Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah Indonesia telah memastikan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan hingga Hari Raya Idulfitri 2026. Keputusan ini diambil meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan tajam, menembus angka USD100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa meskipun ada lonjakan harga minyak global yang dipicu oleh ketegangan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, hal ini belum akan berdampak pada harga BBM bersubsidi di dalam negeri dalam waktu dekat. “Kami berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi demi kepentingan masyarakat,” ujar Bahlil dalam keterangan resminya pada Senin (9/3/2026).
Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menghadapi lonjakan harga minyak dunia. Namun, ia menekankan bahwa tantangan utama saat ini bukanlah ketersediaan pasokan energi, melainkan tekanan harga global. “Keandalan pasokan BBM nasional tetap terjaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadan hingga Idulfitri 2026,” katanya.
Pemerintah juga membuka peluang untuk melakukan koordinasi lintas kementerian guna merespons lonjakan harga minyak yang kini telah jauh melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Asumsi Indonesian Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah Indonesia dalam APBN 2026 dipatok pada angka USD70 per barel.
Lonjakan harga minyak global ini terjadi seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak tercatat melonjak sekitar 25 persen dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022. Pada Senin (9/3/2026) pukul 11.30 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 tercatat mencapai USD119,50 per barel, sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 naik ke level USD119,48 per barel.
Kenaikan harga ini membuat harga minyak dunia jauh melampaui asumsi ICP dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar USD70 per barel. Pemerintah terus memantau situasi dan berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global.























