Headline.co.id, Jogja ~ Kultum Ramadhan yang digelar di Masjid Darul Muttaqin Universitas Alma Ata menghadirkan dosen Pendidikan Agama Islam, K. Misroh Ahmadi, M.Pd.I, sebagai penceramah dengan moderator Ruwet Rusiyono, S.Pd., M.Pd., dosen PGSD UAA pada Rabu (25/2/2026). Kegiatan tersebut membahas pentingnya ibadah sebagai visi utama kehidupan seorang muslim, khususnya dalam momentum Ramadhan. Kultum disampaikan sebagai upaya menguatkan pemahaman spiritual sivitas akademika agar mampu memanfaatkan Ramadhan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Melalui pendekatan reflektif dan keilmuan, materi kultum menekankan bahwa ibadah dapat dimulai dari hal paling sederhana selama dilandasi niat yang benar.
Dalam ceramahnya, Misroh Ahmadi menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan waktu istimewa bagi seorang mukmin untuk mengasah dimensi jiwa, raga, dan rasa agar semakin dekat kepada Allah SWT. Ia menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan tujuan utama beribadah sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zariyat ayat 56.
“Sebagai bentuk keimanan seseorang dan pemaknaan terhadap ayat tersebut, manusia diciptakan tiada lain untuk beribadah,” ujar Misroh Ahmadi dalam kultum.
Ia juga mengaitkan pesan spiritual tersebut dengan filosofi Jawa purwoning wasesa, yakni kesadaran untuk selalu ingat asal-usul manusia dari Tuhan (eling) dan waspada terhadap godaan duniawi serta hawa nafsu (waspoda). Nilai tersebut dinilai selaras dengan ajaran Islam yang menempatkan ibadah sebagai landasan kehidupan.
Lebih lanjut, Misroh Ahmadi menyoroti puasa sebagai salah satu ibadah penting yang memiliki manfaat spiritual dan moral. Menurutnya, puasa merupakan “junnatun” atau tameng bagi orang bertakwa untuk menjaga diri serta menjadikan ibadah sebagai visi hidup dalam meraih ridho Allah SWT.
“Terlebih di bulan Ramadhan ini haruslah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mengasah kualitas ibadah,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. dr. H. Hamam Hadi, MS., Sc.D., Sp.GK.menambahkan bahwa pesan kultum tersebut menegaskan kemudahan dalam beribadah. Ia menjelaskan bahwa setiap aktivitas dapat bernilai ibadah apabila diawali dengan niat yang benar dan doa.
“Apa yang disampaikan Pak Misroh menegaskan bahwa ibadah adalah amalan yang mudah. Setiap hal terkecil dapat bernilai ibadah jika diniatkan ibadah dan diawali dengan doa,” ujar Prof. Hamam Hadi.
Menurutnya, perbedaan nilai amal seseorang terletak pada niat serta kesungguhan dalam beramal saleh. Refleksi Ramadhan juga dipandang sebagai momentum untuk mengintegrasikan nilai keilmuan dengan praktik spiritual melalui doa dan berbagai amal kebaikan.
Kultum tersebut menegaskan bahwa setiap amal, sekecil apa pun, akan bernilai ibadah apabila dilandasi niat menggapai ridho Allah SWT. Pesan ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran spiritual sivitas akademika Universitas Alma Ata dalam memanfaatkan Ramadhan sebagai sarana peningkatan kualitas diri secara menyeluruh.




















