Headline.co.id, Malang ~ Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali meraih prestasi gemilang dalam pemeringkatan QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026. Dalam bidang Theology, Divinity and Religious Studies, UGM berhasil mencapai peringkat 45 dunia, meningkat dari posisi sebelumnya yang berada di rentang 51–100 dunia. Prestasi ini menjadikan UGM sebagai universitas nomor satu di Indonesia dalam bidang tersebut, diikuti oleh Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Universitas Muhammadiyah Malang yang berada di posisi 101-150 dunia.
Pencapaian UGM ini menunjukkan keberhasilan pengelolaan program studi di bidang Theology, Divinity and Religious Studies dalam mempertahankan dan meningkatkan kualitas akademik serta reputasi globalnya di tengah persaingan yang semakin ketat. Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN.Eng., menyatakan rasa syukurnya atas prestasi ini. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini memberikan dorongan untuk terus meningkatkan kualitas ke depan dan memperkuat kepercayaan terhadap UGM sebagai universitas berkelas dunia. “Saya kira capaian ini merupakan hal yang menggembirakan dan memberikan semangat agar kita bisa lebih baik ke depannya, sekaligus menambah kepercayaan diri kita bahwa UGM berkelas dunia,” ujarnya pada Rabu (8/4).
Menurut Prof. Siti, pendekatan interdisipliner yang menjadi ciri khas Sekolah Pascasarjana UGM turut memperkuat daya saing dalam pemeringkatan global. Program studi diselenggarakan lintas disiplin dengan melibatkan dosen dari berbagai fakultas serta jejaring mitra nasional dan internasional. Kontribusi terhadap bidang Theology, Divinity and Religious Studies lain berasal dari Program Studi Magister Agama dan Lintas Budaya (ALB), Doktor Inter-Religious Studies (IRS), serta Doktor Perekonomian Islam dan Industri Halal. Ketiga program studi ini menjadi kekuatan utama dalam meningkatkan reputasi akademik di tingkat global. “Sekolah Pascasarjana menyelenggarakan program studi lintas disiplin dengan dosen bereputasi dari berbagai bidang ilmu serta berkolaborasi dengan mitra dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ungkapnya.
Pendekatan interdisipliner ini juga memperkuat capaian indikator dalam pemeringkatan QS WUR by Subject. Dibandingkan tahun sebelumnya, indikator berbasis riset menunjukkan peningkatan signifikan, dengan nilai sitasi per makalah naik dari 82 menjadi 83,3 dan H-Indeks meningkat dari 51 menjadi 77,5. Selain itu, pada indikator reputasi akademik tercatat skor 67,6 dan reputasi lulusan mencapai skor 66,9. “Peningkatan ini menunjukkan bahwa tidak hanya produktivitas riset yang menguat, tetapi juga pengakuan internasional terhadap kualitas institusi dan program studi semakin meningkat,” tuturnya.
Kepala Prodi IRS UGM, Drs. Agus Wahyudi, M.Si., M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa peningkatan peringkat ini didorong oleh kombinasi penguatan indikator reputasi akademik dan produktivitas riset. Ia menjelaskan bahwa Program Studi Inter Religious Studies (IRS) UGM merupakan salah satu pusat studi unggulan dalam kajian lintas agama di kawasan Global South. Keunggulan ini didukung oleh pendekatan dialogis dan kontekstual, serta relevansi kajian terhadap isu global seperti polarisasi politik, kebebasan beragama, inklusi digital, dan isu lingkungan.
Pada indikator sitasi per makalah, banyak publikasi yang dihasilkan melalui jurnal oleh riset-riset dosen IRS yang bereputasi dan telah dikutip secara luas, terutama pada tema yang bersinggungan dengan isu global seperti agama, demokrasi, dan perdamaian. “Sehingga program studi IRS UGM tidak hanya dikenal saja, tetapi juga dirujuk oleh kalangan luas. Hal ini merupakan kombinasi yang menjadi kunci lonjakan peringkat dari tahun sebelumnya,” tuturnya.
Peningkatan prestasi ini tidak terjadi secara kebetulan. Keberhasilan ini merupakan hasil dari strategi yang terarah dengan fokus pada publikasi di jurnal bereputasi internasional seperti Scopus, khususnya pada kuartil Q1 dan Q2, dengan tema-tema relevan seperti pluralisme, konflik agama, dan keadilan sosial. Upaya ini juga didukung oleh kolaborasi riset internasional lintas negara yang memperluas visibilitas sekaligus mempercepat peningkatan sitasi global. Selain itu, penguatan kultur riset berbasis isu-isu strategis turut mendorong kontribusi keilmuan yang lebih signifikan dalam diskursus global. “Fokus IRS tidak hanya sekadar menambah jumlah publikasi, tetapi juga meningkatkan ‘daya kutip’ pengetahuan, dari lokal menjadi referensi global,” ujarnya.
Tidak hanya berfokus pada pencapaian peringkat, Drs. Agus Wahyudi menuturkan bahwa fokus IRS UGM ke depannya diharapkan dapat memperkuat dampak keilmuan. Upaya ini dilakukan melalui pendalaman kontribusi ilmiah pada isu-isu global seperti perdamaian, keberagaman, dan keadilan sosial, peningkatan kualitas publikasi bereputasi internasional, serta perluasan jejaring akademik lintas negara. Ia berharap Prodi IRS UGM dapat menembus Top 30 dunia dalam beberapa tahun ke depan, dengan capaian tersebut diposisikan sebagai hasil dari penguatan dampak keilmuan. “IRS tidak mengejar peringkat semata, tetapi relevansi, baik di tingkat domestik maupun global. Dari situlah peringkat akan mengikuti,” ujarnya.























