Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi meluncurkan Program Bug Bounty 2026. Program ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan siber di sektor pendidikan nasional. Memasuki tahun kelima pelaksanaannya, program ini mengusung tema “Build Cyber Resilience” dan menjadi bagian dari upaya sistematis untuk menjaga keamanan ekosistem digital pendidikan.
Melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin), Kemendikdasmen mendorong para pelaku pendidikan untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga berperan aktif dalam mendeteksi dan mengatasi potensi celah keamanan informasi. Kepala Pusdatin, Wibowo Mukti, menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai ruang aman (sandbox) bagi peserta untuk menguji kemampuan keamanan siber tanpa mengganggu layanan sistem yang berjalan. “Program Bug Bounty menjadi jembatan untuk menyalurkan minat di bidang keamanan siber menjadi prestasi yang membanggakan,” ujar Wibowo dalam keterangan tertulis yang diterima , Rabu (8/4/2026).
Program ini merupakan implementasi dari Peraturan Sekretaris Jenderal Nomor 11 Tahun 2022 tentang Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI) dalam kerangka Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Langkah ini juga memperkuat tata kelola keamanan digital di lingkungan pendidikan. Bug Bounty 2026 terbuka bagi empat kategori peserta, yaitu siswa SMA/SMK/MA (minimal usia 17 tahun), mahasiswa, guru, dan dosen. Pendaftaran berlangsung pada 6–30 April 2026 melalui platform Aman Bersama, dilanjutkan dengan tahap pengujian pada 1–22 Mei 2026.
Proses penilaian dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama menitikberatkan pada aspek teknis dengan bobot 70 persen berdasarkan standar CVSS v3.1, serta kualitas pelaporan sebesar 30 persen. Selanjutnya, lima finalis dari tiap kategori akan mengikuti tahap wawancara dengan penilaian pada aspek teknik, komunikasi, dan orisinalitas. Rangkaian kegiatan akan ditutup melalui Anugerah Bug Bounty 2026 pada 19 Juni 2026.
Wibowo menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks. Ia menyoroti tren peningkatan serangan ransomware dan phishing berbasis kecerdasan artifisial sepanjang 2025 yang menjadi tantangan serius bagi keamanan sistem digital. Sebagai bentuk apresiasi, para pemenang akan memperoleh uang pembinaan, sertifikat yang tercatat di Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), serta kesempatan bergabung dalam komunitas Manggala Edu.
Melalui program ini, Kemendikdasmen berharap dapat melahirkan talenta-talenta siber dari lingkungan pendidikan yang mampu memperkuat sistem keamanan digital nasional sekaligus mendukung transformasi pendidikan berbasis teknologi yang aman dan berkelanjutan.





















