Headline.co.id, Jogja ~ Universitas Alma Ata menggelar ceramah agama Ba’da Dhuhur pada hari keenam Ramadhan di Masjid Darul Muttaqin kampus setempat. Ceramah disampaikan oleh Ny. Hj. Dra. Ida Rufaida Ali, pengasuh Pesantren Yayasan Ali Maksum Krapyak, yang mengajak sivitas akademika menjadi pribadi muslim terbaik melalui ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Ramadhan kampus yang bertujuan memperkuat nilai spiritual dan karakter. Dalam ceramahnya, Ida menekankan pentingnya ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT sebagai landasan pembentukan pribadi unggul.
Universitas Alma Ata menyemarakkan bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan religius dan edukatif, salah satunya ceramah rutin Ba’da Dhuhur yang diikuti sivitas akademika. Kehadiran Nyai Ida Rufaida Ali memberikan penguatan spiritual sekaligus refleksi nilai keislaman yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam tausiyahnya, Ida menegaskan bahwa ciri utama muslim terbaik adalah ketakwaan yang tercermin melalui ibadah dan amal kebaikan yang dilandasi keikhlasan. Ia mengutip pesan, “كُنْ عِنْدَ اللهِ خَيْرُ النَّاسِ, jadilah manusia paling baik di sisi Allah,” sebagai pengingat bahwa kualitas ibadah tidak diukur dari penilaian manusia, melainkan dari niat tulus mengharap ridho Allah SWT.
“Ibadah haruslah karena Allah semata, ikhlas mengharap ridho-Nya. Jangan sampai ibadah dilakukan karena ingin terlihat oleh manusia sehingga menjauh dari keikhlasan,” ujar Ida dalam ceramahnya.
Ia menjelaskan bahwa keikhlasan merupakan fondasi yang membentuk pribadi terbaik di sisi Allah SWT. Selain itu, Ida menyebut salah satu karakter muttaqin adalah kesediaan bersedekah secara ikhlas, terutama di bulan Ramadhan yang menjadi momentum pendidikan spiritual dan pembiasaan beramal.
Ida juga mengajak jamaah menjadi pribadi yang memberi manfaat bagi sesama. Pesan tersebut disampaikan melalui kutipan, “وَكُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلًا مِنْ النَّاسِ, jadilah kalian di hadapan manusia sebagai bagian dari manusia itu sendiri,” yang menekankan pentingnya hidup sederhana, bergaul, dan bermuamalah dengan baik.
Menurutnya, manusia terbaik adalah mereka yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Karena itu, Ramadhan harus dimanfaatkan sebagai waktu yang berkesan untuk melatih kepedulian sosial dan memperbanyak amal kebaikan.
Selain mendorong kepedulian sosial, Ida juga mengingatkan pentingnya introspeksi diri sebagai upaya menjaga ketulusan hati. Ia mengutip pesan, “كُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرُّ النَّاسِ, jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu,” sebagai dorongan untuk tidak berhenti melakukan evaluasi diri.
“Introspeksi diri penting agar kita tidak mudah merasa paling baik, sehingga mampu menerima kritik dan berinteraksi dengan orang lain tanpa menyimpan rasa sakit hati,” jelasnya.
Melalui ceramah tersebut, sivitas akademika Universitas Alma Ata diharapkan mampu menjadikan Ramadhan sebagai momentum pembentukan karakter spiritual, memperkuat keikhlasan, serta meningkatkan kepedulian sosial sebagai wujud ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.























