Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengeluarkan peringatan terkait ancaman kemarau panjang di Kalimantan Barat pada tahun 2026. Kemarau ini diprediksi akan berlangsung lebih lama dari biasanya dan berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Kemarau panjang ini bisa menjadi ancaman serius bagi Kalimantan Barat,” ujar Menteri Hanif pada Jumat, 17 April 2026.
Puncak dari musim kemarau diperkirakan akan terjadi bulan Juli hingga September 2026. Curah hujan selama periode ini diprediksi menjadi salah satu yang terendah dalam tiga dekade terakhir. “Kita harus bersiap menghadapi curah hujan yang sangat rendah,” tambahnya.
Menteri Hanif menekankan pentingnya dukungan data lapangan dari pemerintah daerah untuk memperkuat langkah strategis nasional. Hal ini termasuk koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). “Kerja sama dengan BMKG dan BNPB sangat penting dalam situasi ini,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama dalam pengendalian karhutla. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan emisi dan mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. “Pencegahan adalah kunci dalam mengatasi karhutla,” kata Menteri Hanif.
Selain itu, Menteri Hanif mengingatkan seluruh daerah rawan kebakaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Tren peningkatan titik panas hingga awal April 2026 lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan Riau dan Kalimantan Barat menjadi wilayah paling rawan. “Kesiapsiagaan harus ditingkatkan di daerah-daerah rawan,” tegasnya.






















