekonomi. “Inklusi bukan hanya tentang memberi ruang, tetapi memastikan penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mandiri,” ujarnya.
Hadi menambahkan bahwa tantangan terbesar bagi penyandang disabilitas bukan hanya keterbatasan fisik, tetapi juga akses terhadap pendidikan, pelatihan keterampilan, dan kesempatan kerja. Oleh karena itu, pendekatan inklusi harus diarahkan pada pembangunan sistem yang membuka akses nyata, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia hingga kebijakan ketenagakerjaan yang lebih terbuka.
Staf Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lumajang, Mukhairi, menjelaskan bahwa pihaknya terus memperkuat kapasitas penyandang disabilitas melalui pelatihan, termasuk pelatihan digital marketing yang dilakukan secara swadaya. Ini bertujuan untuk memperluas peluang kerja berbasis keterampilan.
Erik, pelaku usaha sekaligus Owner Graono Group, menilai bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan dan etos kerja yang kompetitif jika diberikan kesempatan yang setara. “Kami melihat kemampuan kerja, ketekunan, dan semangat belajar. Banyak penyandang disabilitas yang justru memiliki loyalitas dan konsistensi kerja yang baik,” katanya.
Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Lumajang, Deddy Firmansyah, menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur inklusif penting untuk menciptakan aksesibilitas yang setara bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, fasilitas publik, transportasi, layanan usaha, dan ruang kerja harus dirancang agar dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa hambatan.
Imelda, Direktur BUMDes Tukum sekaligus Ketua Koperasi Semeru Tani, menyatakan kesiapan untuk membuka ruang kemitraan dan pelatihan usaha bersama penyandang disabilitas sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi berbasis kolaborasi. Ketua PPDI Lumajang, Dedi Mardiyanto, berharap dunia kerja semakin mengedepankan pendekatan berbasis kompetensi dan keterampilan agar penyandang disabilitas memiliki peluang yang lebih luas untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
Dialog inklusi ini menegaskan bahwa pembangunan berkualitas tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan berkembang. Melalui penguatan kolaborasi lintas sektor, Lumajang terus mendorong terciptanya ekosistem yang lebih inklusif, adaptif, dan berkeadilan, sehingga penyandang disabilitas dapat tumbuh sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah.





















