Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah Indonesia mengumumkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk semester II tahun 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Stimulus ini mencakup insentif perpajakan, diskon transportasi, bantuan pangan, subsidi bahan baku industri, serta perluasan program magang dan pelatihan vokasi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah terus memantau situasi geopolitik dunia, terutama di kawasan Timur Tengah, yang dapat mempengaruhi perekonomian nasional. “Pemerintah mengambil langkah antisipatif melalui berbagai stimulus ekonomi,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Insentif Transportasi dan Bantuan Pangan
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, mengungkapkan bahwa pemerintah memberikan diskon transportasi selama libur sekolah dan Natal-Tahun Baru (Nataru). Diskon 30 persen diberikan untuk tiket kereta api dan tarif dasar kapal Pelni, sementara tarif jasa kepelabuhanan ASDP dibebaskan. Program ini menargetkan sekitar 3 juta penumpang dengan anggaran Rp190,5 miliar.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah melanjutkan program bantuan pangan selama tiga bulan, dari Juli hingga September 2026, dengan anggaran Rp17,54 triliun untuk 33,24 juta penerima. Subsidi Rp2.000 per kilogram juga disiapkan untuk stabilisasi harga kedelai bagi perajin tahu dan tempe.
Program Magang dan Pelatihan Vokasi
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyatakan bahwa pemerintah memperluas Program Magang Nasional dengan target 150 ribu peserta dan 220 ribu peserta pelatihan vokasi. Program ini juga menyasar sekitar 50 ribu pekerja yang terkena PHK. Evaluasi menunjukkan 84 persen peserta puas dengan program magang, dan 30 persen di antaranya mendapatkan tawaran pekerjaan.
Dukungan untuk Industri
Di sektor industri, pemerintah menetapkan bea masuk nol persen untuk impor LPG bagi industri petrokimia dan suku cadang pesawat. Kebijakan ini diharapkan menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing industri. Nilai manfaat kebijakan impor LPG diperkirakan mencapai Rp2,25 triliun.
Secara keseluruhan, alokasi stimulus terdiri dari Rp18,04 triliun untuk bantuan pangan, Rp6,26 triliun untuk program magang dan vokasi, serta Rp2,04 triliun untuk insentif transportasi. Pemerintah berharap kebijakan ini dapat menjaga konsumsi rumah tangga dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.























