Headline.co.id, Pekanbaru ~ Mobilitas penduduk di Provinsi Riau menunjukkan dinamika yang semakin beragam antarwilayah. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, seluruh 12 kabupaten dan kota di Riau kini memiliki karakter berbeda sebagai daerah tujuan maupun asal migrasi. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Riau, Asep Riyadi, menjelaskan bahwa migrasi seumur hidup menjadi indikator utama untuk melihat pergerakan penduduk dalam jangka panjang.
“Migrasi seumur hidup didefinisikan sebagai perbedaan kabupaten/kota tempat tinggal saat survei dengan tempat lahir. Tempat tinggal mengacu pada tempat biasa menetap minimal satu tahun atau kurang dari satu tahun tetapi berniat menetap,” ujar Asep di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, pada Rabu (6/5/2026).
Berdasarkan data SUPAS 2025, Kabupaten Siak mencatat persentase migrasi masuk seumur hidup tertinggi sebesar 44,01 persen, disusul Kampar 43,66 persen dan Pekanbaru 42,02 persen. Pelalawan juga mencatat angka cukup tinggi sebesar 39,32 persen, diikuti Dumai 37,49 persen, Rokan Hulu 36,29 persen, serta Rokan Hilir 35,69 persen. Sementara itu, Indragiri Hulu mencatat 27,94 persen, Bengkalis 27,83 persen, dan Kuantan Singingi 21,51 persen.
Sebaliknya, Indragiri Hilir dan Kepulauan Meranti menjadi daerah dengan migrasi masuk seumur hidup terendah, masing-masing sebesar 9,80 persen dan 7,62 persen. Kepulauan Meranti juga mencatat migrasi keluar seumur hidup cukup tinggi mencapai 21,38 persen, diikuti Bengkalis 16,80 persen dan Indragiri Hilir 14,31 persen. Kondisi ini menunjukkan masih kuatnya arus perpindahan keluar dari wilayah tersebut.
Selain migrasi seumur hidup, BPS juga mencatat migrasi risen atau perpindahan penduduk dalam lima tahun terakhir yang memperlihatkan perubahan pola mobilitas cukup signifikan. “Kampar menjadi kabupaten dengan migrasi masuk risen tertinggi sebesar 9,44 persen dan migrasi keluar hanya 2,12 persen. Ini menunjukkan daya tarik Kampar yang semakin kuat,” jelas Asep.
Siak mencatat migrasi masuk risen sebesar 4,49 persen dan keluar 2,25 persen. Indragiri Hulu juga menunjukkan tren positif dengan migrasi masuk 3,59 persen dan keluar 2,30 persen. Sementara itu, Pekanbaru justru mengalami migrasi keluar risen tertinggi sebesar 12,69 persen, jauh melampaui migrasi masuk yang hanya 4,28 persen.
“Pekanbaru menjadi daerah dengan migrasi risen neto terendah, yaitu minus 8,41 persen. Artinya dalam lima tahun terakhir, jumlah penduduk yang keluar jauh lebih besar dibandingkan yang masuk,” ungkapnya. Fenomena daerah pelepas penduduk juga terlihat di Bengkalis, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hilir yang mencatat migrasi keluar lebih tinggi dibandingkan migrasi masuk.
Sebaliknya, Kampar mencatat migrasi risen neto tertinggi sebesar 7,33 persen, memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru sekaligus tujuan utama perpindahan penduduk di Provinsi Riau. Asep menilai perubahan pola migrasi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun arah pembangunan ke depan.
“Wilayah dengan arus masuk tinggi perlu menyiapkan infrastruktur dan layanan dasar, sementara daerah dengan arus keluar tinggi perlu memperkuat daya tarik ekonomi agar tidak terus kehilangan penduduk,” tutupnya.





















