Headline.co.id, Jakarta ~ Jakarta. Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menekankan pentingnya kampanye pencegahan merokok melalui pendidikan. Ia mengusulkan agar edukasi mengenai dampak merokok dimasukkan ke dalam kurikulum Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk mencegah adiksi dan masalah kesehatan di masa depan. “Pendidikan sejak dini mengenai bahaya merokok dapat membantu anak-anak menolak merokok ketika ditawarkan,” ujar Wamenkes pada Rabu (3/6/2026).
Wamenkes menjelaskan bahwa berdasarkan berbagai penelitian, kebiasaan merokok sering dimulai saat seseorang berada di bangku SMP atau SMA. Benny menambahkan bahwa usia sekitar 14 tahun adalah masa ketika individu mulai mencoba hal-hal baru, termasuk merokok. Dengan memberikan pemahaman sejak dini, diharapkan anak-anak dapat menolak merokok dan bahkan mengingatkan orang tua mereka untuk berhenti merokok.
Meskipun saat ini sudah tersedia terapi untuk menghentikan adiksi merokok, seperti Nicotine Replacement Therapy (NRT), Wamenkes menegaskan bahwa pencegahan tetap lebih baik daripada pengobatan. Ia juga menyoroti perlunya kolaborasi lintas sektor untuk mengurangi bahaya merokok di Indonesia. Selain pendidikan, perlu ada pengaturan tata ruang yang membatasi merokok di area terbuka.
Pemerintah telah meluncurkan berbagai program untuk memastikan kesehatan anak-anak, termasuk pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan rumah sakit tipe C di 66 kabupaten, Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta upaya eliminasi tuberkulosis. “Kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk menyelamatkan generasi mendatang dari bahaya merokok,” tambah Wamenkes.























