Headline.co.id, Tim Peneliti Dari Fakultas Kedokteran ~ Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, yang tergabung dalam studi Adapting School-Based Asthma Programme: A Multicountry (AdAPT), melaksanakan skrining risiko asma berbasis sekolah di Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan anak usia sekolah dengan menjaring siswa yang memiliki gejala atau risiko asma. Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes., anggota tim peneliti, menyatakan bahwa siswa yang teridentifikasi akan menjalani pemeriksaan spirometri untuk menilai kondisi pernapasan mereka secara objektif. Selain itu, dilakukan juga Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan siswa berisiko asma, orang tua, guru, serta perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan. “FGD ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan lokal, hambatan, dan potensi dukungan dalam implementasi program asma berbasis sekolah, sehingga intervensi yang dirancang sesuai dengan konteks lokal serta dapat diterapkan secara efektif dan berkelanjutan,” jelas Supriyati, Kamis (12/2).
Program intervensi ini akan berlangsung selama tiga bulan dengan pemantauan kondisi asma siswa secara berkala. Harapannya, program ini dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan siswa, guru, serta orang tua dalam mengelola asma, sehingga tercipta lingkungan sekolah yang lebih aman dan mendukung bagi anak-anak dengan asma. Sebelum intervensi dimulai, skrining telah dilakukan terhadap siswa dari empat SMP di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu SMP Negeri 6, SMP Negeri 7, SMP Negeri 12, dan SMP Negeri 14 Yogyakarta. Intervensi Program Asma di Sekolah dilaksanakan di Aula SMP Negeri 6 Yogyakarta, diikuti oleh 30 siswa yang teridentifikasi berisiko asma dan 19 guru pendamping. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan materi tentang pengenalan asma, faktor pencetus, pencegahan, serta tatalaksana asma. Materi disampaikan oleh dr. Dwikisworo Setyowireni, Sp.A(K), yang juga dikenal sebagai Reni, istri Walikota Yogyakarta, dan dr. Rina Triasih, M.Med(Paed), Ph.D, Sp.A(K).
Reni menyatakan bahwa melalui sosialisasi ini, peserta pelatihan yang semakin paham tentang asma dan pengendaliannya diharapkan dapat menyebarkan pengetahuan yang telah diperoleh, baik secara langsung maupun melalui media sosial. “Mari dukung anak sekolah dengan asma agar tetap dapat beraktivitas dan produktif,” ujarnya. Sementara itu, Rina Triasih menekankan pentingnya dukungan sosial di lingkungan sekolah agar anak-anak dengan asma dapat beraktivitas secara normal.
Penelitian multicenter ini melibatkan beberapa negara dengan fokus pada pengembangan dan adaptasi program pengelolaan asma berbasis sekolah sesuai dengan kondisi lokal. Di Indonesia, penelitian ini dilaksanakan oleh Universitas Padjadjaran Bandung bekerja sama dengan FK-KMK UGM Yogyakarta, serta didukung oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.
















