Headline.co.id, Jakarta ~ PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan bahwa distribusi batu bara melalui kereta api tetap berjalan optimal untuk menjaga pasokan energi nasional, terutama dalam mendukung operasional pembangkit listrik di Jawa dan Bali menjelang periode Angkutan Lebaran 2026. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, KAI mencatat volume angkutan batu bara mencapai 6.427.465 ton. Distribusi ini merupakan bagian penting dari rantai pasok energi nasional untuk memastikan ketersediaan listrik bagi rumah tangga, layanan kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI, dalam keterangan pers pada Jumat (6/2/2026) menjelaskan bahwa distribusi batu bara melalui kereta api memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan pasokan energi, terutama bagi pembangkit listrik yang memasok kebutuhan masyarakat. “Energi listrik yang dihasilkan dari batu bara digunakan untuk menyalakan berbagai fasilitas penting seperti rumah sakit, peralatan medis, pusat data, sekolah, serta aktivitas industri dan perdagangan yang menopang kehidupan masyarakat sehari-hari,” ujar Anne.
Salah satu layanan utama dalam distribusi batu bara ini adalah Kereta Api Batu Bara Rangkaian Panjang (Babaranjang) atau Baratarahan yang beroperasi di wilayah Divre III Palembang hingga Divre IV Tanjungkarang, Lampung. Kereta ini dirancang untuk mengangkut batu bara dalam volume besar dengan rangkaian panjang hingga 61 gerbong yang ditarik oleh lokomotif CC205. Dengan konfigurasi tersebut, Babaranjang menjadi salah satu rangkaian kereta barang terpanjang di Indonesia sekaligus menjadi tulang punggung distribusi batu bara dari wilayah tambang di Sumatra menuju pelabuhan dan pusat distribusi energi.
Distribusi batu bara ini juga berkaitan erat dengan kebutuhan energi masyarakat di Pulau Jawa dan Bali. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, jumlah penduduk di wilayah tersebut mencapai sekitar 162 juta jiwa, atau lebih dari separuh populasi Indonesia. Kawasan Jawa dan Bali merupakan pusat aktivitas ekonomi nasional dengan mobilitas dan kebutuhan energi listrik yang sangat tinggi untuk mendukung berbagai kegiatan masyarakat. “Dalam kehidupan sehari-hari, listrik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas masyarakat. Lampu yang menerangi rumah saat malam hari, peralatan medis yang menopang layanan kesehatan, sistem transportasi, jaringan komunikasi digital, hingga proses belajar mengajar di sekolah dan kampus seluruhnya membutuhkan energi yang terjaga pasokannya,” jelas Anne.
Momentum distribusi energi ini juga semakin penting menjelang masa Angkutan Lebaran, ketika mobilitas masyarakat meningkat dan aktivitas ekonomi tumbuh lebih dinamis. Ketersediaan listrik yang stabil sangat dibutuhkan untuk mendukung operasional berbagai layanan publik, mulai dari transportasi, fasilitas kesehatan, pusat perbelanjaan, hingga sektor pariwisata yang biasanya mengalami peningkatan aktivitas selama periode libur Lebaran.
Anne menambahkan bahwa pengangkutan batu bara melalui kereta api memiliki sejumlah keunggulan, lain kapasitas angkut yang besar, efisiensi logistik, serta keandalan waktu tempuh. “Sistem angkutan berbasis rel memungkinkan distribusi energi dalam jumlah besar secara konsisten sehingga dapat mendukung kebutuhan pembangkit listrik secara berkelanjutan,” tambahnya.
Ke depan, KAI juga menyiapkan penguatan kapasitas angkutan barang untuk mendukung ketahanan logistik energi nasional. Perusahaan menargetkan pertumbuhan volume angkutan barang sebesar 15 persen pada tahun 2029, yang mencakup proyeksi 111,2 juta ton batu bara serta 10,9 juta ton komoditas nonbatu bara. Pengembangan infrastruktur logistik turut dilakukan untuk meningkatkan kapasitas distribusi. Terminal Tarahan II di Sumatra Selatan diproyeksikan mampu menambah kapasitas angkutan hingga 18 juta ton batu bara, sementara perluasan fasilitas Kertapati diperkirakan menambah kapasitas sekitar 7 juta ton. “Distribusi batu bara melalui kereta api berperan penting dalam menjaga pasokan energi nasional. Ketika listrik tetap menyala, rumah sakit dapat beroperasi, kegiatan belajar mengajar berjalan, industri bergerak, dan masyarakat dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang. Melalui penguatan angkutan barang, KAI terus mendukung kelancaran distribusi energi,” tutup Anne.






















